Tuesday, July 15, 2014

Bunga Perjalanan Sufi Cinta: Candra Malik & Sujiwo Tejo


Menapaki Ramadhan, Galeri Indonesia Kaya bersama Candra Malik & Sujiwo Tejo mempersembahkan suatu pertunjukan yang berjudul Bulan Suci yang merupakan akronim dari Bunga Perjalanan Sufi Cinta. Bersama dengan Minladunka Band dan Sufi Tarian, pengunjung dapat menyaksikan penampilan ini di Auditorium Galeri Indonesia Kaya pada 12 Juli 2014 pukul 15.00 WIB.

Pertunjukan ini menghadirkan musik religi dari album Kidung Sufi karya Candra Malik dan perjalanannya keliling daerah dan pesantren dua tahun terakhir. Candra Malik menghadirkan para Sufi dari berbagai latar belakang untuk memberikan pandangan mengenai bagaimana Sufi hidup dan berbaur dalam keseharian masyarakat.

“Sufi dalam pertunjukan ini merupakan cara untuk memurnikan jiwa dan hati serta mendekatkan diri kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui musik dan tarian yang ditampilkan, saya berharap para penonton di Galeri Indonesia Kaya dapat larut dalam dimensi rohani yang mampu mencerahkan kehidupan spiritual. Semoga penampilan ini dapat mengedukasi serta mendekatkan masyarakat akan pentingnya arti kehidupan melalui Sufi,” ujar Candra Malik.

Candra Malik menyajikan ilustrasi visual karya Asthie Wendra yang telah mengelola dua konser besar Candra Malik; yaitu Konser Kidung Sufi Sangkala Djiwa di Bandung bersama 8 band papan atas pada penghujung 2012 dan tur konser Ngabuburit 2013 bersama legenda musik Iwan Fals di 11 titik di Jawa Barat pada Ramadhan 2013.


Bersama Minladunka Band, Candra Malik membawakan lagu-lagu religi, seperti Seluruh Nafas, Hasbunallah, Fatwa Rindu, Allahu Ahad, Samudera Debu, Pulang Bahagia, dan Syahadat Cinta. Sujiwo Tejo akan membawakan dua lagunya berjudul Ingsun dan Rahvana's Solikoquy. Lagu-lagu religi ini dimainkan dalam instrumentalia musik bambu yang terus dikembangkan oleh Endo Suanda. Etnomusikolog dari Bandung ini juga memberi materi workshop tentang Musik dalam Tradisi Islam Nusantara yang akan menambah pengetahuan para pengunjung Galeri Indonesia Kaya.

Tak hanya itu, Syekh Syamsi Rizki menyampaikan paparan tentang Sufi dan Tari Berputar. Syamsi Rizki adalah Sufi dari Thariqat Naqsabandiy Haqqani yang berba'iat kepada Syekh Hisyam al Kabbani. Beliau belajar menari berputar sebagaimana yang diajarkan oleh Sufi Besar Jalaluddin Rumi dan pertama diekspresikan oleh Abu Bakar Shidq RA.

Melengkapi pertunjukan ini, pengunjung Galeri Indonesia Kaya juga diajak untuk berdiskusi bersama Sujiwo Tejo. Seniman serbabisa ini akan memaparkan proses kreatif dan relijiusitas seniman dalam menghasilkan suatu karya.

“Bagi saya mencampurkan budaya, proses kreatif dan religiusitas para seniman Sufi ini seperti mengajarkan bagaimana manusia mencintai dan dan merawat kehidupannya tanpa menilai latar belakangnya yang berbeda-beda. Sangat bermanfaat bagi masyarakat di zaman sekarang yang perlahan kehilangan makna dari kehidupan,” ujar Sujiwo Tejo.

“Dalam suasana Ramadhan, Galeri Indonesia Kaya menggelar pertunjukan bertema sufi yang mengajarkan tentang cinta damai, kasih sayang, tentang bagaimana menghargai kemanusiaan. Dengan alunan lagu dari Candra Malik, tarian-tarian Sufi serta pembahasan mengenai kreativitas seniman oleh Sujiwo Tejo, pertunjukan ini akan memberi warna, kesegaran dan sudut pandang baru bagi para penikmat seni dalam memandang kehidupan,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.


Candra Malik
Candra Malik merupakan seorang budayawan sufi. Setelah belajar Tasawuf kepada delapan mursyid (guru), kini ia sedang melanjutkan pembelajaran kepada Umbu Landu Paranggi, sufi penyair di Bali. Ia telah meluncurkan dua album religi, sejumlah Single, dan video klip, serta soundtrack film dan berkolaborasi dengan banyak tokoh antara lain, Idris Sardi, KH Mustafa Bisri (Gus Mus), Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Iwan Fals, Addie MS, Dewa Budjana, Tohpati, Jockie Suryoprayogo, Leo Kristi, Sujiwo Tejo, Butet Kartaredjasa, dan Trie Utami. Candra Malik juga menggagas dan menjadi mentor utama dalam program edutainment ke pesantren-pesantren bertajuk Santri Bernyanyi.

Sujiwo Tejo
Sujiwo Tejo adalah seniman serbabisa. Dia penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu, dia sutradara, pemain film dan teater. Sujiwo Tejo telah merilis empat album, yaitu Pada Suatu Ketika (1998), Pada Sebuah Ranjang (1999), Syair Dunia Maya (2005), Yaiyo (2007), Mirah Ingsun (2012), dan sebuah album kompilasi 2012 (2012). Sejumlah bukunya, antara lain, berjudul Ngawur Karena Benar, Jiwo Jancuk, Lupa Endonesa, Republik Jancukers, Dalang Galau Ngetwit, dan Rahvayana Aku Lala Padamu.

Endo Suwanda
Lahir di Majalengka, Jawa Barat, 14 Juli 1947, Endo Suwanda sejak usia 10 tahun, adalah seorang nayaga dan penari tradisi. Belajar membuat topeng, tari dan karawitan Cirebon sejak tahun 1969, dia mendapat beasiswa untuk program MA di Wesleyan University, Middletown, Connecticut, Amerika Serikat (1979-1983). Meraih gelar Ph.D. etnomusikologi dari Washington University, Amerika Serikat (1987-1991) dan menjadi asisten untuk musik gamelan. Pengajar tetap di Institut Seni Indonesia Bandung ini aktif menulis dan memberikan lokakarya dan pertunjukan seni keliling dunia. Endo juga mengelola Tikar Media Nusantara dan Lembaga Pendidikan Seni Nusantara untuk pengajaran seni dan budaya di sekolah. Sudah ribuan sekolah di 12 provinsi yang menerima bahan ajar dari kedua lembaga yang diasuh etnomusikolog ini.

Syamsi Rizki
Lahir di Jakarta, 4 Februari 1977, Syamsi Rizki adalah Sufi dari Thariqat Naqsabandiy Haqqani yang berba'iat kepada Syekh Hisyam al Kabbani. Menyelesaikan kuliah Diploma IV di Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti pada 1999, dia mengawali karir sebagai penyiar radio, belajar copywriting secara otodidak, dan saat ini menekuni video directing. Dia adalah salah satu dari sekian banyak Sufi yang hidup berbaur bersama masyarakat sebagai seorang profesional.

Minladunka Band
Minladunka Band merupakan kelompok band dari Bandung, Jawa Barat, berdiri sejak April 2012. Mengiringi Candra Malik sejak tur konser Djarum Coklat Ngabuburit 2012 Iwan Fals & Candra Malik. Terlibat dalam rekaman album kedua dan sejumlah single Candra Malik. Para personilnya menjadi mentor pendamping dalam program Santri Bernyanyi ke pesantren-pesantren bersama Candra Malik.

Galeri Indonesia Kaya
Galeri Indonesia Kaya merupakan ruang publik yang didedikasikan untuk masyarakat dan dunia seni pertunjukan Indonesia sebagai wujud komitmen Bakti Budaya Djarum Foundation untuk terus memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Indonesia khususnya generasi muda agar tidak kehilangan identitasnya sebagai bangsa Indonesia.

Ruang publik yang berlokasi di West Mall Grand Indonesia Shopping Town lantai 8 ini merupakan yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dalam memadukan konsep edukasi dengan digital multimedia untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia, khususnya bagi generasi muda, dengan cara yang menyenangkan, terbuka untuk umum, dan tidak dipungut biaya.

Konsep desain mengangkat ke-khas-an Indonesia dalam kekinian diangkat di dalam interior seperti rotan, motif parang, bunga melati, batok kelapa dan kain batik tulis dari 12 daerah sebagai ornamen. Secara keseluruhan, terdapat 12 aplikasi yang bisa ditemukan di GIK, antara lain: Sapa Indonesia, Video Mapping, Kaca Pintar Indonesia, Jelajah Indonesia, Selaras Pakaian Adat, Melodi Alunan Daerah, Selasar Santai, Ceria Anak Indonesia (Congklak), Layar Telaah Budaya (Surface), Arungi Indonesia, Area Peraga, dan Fantasi Tari Indonesia.

Tempat seluas 635 m² ini juga memiliki auditorium yang didukung fasilitas modern sebagai sarana bagi pelaku seni maupun masyarakat umum untuk menampilkan berbagai kesenian Indonesia dan kegiatan lainnya secara gratis, termasuk pengunjung dan penontonnya. Setiap pelaku seni memiliki kesempatan yang sama untuk menggunakan auditorium, baik untuk latihan maupun pertunjukan.

Untuk dapat menggunakan semua fasilitas tersebut, masyarakat hanya perlu mengirimkan proposal program dan kegiatan kepada tim GIK. Proses kurasi serta pengaturan jadwal pementasan dan promosi ditangani langsung oleh tim internal untuk kemudian dipilihlah program-program yang sesuai dengan konsep Galeri Indonesia Kaya.

Mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta kita terhadap Indonesia, karena yang menyatukan bangsa adalah budaya. Cinta Budaya, Cinta Indonesia.