Wednesday, June 19, 2013

Pasar Pria


Majalah MALE sudah menembus 10 juta downloaders, setelah 30-an edisi. Tapi tetap saja ada yang mempertanyakan, masih menarikkah pasar pria?

Memang, pengunjung pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar masih didominasi wanita, misalnya. Tapi bukan berarti para pria tidak melakukan gaya hidup yang serupa.

Di tengah bertumbuhnya kelas menengah, makin banyak pria yang peduli dengan penampilan – mereka bahkan berani mengeluarkan biaya tinggi demi memenuhi kebutuhan tersebut. Gejala ini secara global sudah teramati sedikitnya sejak dua dekade yang lalu. Tahun 1994, penulis Inggris, Mark Simpson, menyebut mereka sebagai kaum metroseksual.

Kaum metroseksual tumbuh di kota-kota besar. Mereka pada umumnya adalah kalangan pekerja kelas menengah-atas dan termasuk kategori A dalam strata sosial ekonomi. Menurut Hermawan Kartajaya, dalam bukunya Metrosexual in Venus (2004), mereka adalah pasar yang potensial, karena gemar berbelanja dan dapat mempengaruhi ribuan pria lainnya yang ingin tampil menawan namun tidak tahu bagaimana caranya.

Menurut penelitian MarkPlus & Co, pria metroseksual adalah proactive consumers atau prosumer, tertarik kepada hal-hal yang otentik dan cenderung mencoba hal-hal baru. Mereka juga membantu menciptakan word of mouth dan memiliki kemampuan untuk membuat orang lain tertarik mencoba produk yang mereka gunakan.

Analisis yang lebih baru dikemukakan oleh  Maya Carolina Watono, Managing Director Dwi Sapta Group, dalam majalah MIX, awal Mei 2013. Menurut Maya, di tengah bertumbuhnya kelas menengah, ternyata segmen pria terhitung cukup seksi untuk digarap.

Saat ini kelas menengah menjadi pasar yang sangat menggiurkan di Indonesia, karena memang tumbuh secara signifikan. Tahun 2012, GDP Indonesia mencapai 6,5%, sama dengan pertumbuhan ekonomi di Asia Pasifik. Kontribusi tertinggi adalah domestic consumption, sekitar 54,6%. Sisanya, 32% investasi, 9% government expenditure, dan 1,4% net export.

Yang menarik, menurut data Nielsen, fast moving consumer goods menjadi kategori paling seksi – terutama produk-produk toiletris dan kosmetik, food & beverages.

Produsen atau pemasar yang jeli yang hendak menyasar pria adalah yang tahu habit pria.  Menurut Maya, yang juga penulis buku IMC That Sells (2011), pria sudah saat ini sangat peduli dengan penampilan. Tidak mengherankan banyak produk seperti sabun, sampo, hingga pembersih wajah, meluncurkan varian khusus pria. Selain untuk urusan penampilan, mereka pun rela merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan hobi mereka, mulai dari perawatan sepeda hingga modifikasi kendaraan bermotor. Sementara itu, social life mereka pun lebih condong ke teknologi, antara lain lewat laptop, ponsel, smartphone, tablet, dan lain-lain.

Jadi, setelah konsumen (media) ramai-ramai beralih ke platform digital – yang sudah diperkuat dengan data, kini giliran produsen  yang seharusnya menggarap lebih serius pasar pria di platform yang sama pula.

(Sumber: MALE http://male.detik.dom)