Wednesday, May 07, 2014

Think Digitally

Digitalisasi bukan sekadar mantra, tapi memang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kita semakin tergantung kepada berbagai teknologi yang memudahkan hidup, sebutlah komputer, notebook, smartphone, tablet, phablet dan seterusnya. Perangkat tersebut memudahkan kita untuk melakukan apa saja, mulai dari berkomunikasi, bersosialiasi, hingga bekerja.

Salah satu produk digital adalah MALE (http://male.detik.com). Digitalisasi media adalah sebuah keniscayaan, upaya memanfaatkan laju teknologi agar tidak ketinggalan zaman. Format digital juga lebih fleksibel, kapasitas distribusinya jauh melebihi media kertas yang terbatas. Majalah digital mempunyai konten yang lebih menarik, karena bisa diperkaya dengan video, suara, dan tautan web. Unik dan interaktif.

Memang, ada pendapat minor bahwa animo pembaca majalah digital interaktif mulai menurun. Dibandingkan dengan majalah konvensional, khususnya di Indenesia, jumlah pen-download majalah digital masih tergolong kecil. “Tidak banyak yang tahu, kami mem-published versi digital di iPad,” ujar seorang pemimpin redaksi sebuah majalah gaya hidup.

Keluhan tersebut ternyata tidak hanya berlaku di Indonesia. Beberapa penerbitan majalah digital di AS juga pernah mengeluhkan hal yang sama, bahkan lebih ekstrem mengatakan bahwa “The app is dead”. Benarkah?

Banyak yang tidak setuju.  Salah satunya adalah Josh Klenert, Direktur Eksekutif di Digital Customer Experience untuk JPMorgan Chase.  Mengapa majalah digital tidak menarik perhatian? Menurut kreator majalah Huffington dan HuffPost untuk iOS7 dan Android ini, tak lain karena penerbitnya belum berpikir secara digital. Majalah-majalah digital yang ada saat ini kebanyakan perpanjangan dari majalah cetak. Isinya hanya memindahkan dari cetak ke digital saja.  Sudah begitu, periode terbitnya rata-rata sebulan sekali, yang bagi pembaca online dan komunitas digital, terlalu lama.

David Jacobs,  CEO 29th Street Publishing, menambahkan bahwa replika tidak akan pernah berhasil. Makanya, jangan heran kalau ada majalah digital yang pelanggannya hanya 3% dari pembaca secara keseluruhan. “There is a challenge (and an opportunity) since the mainstream conception of a magazine app is what amounts to a photo gallery of pages of a magazine, with the occasional widget or animation. But that’s not a transformation that is going to happen overnight,” tambahnya.

Tentu, majalah digital tidak mati, tetapi membutuhkan pembenahan di berbagai lini, mulai dari kreativitas, desain, termasuk pembenahan di luar konten – sebutlah periodisasi terbit (Esquire, misalnya, sudah meluncurkan edisi mingguannya di iPad),  sosialisasi produk dan strategi pemasaran. Apalagi, faktanya, tidak ada yang bisa menghentikan proliferasi tablet. Pasar tablet semakin besar, banyak aplikasi yang dibuat dan dikembangkan untuk perangkat ini.

Jadi, kalau ada penerbit yang mengeluh kekurangan pembaca, jangan salahkan teknologinya – apalagi menyalahkan masyarakat yang kurang aware terhadap produk digital. Buktinya, MALE, sampai edisi yang ke 80, masih mendapat animo yang luar biasa, dengan downloaders sekitar 300-350 ribu per edisi di tiga platform (PDF, IOS, dan Android). Secara keseluruhan, sampai April 2014, MALE sudah diunduh dalam bentuk PDF 25.230.846 dan Folio 843.188 (iPad dan Android Gadget), sementara Aplikasi iPadnya sudah mencapai  49.057, dan  aplikasi Android 84.824. (Burhan Abe)