Monday, May 26, 2014

Populasi Gadget dan Iklan Digital

MALE Magazine 83
Tren digitalisasi bukan untuk dihindari, tapi harus diterima sebagai sebagai sebuah keniscayaan – kecuali Anda merasa nyaman hidup di “zaman batu”. Penetrasi perangkat-perangkat canggih juga makin tidak terbendung dalam kehidupan sehari-hari. Sebutlah ponsel, smartphone, tablet, phablet, dan kelak si pendatang baru  “kacamata pintar”.

Jangan salah, masyarakat Indonesia ternyata termasuk pasar yang atraktif bagi gadget-gadget masa kini tersebut. Ada yang memperkirkan, jumlah pemilik ponsel di Indonesia sudah menembus 200 juta – lebih tinggi dibandingkan populasi televisi dan radio. Sementara, penetrasi internet di Indonesia sekitar 40 persen.

Sebuah penelitian yang lebih komprehensif mengungkapkan bahwa kebanyakan orang Indonesia memiliki perilaku konsumtif dalam pembelian smartphone dan tablet. Menurut perkiraan Cisco Visual Networking Index (VNI) Forecast, akan ada 370 juta pembelian ponsel atau tablet yang dilakukan oleh warga Indonesia pada 2017 mendatang.

Penelitian itu mencatat bahwa pada 2011 tercatat sekitar 250 juta pembelian berbagai ponsel dan komputer tablet di Indonesia. Hanya dalam satu tahun, jumlah tersebut meningkat 50 juta menjadi 300 juta pengguna ponsel dan tablet — dan diperkirakan akan menembus angka 370 juta pada 2017.

Dirk Wolter, Director for Mobility Architecture for Asia Pacific, Japan, and Greater China, mengatakan peningkatan jumlah tersebut karenakan perilaku konsumtif warga Indonesia disertai gaya hidup yang berubah mengikuti perkembangan teknologi. "Seperti dapat kita lihat, satu orang di Indonesia sekarang bisa memiliki empat ponsel," tutur Wolter, seperti dikutip Okezone.

Ya, perilaku konsumtif membuat pertumbuhan pasar gadget di Indonesia melonjak karena hadirnya ponsel-ponsel atau tablet dengan harga miring, pasar gadget second pun berkembang. Meski ponsel-ponsel anyar ramai berdatangan, tapi pembelian ponsel dari tangan kedua pun marak karena harganya yang lebih murah. Di Indonesia hal ity sudah biasa, “Sementara di negara maju sebutlah AS dan Eropa, orang-orang tak ada yang membeli ponsel atau tablet bekas. Mereka semua membeli barang yang baru," jelas Wolter.

Besarnya populasi gadget di Indonesia ini tentunya juga diikuti oleh gaya hidup seseorang yang selalu membutuhkan internet dalam aktivitasnya. Kebutuhan akan koneksi internet ini makin tinggi dari waktu ke waktu, sebab tidak hanya bisnis, internet juga dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari. Selain digunakan untuk melakukan aktivitas pekerjaan dan bisnis, penggunaan internet data yang melonjak tersebut juga didominasi oleh aktivitas masyarakat dalam bersosial media.

Cisco mencatat bahwa keuntungan paling banyak di dunia telekomunikasi bersumber dari data internet, diikuti oleh layanan SMS, serta layanan telepon. Pada 2011 tercatat keuntungan terbesar di dunia telekomunikasi Indonesia bersumber dari data internet, yakni 11 miliar dolar AS. Berikutnya adalah SMS sebesar 9 miliar dolar AS, dan layanan telepon sebesar 6 miliar dolar AS.

VNI Forecast memprediksi angka tersebut akan terus meningkat, dan pada  2017 data internet akan mencapai 15 miliar dolar AS, SMS 12 miliar dolar AS, dan layanan suara 8 miliar dolar AS.

Ketika populasi gadget semakin tinggi, dan penggunaan internet menjadi kebutuhan yang terus meningkat, maka periklanan digital pun adalah sebuah keniscayaan pula. Beriklan secara digital sekarang ini menjadi pilihan bukan hanya oleh perusahaan besar, tetapi juga usaha kecil dan menengah. “Dulu orang melihat digital itu sebagai komunikasi. Sekarang sebagai sarana untuk berkomunikasi, untuk berjualan,” ucap Danny Wirianto, CEO Merah Cipta Media.

Hanya saja, sekalipun kebutuhan beriklan digital semakin membesar, masih ada beberapa catatan. Pertama, pengetahuan terhadap iklan digital masih rendah. Kedua, kesadaran akan ranah digital sebagai medium komunikasi dan keperluan bisnis belum ada. “Anak daerah, kayak di Bali atau Yogyakarta, misalnya, pintar dalam hal tekno, tapi secara marketing belum comply,” kata Ketua Pengembangan Digital Advertising di Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia. (Burhan Abe)

Sumber: MALE 83 http://male.detik.com