Wednesday, July 31, 2013

Potensi Iklan Digital



PERTUMBUHAN media digital makin mengesankan. Setelah mayoritas pembaca media cetak beralih ke online dan digital, kini giliran kue iklannya di sektor ini yang mulai membesar.

Sejumlah analis menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan dan agen-agen periklanan mulai banyak yang melirik ke media digital. Bahkan perusahaan komunikasi global ZenithOptimedia, memaparkan bahwa pertumbuhan global untuk iklan di media internet dalam kurun waktu 2012-2015 diprediksi akan melaju paling signifikan.

Dengan kontribusi lebih dari US$ 46 juta tahun ini, media internet telah menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan belanja iklan global, melesat di atas pertumbuhan iklan televisi (US$ 25,2 juta), koran (US$ 6,4 juta), media luar-ruang (US$ 5,5 juta), majalah (US$ 3 juta), dan radio (US$ 2,6 juta).

Bagaimana dengan Indonesia? Belum ada angka khusus untuk iklan di media internet dalam riset tersebut, tapi secara umum Indonesia potensi periklanannya akan bertumbuh secara signifikan. Kontribusi pertumbuhan belanja iklan Indonesia pada kurun waktu 2012 hingga 2015 diprediksi menduduki peringkat keempat di dunia atau sekitar US$ 4,1 juta – di bawah AS (US$ 21,1 juta), Tiongkok (US$ 13 juta),  Argentina (US$ 4,8 juta), dan Rusia (US$3 ,28 juta).

Yang jelas, menurut praktisi komunikasi Indira Abidin, Manager Direktur Fortune PR, sektor digital sudah mulai mendapat perhatian penting, bahkan pertumbuhan iklannya masih akan terus meroket hingga 2015 mendatang.

Ini bisa dipahami, mengiklan di internet jauh lebih akurat, karena dapat melacak kebiasaan para pengguna internet. Sementara para pengiklan mengakui, media digital sangat efektif untuk membangun brand dan mempengaruhi konsumen dalam pembelian produk.

Indira juga memperkirakan, mobile advertising, iklan internet yang dikirim ke smartphone dan tablet, akan tumbuh lima kali lipat lebih cepat dibandingkan iklan internet melalui desktop/laptop. "Kami memperkirakan iklan mobile akan tumbuh 67 persen pada 2013, dan tumbuh rata-rata 51 persen pada 2012-2015," tukasnya.

Lonjakan iklan mobile ini didorong oleh meningkatnya penjualan smartphone dan tablet. Pengeluaran global untuk iklan mobile mencapai US$ 8,6 miliar pada 2012 atau sekitar 9,8 persen dari total belanja iklan internet dan 1,8 persen belanja iklan semua media.

Pada 2015, diperkirakan belanja iklan di ponsel dan tablet  mencapai US$ 29,4 miliar atau menjadi 21,9 persen belanja iklan internet dan 6,1 persen total belanja iklan. "Sebaliknya, kami memperkirakan iklan internet desktop hanya tumbuh 10 persen per tahun," ujar peraih Certificate of Excellence untuk kategori Social Education & Philanthropy: Corporate Social Responsibility (CSR) Campaign of the Year itu.

Yup! Berbagai riset menyebutkan, investasi digital, tidak bisa tidak, harus dikuasai, digali dan dikembangkan. Sebab di masa-masa yang akan datang, media inilah yang akan terus naik daun dan menjadi ‘nyawa’ bagi periklanan dunia dan Indonesia. (Burhan Abe)

Sumber: MALE 40 http://male.detik.com

Tuesday, July 30, 2013

Digital Interactive Magazine


Cover bertajuk #lastprintissue, Newsweek pada Desember 2012 mengakhiri edisi cetaknya untuk beralih ke edisi digital. Edisi cetak Newsweek yang pernah mencapai tiras 3 juta eksemplar perlahan-lahan mulai mengecil sehingga tak mampu lagi untuk menopang biaya produksi. Berhentinya edisi cetak dari media yang bermarkas di Manhattan, New York dan telah berumur lebih dari 80 tahun ini menambah daftar panjang printmedia yang tumbang di daratan Amerika karena pertumbuhan dan peralihan pembaca online.

Para kampiun media di Indonesia, sudah cukup lama mewaspadai kecenderungan seperti ini dan menyiapkan langkah peralihan dari print ke digital (online). Rata-rata media massa mainstream saat ini telah mempunyai situs berita online dan juga menerbitkan publikasi cetaknya dalam bentuk digital. Surat kabar harian kini rata-rata sudah mempunyai versi e-paper yang bisa diakses gratis maupun dengan cara berlangganan.

Detik.com salah satu pelopor media online di Indonesia yang kini diambil alih oleh kelompok Trans Corp, bergerak lebih cepat ketimbang yang lainnya. Detik.com telah menerbitkan dua majalah yang murni dipublikasikan dalam versi digital. Yang pertama adalah Majalah Detik yang lahir 15 Desember 2011 dan tak sampai satu tahun kemudian terbit MALE (Mata Lelaki) pada 2 November 2012.

Saya sendiri sempat men-download dan membaca Majalah Detik beberapa edisi, namun karena isinya tak jauh berbeda dengan berita-berita online lainnya maka kebiasaan men-downloadnya tak saya teruskan lagi. Dan secara tak sengaja ketika menyambangi detik.com saya melihat cover majalah Mata Lelaki yang ternyata sudah terbit 12 edisi. Segera saya download dalam versi PDF di komputer saya.

Halaman demi halaman majalah yang diklaim oleh penerbitnya sebagai Digital Interactive Media itu saya lahap, namun dalam versi pdf ternyata kurang maksimal, link videonya misalnya tidak bisa diputar. Kemungkinan karena sofware yang ada di PC saya tidak kompatibel. Oleh karenanya dua edisi terakhir saya download melalui applikasi MALE yang saya pasang di Galaxy Note 10.1. Dan dengan hasil download-an MALE terasa digdaya dibaca dengan ezPDF Readers Pro. Semua navigasi yang ada di user guide bisa digunakan secara maksimal.

Tak rugi rasanya membaca MALE ditengah minimnya majalah laki-laki dewasa yang beredar di tanah air. MALE mengisi ceruk yang selama ini mungkin hanya diisi oleh Matra (almarhum, pen) dan FHM yang terbit dalam edisi cetak dan berharga puluhan ribu rupiah. Saya sendiri sudah cukup lama tak lagi membeli majalah laki-laki dewasa lantaran tak selalu tersedia di lapak-lapak. Namun kini menjadi mudah dengan hadirnya MALE, cukup sekali sentuh andai jaringan tidak lelet tak sampai 5 menit lembar demi lembar segera bisa saya nikmati.

Dan yang penting meski gratisan, apa yang disajikan dalam MALE bukanlah bahan kacangan. Entah bagaimana mereka bisa memberikan layanan gratis dengan isi yang memuaskan, saya tak memikirkan hal itu karena memang bukan urusan saya. Urusan saya sebagai konsumen media adalah berharap akan lahirnya media-media kategori Digital Interactive Magazine (Newspaper) yang syukur-syukur bisa ikut-ikutan gratis.

Kenapa kok saya ngarep gratis tapi bermutu? Fakta sekarang ini media-media mainstream dikuasai oleh kelompok besar yang melakukan konvergensi dalam penerbitannya. Dengan cengkeraman pengaruhnya maka kelompok media-media besar ini mampu meraup pendapatan dari iklan. Mereka ini bisa sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali melakukan reportase atau pembuatan program maka hasilnya bisa disiarkan, dipublikasikan dalam berbagai saluran media. Jadi kalau ongkos produksi dan keuntungan sudah bisa dipenuhi kenapa pula mesti mengutip ‘recehan’ dari konsumen medianya.

Perubahan memang tidak selalu menghasilkan dampak baik terutama terhadap media-media yang mapan dan tak mampu menyesuaikan diri dengan jaman. Tanda-tanda kematian media cetak di Indonesia mungkin masih jauh, namun dengan semakin bertumbuhnya pemakai smartphone, manusia-manusia online masa kepunahan media cetak pasti akan tiba. Maka apa yang dilakukan oleh detik.com dengan majalah detik dan MALE patut dijadikan batu penjuru yang layak untuk diikuti sebagai langkah antisipasi jika ingin terus bertahan dalam belantara layanan informasi. (Yustinus Sapto Hardjanto)

Pondok Wiraguna, 11 Februari 2012

Sumber:

Thursday, July 25, 2013

Le Méridien Bali Jimbaran: Unlocks Wine & Dine in August 2013



BALI – One of the most talked-about new luxury resorts with its unique and chic contemporary style – Le Méridien Bali Jimbaran, unlocks wine and dine program. This August, Le Méridien signature restaurant and bars features specialty Singaporean Chilli Crab, to Indonesia’s 68 years Merdeka Buffet and a traditional family dining the Balinese way.

Singaporean Chilli Crab @ Bamboo Chic
Chilli crab is a seafood dish popular in Singapore, commonly served with delectable sweet and savoury tomato with Chilli based sauce. Taste freshly local mud crab, prepared to recipe perfection by our Executive Chef Paul Lewis. Half-kilo of this Singapore’s most popular delicacy at IDR 250.000 net per portion, served with free flow of Lemon Grass Iced Tea (available for lunch or dinner).

Merdeka Buffet @ Bamboo Chic
Celebrate Indonesia’s 68 years of independence with flavors, our culinary team head by Executive Chef Paul Lewis is pulling all the stop to prepare a rich selection of cuisine from the Indonesian archipelago. Merdeka Buffet is served at IDR 225.000 net per person and with free flow of iced tea (available for dinner only). Add another IDR 200.000 net per person for free flow of sparkling wine and local beer.


Sunset Discovery Session @ Smoqee Lounge & Sky Bar
Tune in for sunset tapas with any purchase of drinks at Smoqee Sky Bar or hit the dance floor at Smoqee Lounge (every Thursday, Friday and Saturday) with our home-grown DJs featuring: DJ Anastasia, DJ Wilson, DJ Yudi and DJ Cindy and  our with signature cocktails from world renowned mixologist – Joseph Boroski.

About Le Méridien Bali Jimbaran
Experience a new perspective of understated luxury stay with Le Méridien Bali Jimbaran. Jump into the resort’s 1,300 square meters saltwater lagoon pool and revealing panoramic views of Jimbaran Bay. The 118 contemporarily designed guest rooms, suites, penthouses and villas feature futuristic in-room technology. Le Méridien Bali Jimbaran also introduces a gastronomic journey to the Island of the Gods offering discerning travellers four dining venues in a three-storey dining and entertainment complex: The brand’s signature all-day dining restaurant, Bamboo Chic featuring Pan-Asian cuisine served over a live kitchen; Smoqee Lounge & Sky Bar, an enchanting spot for cocktails and live music over sunset; Latitude 8, the resort’s lobby lounge overlooking the lagoon, offering choreographed cocktails, light snacks and WALA, an indulgence of hand crafted gelato or taste the perfect cup of Illy coffee.

Thursday, July 18, 2013

Cyber Crime




KEJAHATAN mengintai di mana-mana, tidak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya (bukan “dunia lain”), orang menyebut cybercrime. 

Kemajuan teknologi digital tak pelak mengundang pula keberadaan orang atau sekelompok orang untuk melakukan tindak kejahatan. Mereka tentunya dengan memanfaatkan kelemahan atau celah pada sistem untuk digunakan sesuai dengan keinginan mereka. 

Cerita tentang mereka bisa kita di film-film Hollywood. Hadir tokoh dengan keahlian dan pengetahuan tinggi mengoperasikan komputer yang dengan mudahnya mengacak-acak sistem milik targetnya. Hanya saja, pemaparan di film tentu berbeda dengan fakta di dunia nyata. Si pengacak sistem tadi – ada yang menyebutnya hacker, menampilkan kesan negatif, padahal yang sesungguhnya banyak yang sebaliknya.

Hacker, menurut definisi umum, adalah seseorang (atau kelompok orang) yang memiliki kemampuan yang tinggi di dunia komputer. Dia memiliki tugas untuk mempelajari, menganalisis, dan jika diinginkan dapat pula membuat dan memodifikasi perangkat lunak dan keras pada komputer dari program komputer hingga sistem pertahanan. Mereka memiliki lima tingkatan berdasarkan kemampuannya, mulai dari yang terendah Lamer, Screipt kiddie, Developed Kiddie, Semi Elite, hingga yang paling tinggi Elite. 

Layaknya profesi lainnya, hacker memiliki kode etik saat menjalankan tugasnya, seperti yang ditulis oleh Steven Levy dalam Hackers: Heroes of Computer Revolution. Lalu mengapa kasus cybercrime besar banyak menyalahkan hacker? Tak bisa disangkal bahwa yang melakukan cybercrime, beberapa di antaranya memiliki kriteria atau ciri yang sama dengan ilmu yang dimiliki hacker. 

Sebenarnya harus diluruskan bahwa hacker yang menggunakan ilmunya untuk kejahatan disebut dengan cracker. Hacker berusaha keras untk membangun sebuah sistem yang lebih baik. Sedangkan cracker menjadi sebuah kontradiksi yang bertugas mencari kelemahan kemudian menimba keuntungan dari aktivitasnya. 

Tapi begitulah, setiap kemajuan teknologi selalu diikuti oleh sisi gelapnya. Uang memang menjadi motivasi besar dalam setiap tindakan kejahatan. Berbagai kasus yang dilakukan oleh cracker menimbulkan masalah besar. Sebagai negara berkembang, Indonesia tidak luput dari sasaran cracker. Sistem keamanan yang dimiliki organisasi atau perusahaan yang ada di Indonesia menjadi lahan basah untuk para cracker melakukan aksinya.