Monday, June 16, 2014

Game

Dunia game mempresentasikan kehidupan atau fantasi, dengan kuasa dan kontrol berada di tangan gamer.


SIAPA yang tidak kenal game? Di masa ini, lebih-lebih masuk ke era digital,  hampir semua anak – bahkan orang dewasa sekali pun – menyukai game, apa pun bentuknya, mulai dari yang sederhana sampai yang sophisticated.

Game merupakan hiburan berbentuk multimedia yang dibuat semenarik mungkin agar pemain bisa mendapatkan sesuatu sehingga mendapatkan kepuasaan batin. Pong boleh dikatakan pelopor video game, berbentuk sederhana dua dimensi menjadi  alternatif hiburan yang menarik bagi generasi muda sejak kehadirannya pada 1972.

Kesederhanaan gameplay dan grafis pun mengalami transisi pesat hingga hadirlah sensasi gaming yang lebih luas serta genre yang kian beragam. Teknologi yang semakin baik membuat para developer game menghasilkan game yang lebih berkualitas dan menarik. Bahkan, berkat tampilan yang lebih baik, tidak sedikit yang kemudian berhasil menjadikan tokoh game sebagai ikon (MALE Zone, MALE edisi 86 http://male/detik.com).

Sebenarnya, game bisa dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran. Game edukasi ini biasanya dibuat dengan tujuan spesifik sebagai alat pendidikan. Sang desainer sudah memperhitungkan berbagai hal agar game benar-benar dapat mendidik, menambah pengetahuan, dan meningkatkan keterampilan yang memainkannya. Tapi di atas itu, dunia game mempresentasikan kehidupan atau fantasi, dengan kuasa dan kontrol berada di tangan gamer.

Yang jelas, game semakin berkembang luas dengan genre tak terbatas, bahkan bisa disandingkan dengan genre yang ada dalam film. Contohnya, Mario Bros, yang merupakan karakter game perdana yang hadir dalam film. Karakter yang dibuat oleh produsen game asal Jepang, Nintendo, itu sangat mendunia.

Memang, dalam perkembangannya, kesuksesan Mario Bros dalam game tak membuat filmnya mendulang nasib yang sama. Pada 1993, film Mario Bros justru menemui kegagalan dan mendapat respons negatif. Padahal pemerannya cukup terkenal, yakni Bob Hoskins dan John Leguizamo.

Para pahlawan dunia game rupanya tidak mampu berbicara banyak di dunia perfilman. Saat Batman dan Spider-Man melangkah pasti dan sukses hadir di layar lebar, pahlawan dunia game seperti Lara Croft melalui Tomb Raider dan Agent 47 dalam game Hitman hanya terlihat sebagai hiburan segar saja, tapi belum mencapai kesuksesan yang berarti.

Mendapat keuntungan merupakan tujuan industri film. Tak mengherankan bila kemudian mengadaptasi game menjadi film termasuk cara yang menggiurkan.  Menurut situs Hollywood.com, film adaptasi dapat menarik penonton yang sudah terlebih dulu mengenal karya yang diadaptasi itu. Para produser menghitung jumlah pre-installed audience—penonton yang sudah mengenal baik kisah atau karakternya dari komik, novel, atau game—sebagai keuntungan yang sudah ada di depan mata.

Sayangnya, banyak film adaptasi game yang justru tampil seadanya. Street Fighter, Tekken, Dead or Alive, dan The King of Fighter adalah gambaran buruknya film adaptasi game.

Film Mario Bros menjadi contoh lain sulitnya memperoleh hasil yang baik saat kedua versi tersebut memiliki konsep berbeda. Kepopuleran game Mario Bros diraih bukan karena jalan cerita dan pendalaman karakter yang baik, tapi lantaran cara bermain serta tantangan yang disajikan untuk pemainnya. Tentu menjadi kesulitan tersendiri bagi penulis dan sutradara jika sebuah film harus menggunakan metode yang sama dengan game-nya.

Sulit tak berarti tidak mungkin, dengan mempertahankan jalan cerita, tokoh, dan gameplay yang tak sederhana seperti Mario Bros. Celakanya, industri perfilman dengan sangat leluasa mengubah secara menyeluruh, yang akhirnya menghilangkan kekuatan dan inti game itu. Maka yang terjadi malah film tersebut seperti bukan hasil adaptasi game.

Jauh berbeda dengan Resident Evil, yang menjadi contoh berubahnya game secara keseluruhan, setelah hadir di layar lebar. Film yang dibintangi oleh aktris Milla Jovovich ini memilih pendekatan yang berbeda dengan game-nya yang pertama kali dirilis pada 1996.

Kritik pedas memang dilayangkan terhadap film ini akibat perombakan genrenya. Tapi hal itu tidak menghentikan film yang bertaburan zombie ini menawarkan kisah baru yang berbeda dengan versi game-nya.

Selain memang menghibur penikmat film dengan serangkaian aksi membasmi para zombie, keuntungan yang didapat menjadi alasan untuk terus memproduksi sekuelnya. Seperti yang ditulis dalam situs Boxofficemojo, Resident Evil masuk 15 besar deretan film adaptasi game yang sukses menangguk keuntungan.

Namun, berbicara mengenai dominasi film adaptasi game yang kurang memuaskan, nama Uwe Boll tentu tidak bisa dilepaskan sebagai orang yang sering disalahkan. Boll dianggap membuat film adaptasi game yang mengarah pada kualitas buruk. Situs Gamesradar menyebut tujuh film terburuk Uwe Boll, yang kebanyakan menggarap adaptasi game. Padahal, dalam film-filmnya, Boll memasang sejumlah nama terkenal untuk berperan. Sebut saja Jason Statham, Michael Madsen, dan aktor peraih Oscar, Ben Kingsley.

Apa daya, di tangannya nama-nama besar belum mampu mengangkat kualitas filmnya.


Getting More Attention
Mungkinkah industri film menghasilkan film adaptasi game yang berkualitas? Pada 2006, hadir film berjudul Silent Hill. Karya garapan sutradara Christophe Gans ini sempat memberi angin positif bagi film adaptasi game yang berkualitas, kendati keuntungan yang diperoleh tidak sebanyak yang didapat franchise Resident Evil.

Menurut situs Denofgeek, kualitas Silent Hill tidak mengecewakan. Sutradaranya mengerti betul karakter game yang diadaptasi, karena ia memang penggemar game ini. Bahkan secara personal ia melakukan pendekatan terhadap Konami, publisher game itu. Hasilnya, Gans mampu menghasilkan film yang sesuai dengan yang diinginkan, tanpa menghilangkan kekuatan game Silent Hill.

Review positif didapat film Prince of Persia: The Sands of Time. Situs The Times menulis, tetap memiliki daya tarik yang sama, walau jalan ceritanya memiliki perbedaan dengan versi game. Mike Newell sebagai sutradara juga mempertahankan elemen penting game agar tetap ada dalam filmnya.

Melihat kedua film tersebut, masih ada harapan film adaptasi game menuai keberhasilan yang serupa dengan film adaptasi lainnya. Apalagi jika yang menangani film adaptasi game sutradara seperti Steven Spielberg, Ridley Scott, atau Martin Scorsese. Bisa dibayangkan pula, jika Christopher Nolan, yang mampu menjadikan franchise film Batman lebih dramatis, mengadaptasi game Metal Gear Solid, tentu hasilnya akan sangat dramatis.

Dilansir dari Wikipedia, masih banyak game yang akan diangkat ke layar lebar dalam waktu dekat. Assassin's Creed dan Splinter Cell menjadi kabar yang santer terdengar, selain beberapa judul lama yang akan di-reboot lebih baik lagi. Namun apakah ini menjadi kabar baik atau hanya melanjutkan tren kurang memuaskan film adaptasi game di dunia perfilman? Kita tunggu saja....

Sumber: Good Game, Good Movie, Male Zone by Dedy Sofan, MALE 86 http://male/detik.com