Wednesday, January 29, 2014

Film Asia


FILM adalah salah satu produk kebudayaan yang paling populer saat ini. Dunia perfilman Barat memang sangat menarik bagi penikmat film. Tapi, dalam satu dekade belakangan ini, industri film Asia mulai menunjukkan taringnya, bahkan menjadi tontonan yang kian diburu penikmat film.

Kemegahan dari sisi sinematografi dan jalan cerita yang unik serta menarik menjadi faktor penting yang membuat film Barat menjadi unggulan. Hanya, orisinalitas tetap menjadi poin utama, dan Asia adalah jawaban atas tantangan ini.

Seven Samurai, The Ring, Godzilla, Pulse, dan Oldboy adalah beberapa judul film yang diangkat kembali oleh industri perfilman Barat. Hal itu jelas menjadi salah satu tanda Asia tidak bisa dipandang sebelah mata dan memiliki potensi yang sama tinggi dengan perfilman Barat. 

Jepang memang selalu memunculkan gebrakan baru, tak terkecuali dalam industri filmnya. Film-film yang dihasilkan oleh Jepang banyak menuai pujian. Begitu pula dengan dunia animasi, yang menjadikannya negara yang paling aktif dalam industri tersebut. Bahkan film Spirited Away, misalnya, berhasil meraih Piala Oscar untuk kategori film animasi.

Layaknya Hollywood dengan film-film superhero yang diadaptasi dari komik Marvel ataupun DC, Jepang dengan komik fenomenalnya menghadirkan sensasi versi live action, seperti Rurouni Kenshin, Gantz, dan Death Note. Respons masyarakat sangat positif, baik dari kalangan pencinta film maupun komik. 


Lain Jepang lain pula Korea Selatan. Serial drama (selain K-Pop), yang diisi jajaran aktor dan aktris rupawan, menjadi senjata untuk menggoda penikmatnya. Selain itu, ceritanya memang indah, yang biasanya didominasi genre drama romantis. 

Cina dan Hong Kong adalah dua teritori yang menjadi tempat industri perfilman tertua di Asia. Walau masih terbentur masalah pembajakan, industri film di Cina dan Hong Kong menunjukkan kemajuan yang positif. 

Sementara itu, India menjadi salah satu industri film besar di Asia. Negara yang tahun lalu merayakan 100 tahun perkenalannya dengan dunia film itu tetap menjadi negara yang kuat dan khas dalam memadukan budaya dengan film. Tarian, musik, dan nyanyian menjadi identifikasi yang tidak hilang dari perfilman Bollywood. 

Untuk kawasan Asia Tenggara, industri film Thailand menunjukkan perkembangan yang menyenangkan. Walaupun populer dengan film horornya, Thailand tumbuh menjadi salah satu industri film besar di kawasan ini. Film The King Maker (2005), misalnya, merupakan proyek paling ambisius Thailand, yang menelan biaya produksi hingga 250 juta baht. 

Adapun film Indonesia sudah bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Pelan tapi pasti, penonton Indonesia kian kritis dan haus akan film yang berkualitas. Daya tarik film Indonesia semakin tinggi, apalagi beberapa produksi bekerja sama dengan pihak asing. Sebutlah The Raid dan Java Heat, yang mengangkat nama Indonesia di kancah internasional. So, masihkah Anda menganggap industri perfilman Barat yang terbaik? (Burhan Abe)

Sumber: MALE Zone @ MALE 66 http://male.detik.com