Tuesday, July 30, 2013

Digital Interactive Magazine


Cover bertajuk #lastprintissue, Newsweek pada Desember 2012 mengakhiri edisi cetaknya untuk beralih ke edisi digital. Edisi cetak Newsweek yang pernah mencapai tiras 3 juta eksemplar perlahan-lahan mulai mengecil sehingga tak mampu lagi untuk menopang biaya produksi. Berhentinya edisi cetak dari media yang bermarkas di Manhattan, New York dan telah berumur lebih dari 80 tahun ini menambah daftar panjang printmedia yang tumbang di daratan Amerika karena pertumbuhan dan peralihan pembaca online.

Para kampiun media di Indonesia, sudah cukup lama mewaspadai kecenderungan seperti ini dan menyiapkan langkah peralihan dari print ke digital (online). Rata-rata media massa mainstream saat ini telah mempunyai situs berita online dan juga menerbitkan publikasi cetaknya dalam bentuk digital. Surat kabar harian kini rata-rata sudah mempunyai versi e-paper yang bisa diakses gratis maupun dengan cara berlangganan.

Detik.com salah satu pelopor media online di Indonesia yang kini diambil alih oleh kelompok Trans Corp, bergerak lebih cepat ketimbang yang lainnya. Detik.com telah menerbitkan dua majalah yang murni dipublikasikan dalam versi digital. Yang pertama adalah Majalah Detik yang lahir 15 Desember 2011 dan tak sampai satu tahun kemudian terbit MALE (Mata Lelaki) pada 2 November 2012.

Saya sendiri sempat men-download dan membaca Majalah Detik beberapa edisi, namun karena isinya tak jauh berbeda dengan berita-berita online lainnya maka kebiasaan men-downloadnya tak saya teruskan lagi. Dan secara tak sengaja ketika menyambangi detik.com saya melihat cover majalah Mata Lelaki yang ternyata sudah terbit 12 edisi. Segera saya download dalam versi PDF di komputer saya.

Halaman demi halaman majalah yang diklaim oleh penerbitnya sebagai Digital Interactive Media itu saya lahap, namun dalam versi pdf ternyata kurang maksimal, link videonya misalnya tidak bisa diputar. Kemungkinan karena sofware yang ada di PC saya tidak kompatibel. Oleh karenanya dua edisi terakhir saya download melalui applikasi MALE yang saya pasang di Galaxy Note 10.1. Dan dengan hasil download-an MALE terasa digdaya dibaca dengan ezPDF Readers Pro. Semua navigasi yang ada di user guide bisa digunakan secara maksimal.

Tak rugi rasanya membaca MALE ditengah minimnya majalah laki-laki dewasa yang beredar di tanah air. MALE mengisi ceruk yang selama ini mungkin hanya diisi oleh Matra (almarhum, pen) dan FHM yang terbit dalam edisi cetak dan berharga puluhan ribu rupiah. Saya sendiri sudah cukup lama tak lagi membeli majalah laki-laki dewasa lantaran tak selalu tersedia di lapak-lapak. Namun kini menjadi mudah dengan hadirnya MALE, cukup sekali sentuh andai jaringan tidak lelet tak sampai 5 menit lembar demi lembar segera bisa saya nikmati.

Dan yang penting meski gratisan, apa yang disajikan dalam MALE bukanlah bahan kacangan. Entah bagaimana mereka bisa memberikan layanan gratis dengan isi yang memuaskan, saya tak memikirkan hal itu karena memang bukan urusan saya. Urusan saya sebagai konsumen media adalah berharap akan lahirnya media-media kategori Digital Interactive Magazine (Newspaper) yang syukur-syukur bisa ikut-ikutan gratis.

Kenapa kok saya ngarep gratis tapi bermutu? Fakta sekarang ini media-media mainstream dikuasai oleh kelompok besar yang melakukan konvergensi dalam penerbitannya. Dengan cengkeraman pengaruhnya maka kelompok media-media besar ini mampu meraup pendapatan dari iklan. Mereka ini bisa sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali melakukan reportase atau pembuatan program maka hasilnya bisa disiarkan, dipublikasikan dalam berbagai saluran media. Jadi kalau ongkos produksi dan keuntungan sudah bisa dipenuhi kenapa pula mesti mengutip ‘recehan’ dari konsumen medianya.

Perubahan memang tidak selalu menghasilkan dampak baik terutama terhadap media-media yang mapan dan tak mampu menyesuaikan diri dengan jaman. Tanda-tanda kematian media cetak di Indonesia mungkin masih jauh, namun dengan semakin bertumbuhnya pemakai smartphone, manusia-manusia online masa kepunahan media cetak pasti akan tiba. Maka apa yang dilakukan oleh detik.com dengan majalah detik dan MALE patut dijadikan batu penjuru yang layak untuk diikuti sebagai langkah antisipasi jika ingin terus bertahan dalam belantara layanan informasi. (Yustinus Sapto Hardjanto)

Pondok Wiraguna, 11 Februari 2012

Sumber: