Wednesday, November 20, 2013

Contemporary Art Exhibition, Persembahan Martell


Martell adalah sahabat terbaik saat menikmati momen penting seperti  mengapresiasi karya seni, menghadiri acara intim korporasi  hingga menyaksikan peragaan busana penuh sofistikasi.

Martell Cognac berpadanan dengan citra sebuah gaya hidup eksklusif, terutama pada kehidupan bergaya metropolitan. Cita rasa terbaik Martell hadir sejak minuman ini disiapkan  hingga tersaji untuk dinikmati.

Martell mempersembahkan sebuah pameran seni kontemporer yang melibatkan seniman dari berbagai disiplin seni yang memiliki ekspresi, karakteristik, teknik, serta penggunaan media yang berbeda. Tema pameran ini merekam budaya kontemporer yang merefleksikan berbagai kehidupan kaum metropolitan yang terdiri dari berbagai sub-kultur yang fokus dan spesifik.

Beragam ekspresi dari setiap ide seniman yang ikut berpameran ini meretas satu sama lain, membentuk sebuah sinergi baru yang eklektik namun tetap utuh sebagai karya personal.

Diselenggarakan di area atrium sebuah pusat perbelanjaan, Kuningan City, Jakarta sejak 18 Nopember 2013 hingga 24 November 2013. Pameran ini akan diselingi dengan makan malam berupa pairing dinner yang menggabungkan cita rasa berkelas dan setara dengan Martell dalam cara penyajian eksklusif pada 21 November 2013 di Potato Head Garage, Jakarta. Perancang busana  Arantxa Adi akan menjadi penutup pairing dinner yang dihadiri tetamu korporasi dan media itu.

Pameran ini dikuratori oleh Chandra Johan. Para perupa dan desainer yang memamerkan karyanya adalah:

Irawan Karseno,  pelukis asal Surabaya yang lahir tahun 1960 ini dikenal sebagai pelukis abstrak kontemporer yang kerap membubuhkan kata-kata dalam karyanya. Beberapa karya Irawan mempertanyakan perihal spiritualitas yang sering dikritiknya. Namun, kritik ditampilkan secara cerdas dan bersemangat.
Meski tengah disibukkan dengan jabatan barunya sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta untuk periode 2013-1015, Irawan menyempatkan diri untuk ikut memamerkan karya instalasi dan lukis. Lembaran kaca yang seolah ditembus peluru terpampang pada bagian paling depan pameran.

Renjani Damais-Arifin adalah pematung kontemporer yang menciptakan tokoh imajinatif, lucu, dan naif. Karya pertamanya lukisan, tetapi kemudian ia lebih produktif menciptakan karya patung dan telah berpameran beberapa kali, baik secara tunggal maupun kelompok. Tiga karyanya ditampilkan di atas tangga menguatkan citra unik dan bergaya pop-art, khas Renjani.

Ipong Purnama Sidhi, dikenal sebagai seorang pelukis ekspresionis dengan pendekatan kontemporer. Pelukis kelahiran Jogja 58 tahun lalu ini akan memamerkan delapan karya lukisannya yang menggunakan beberapa media; cat akrilik, cat enamel, pensil dan charcoal . Karyanya merekam realitas kehidupan, terutama perilaku manusia tamak yang rakus akan kekuasaan dan harta. Sifat buruk manusia ini digambarkan secara simbolis dalam bentuk yang terdistorsi sedemikian rupa oleh sapuan kuas dan cipratan yang bebas.

Selain sebagai pelukis Ipong dikenal pula sebagai ilustrator, kurator dan desainer buku, serta telah menggelar banyak pameran bertaraf nasional dan internasional.

S.Teddy, selalu mempertanyakan gaya hidup kontemporer yang absurd, baik di bidang politik mau pun sosial. Seniman asal Jogjakarta yang memiliki energi yang meledak-ledak dalam mengekspresikan karyanya ini merambah berbagai ranah media, mulai dari lukisan, drawings, instalasi, patung hingga performance art. Karyanya energik, antusias dan kerap ironis.

Salah satu karya tiga dimensi yang ditampilkan berupa imitasi tank yang digabungkan menjadi satu dengan sebentuk hati pada ujung laras tank. Menurut kurator Chandra Johan, karya yang mengikatkan dua sifat berbeda seperti ini dikenal sebagai karya horrible-sweet.

Nicoline Patricia Malina, fotografer lulusan sekolah seni di Utrecht, Belanda dan sekarang bekerja di Jakarta ini akan menampilkan empat karyanya. Ia memotret keragaman masyarakat dan budaya dalam semangat yang penuh aroma kekinian karena terispirasi pada perbedaan yang menurutnya adalah hal paling indah untuk diabadikan.

Melalui karyanya, Nicoline berharap orang lain dapat melihat budaya tidak hanya sekadar tradisi tapi juga meresapi konsep dan nilai-nilai yang terjunjung  di dalamnya.  Estetika fotografi Nicoline yang sangat khas; modern, bercita rasa tinggi dan lestari itu bersejajar dengan citra produk Martell Cognac yang berselera dan tak lekang waktu.

Arantxa Adi. Desainer muda yang sudah tiga kali bekerja sama dengan Pernod Ricard Indonesia dalam kurun waktu dua tahun akan menampilkan dua koleksinya dalam Contemporary Art Exhibition ini.

Sebuah gaun panjang dirancang menggunakan bahan duchess berwarna biru khas Martell Cognac. Siluetnya elegan mewakili citra Martell Cognac yang berkelas. Sebuah lagi berupa gaun panjang, menggunakan bahan sifon yang dipenuhi dengan semacam ‘akar-akaran’ yang terbuat dari bahan sama dan dipilin-pilin menyilang di bagian dada hingga menjuntai ke bawah.

Sedangkan untuk koleksi yang akan hadir pada pairing dinner pada 21 Nopember 2013 nanti,  Arantxa menyampaikan "Saya sangat terinspirasi pada fashonista dan sosialita. Bagi saya seorang fashionista haruslah sosok perempuan yang memililki cita rasa tinggi dan berkelas, mandiri, berani berekspresi, keras hati sekaligus powerfull namun selalu jujur pada dirinya sendiri. Desainer yang dikenal sebagai ‘celebrity darling’ ini memilih Elizabeth Taylor sebagai gambaran fashionista dan sosialita paling sejati.

Tiga puluh empat koleksi busana feminin Arantxa Adi hadir dalam warna kulit nan lembut yang menggunakan bahan lace dan brokat. Diselingi koleksi busana dengan warna-warni mencolok dan berani seperti biru, hitam, hijau, dan pink. Rancangannya semakin kaya dengan teknik potong yang beragam seperti one-shoulder, teknik serong, dan gaya berlapis-lapis.

Tidak hanya itu, ia juga bermain-main dengan payet yang dibentuk menjadi bunga dan diaplikasikan di atas bahan duchess, silk, satin, satin silk, tafetta, organdi sehingga tampil memikat. Juga, memadukan bahan kaku seperti duchess, tafetta dengan brokat dan lace bermotif chantilly untuk mengedepankan citra elegan, berkelas, sekaligus berkarakter dalam koleksi kali ini. 

Dalam peragaan ini, Arantxa Adi seolah menghadirkan nuansa era tahun tahun 1940 dan 1950 dengan cita rasa dan aroma masa kini. Gaya 1950an dengan siluet busana-busana bervolume. Sedangkan  era 1940an dengan gaya busana meramping.