Sunday, March 30, 2014

Hari Film Nasional ke 64 Tahun 2014



Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Badan Perfilman Indonesia (BPI) menggelar Peringatan Hari Film Nasional (HFN) ke-64 tahun 2014 dengan tema “Bangga Film Indonesia”. Serangkaian kegiatan yang diadakan adalah roadshow dan diskusi film 9 Summers 10 Autumns dan Sagarmatha di Semarang dan Banjarnegara yang akan dihadiri sutradara dan artis pendukungnya.

Orasi Sinema dengan tema: Film Indonesia dan Identitas Nasional dalam Kondisi Pascanasional oleh Dr. Seno Gumira Ajidarma di Galeri Indonesia Kaya, Mal Grand Indonesia. Rangkaian kegiatan tersebut serentak dilakukan pada 27 Maret 2014.

Selain itu juga dilangsungkan pemutaran dan diskusi film serta pelatihan singkat pemeranan oleh aktor dan aktris Rumah Aktor Indonesia (RAI) di 7 SMP/SMA se- Jabotabek pada tanggal 27 Maret - 4 April 2014.

Tepat pada Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret, akan diselenggarakan Syukuran Hari Film Nasional ke-64 tahun 2014 di Balairung Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Tabur Bunga di pusara Bapak Film Nasional, Usmar Ismail, di TPU Karet Bivak dan artis Sofia WD di TMP Kalibata. Pada hari yang sama akan diputar beberapa film laris Indonesia antara tahun 2000-2010 seperti: Ada Apa Dengan Cinta, Eiffel Im In Love, Nagabonar Jadi 2, dan Laskar Pelangi di Hollywood XXI di Jakarta.



Setelah 64 tahun perjalanan film Indonesia telah banyak peristiwa dialami oleh insan kreatif di bidang seni dan industri perfilman nasional. Jika berefleksi kepada perkembangan industri film di pasca Reformasi, tentunya sudah banyak capaian.

Tahun lalu jumlah film Indonesia yang di produksi untuk layar lebar mencapai 106 film, yang tertinggi selama 15 tahun terakhir. “Tentunya kita tidak saja ingin jumlah film Indonesia meningkat tetapi juga mutunya dan hal tersebut terbukti dari variasi tema, peningkatan kualitas dari berbagai aspek, meningkatnya jumlah film Indonesia yang ditayangkan di bioskop maupun TV dan kanal lain, dan jumlah penonton,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu.

Sementara Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI), Alex Komang berpandangan, “Memperingati Hari Film Nasional adalah mengenang heroisme, merayakan kebebasan berkreasi, dan mengingat betapa pentingnya integritas. Semangat semacam itulah yang kita harapkan terus dipelihara oleh seluruh insan perfilman Indonesia saat ini.”

Malam Puncak Hari Film Nasional (HFN) ke-64 tahun 2014 akan diselenggarakan 1 April 2014 di Ballroom Club XXI, Djakarta Theater dengan menghadirkan penampilan Ihsan Tarore, Reza Artamevia dan Dira Sugandi dengan iringan Frequent O Harmony, arahan Frida Tumakaka yang membawakan sejumlah komposisi yang terilhami dari film-film Indonesia. Acara akan dipandu oleh artis peraih Citra, Nirina Zubir.

Beberapa artis yang hadir pada dalam malam puncak akan menggunakan busana karya perancang Indonesia ternama seperti Ghea Panggabean, Barli Asmara, Aranxta Adi, Mel Ahyar, Sapto Djojokartiko, Didiet Maulana, dan Adi Audrinazta Seperti tradisi pada tahun-tahun sebelumnya, pada acara tersebut akan diserahkan Piala Antemas kepada produser film terlaris 2013, yakni Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Acara akan ditutup dengan pemutaran film hasil restorasi Darah dan Doa (1950) karya Usmar Ismail, yang hari pertama produksinya 30 Maret 1950 menjadi dasar penetapan Hari Film Nasional.

Sebelumnya, di tempat yang sama pada 1 April pukul 15.00 akan diadakan diskusi film bersama Direktur Asiatica Film Mediale, Roma, Italo Spinelli, dan Garin Nugroho.