Thursday, July 17, 2014

Music Score


A film score (also sometimes called film music, background music, or incidental music) is original music written specifically to accompany a film. The score forms part of the film's soundtrack, which also usually includes dialogue and sound effects, and comprises a number of orchestral, instrumental or choral pieces called cues which are timed to begin and end at specific points during the film in order to enhance the dramatic narrative and the emotional impact of the scene in question.

Scores are written by one or more composers, under the guidance of, or in collaboration with, the film's director and/or producer, and are then usually performed by an ensemble of musicians – most often comprising an orchestra or band, instrumental soloists, and choir or vocalists – and recorded by a sound engineer. (Wikipedia)


Musik memiliki peran besar dalam industri film. Pada era film bisu, alunan nada yang dimainkan menjadi kunci utama yang memberi efek kuat untuk menghadirkan suasana dalam setiap adegan.

Great Train Robbery dianggap sebagai film pertama yang dikenal secara komersial yang dirilis tahun 1903. Film yang berdurasi cuma 12 menit itu berhasil memukau penonton dan dianggap sebagai tonggak baru dunia hiburan. Bisa dibayangkan jika keberadaan film bisu itu masih dipertahankan hingga saat ini, sudah pasti ceritanya akan kehilangan kekuatan emosi.

Beberapa tahun kemudian, setelah Great Train Robbery, dunia perfilman mendapat jawaban agar lebih meningkatkan kualitas film. Dengan menggunakan papan dialog dan iringan musik yang disesuaikan dengan adegan, film mendapatkan arah untuk menghadirkan keberagaman cerita serta genre.

Namun, seiring dengan perkembangannya, peran musik tidak hilang dimakan waktu, dan tetap menjadi aspek penting dalam film. Benar, musik dapat memperkuat suasana dramatis dalam berbagai genre film, juga menginformasikan soal waktu, era, dan zaman. Bahkan musik digunakan untuk menimbulkan efek ketakutan dan kengerian penonton. Biasanya sineas film menggunakannya saat menciptakan film bergenre horor atau thriller.

Dunia Disney, yang penuh dengan imajinasi, kreativitas, dan kisah yang mempesona, tentu harus menjadi contoh tentang keindahan serta pentingnya musik yang menemani film. Melalui visi yang dipertahankan oleh sosok Walt Disney hingga saat ini, film karya Disney selalu mempersembahkan lebih dari sekadar hiburan

Dari film animasi hingga feature, karya Disney selalu ditunggu penggemarnya dari segala umur dan lintas generasi. Tidak terkecuali musiknya yang khas dan everlasting.

Sejak Disney memasuki dunia animasi dan film, jarang sekali karya musiknya yang luput dari perolehan penghargaan. Misalnya, dalam Academy Award 2014, lagu Let It Go, soundtrack film animasi Frozen, menjadi pemenang dalam perhelatan insan perfilman itu. Musikus besar seperti Elton John, Phil Collins, Sting, Bryan Adam, Christina Aguilera, dan Mandy Moore merilis kreativitasnya dalam balutan Disney.


Satu Nada Penanda

Hanya mendengarkan nada yang dimainkan, kita akan tahu film yang sedang diputar.

Selain memang menjadi satu kesatuan dengan film, musik tidak hanya membantu meraih tujuan menciptakan perasaan sedih, marah, benci, hingga rasa takut. Sisi lainnya adalah musik dapat membentuk identitas film itu sendiri.

Paling tidak kita akan mengetahui dengan pasti film yang sedang diputar hanya dengan mendengarkan musik yang tengah mengalun. Popularitas sebuah film tak hanya ditentukan oleh jumlah penonton dan laba yang masuk, tapi oleh karakter tertentu, seperti musik, yang dapat dengan mudah dikenali orang.


John Towner Williams, atau yang lebih dikenal dengan John Williams, adalah komposer, konduktor, dan pianis. Dia sudah lama berkecimpung dalam industri perfilman. Salah satu karya besarnya dihasilkan ketika bekerja sama dengan George Lucas dalam film Star Wars. Walau film yang dirilisnya sudah memiliki banyak sekuel, karyanya tetap menjadi ikon yang sulit dilepaskan.

Kalimat pembuka, ”A galaxy far, far away,” yang diikuti dengan musik megah karyanya dikenal secara mendunia sebagai musik pembuka yang identik dengan Star Wars. Kemegahan itu diulangi lagi dalam film Indiana Jones, ET, Superman, Harry Potter, Jaws, Superman, dan Jurassic Park. Selain membantu film memenuhi tujuannya, John Williams berhasil mengidentifikasi karyanya yang lekat dengan film tersebut.

Dengan kejeniusannya, Williams melakukannya tidak hanya dalam satu genre film. Tangan dinginnya berhasil melakukannya dalam banyak film yang lain. John Williams meraih 5 piala Academy Award, 4 Golden Globe, dan 7 British Academy. Dengan meraih total 49 nominasi Academy Award, nama John Williams kini berada di posisi kedua, di bawah sosok ternama lainnya, Walt Disney.

Tentu saja bukan hanya John Williams yang memiliki pengalaman itu. Walau tidak sebanyak yang digarap Williams, tidak sedikit film lain yang bernasib serupa di tangan komposer yang berbeda.

Dilansir dari situs Craveonline, dalam artikel 30 Unforgettable Music Score dikatakan, setidaknya ada beberapa nama komposer ternama lainnya yang mampu melakukan apa yang dilakukan Williams melalui karya-karyanya. Berikut ini beberapa di antaranya.

Henry Mancini: sosok yang karyanya dikenal saat musiknya mengalun dalam film The Pink Panther. Namun, khusus di Indonesia, musiknya mungkin dikenal saat menjadi tema utama Warkop. Dengan meraih empat piala Oscar sebagai komposer musik film, dia tergabung dalam lebih dari 200 film, seperti Breakfast at Tiffany's, Days of Wine, dan Ghost Dad.

Max Steiner: karyanya kebanyakan dikonsumsi dalam genre drama. Steiner berhasil menemani setiap adegan dengan karyanya yang sangat mengagumkan. Tak kurang dari 200 judul film mencatatkan namanya dalam credit title. Banyak yang menyebut, hanya dengan karyanya dalam Gone with the Wind, dia layak disebut sebagai komposer terbesar yang pernah ada.

Bernard Herrmann: orang yang berjasa terhadap Alfred Hitchcock karena memiliki peran besar menjadikan Psycho sebagai film thriller yang paling menakutkan. Film ini bahkan menjadi tren dunia perfilman horor pada saat itu. Adegan pembunuhan ikonik, yang rencananya dihadirkan tanpa suara oleh Hitchcock, tetap diisi oleh Herrmann. Hasilnya yang memuaskan membuat Hitchcock memberi suntikan dana lebih atas tugasnya yang luar biasa.

Vangelis: komposer besar yang memiliki pengalaman unik. Walau Chariots of Fire memang berhasil memenangi penghargaan untuk kategori Best Picture, yang mengalahkan Reds dan Indiana Jones: Raiders of the Lost Ark, musik yang diciptakannya justru lebih populer dibanding filmnya.

Monty Norman: karyanya dikenal melalui film yang identik dengan tokoh spionase yang memiliki kemampuan dan karisma yang tinggi. Film yang mengangkat karya Ian Fleming itu membutuhkan musik yang pas untuk menggambarkan sosok ikonik James Bond. Berawal dari film Dr. No, karya Norman identik dengan film-film agen MI6 hingga saat ini.


Mempopulerkan Musikus

Tak sedikit musikus atau penyanyi yang memperoleh nama besar setelah membawakan soundtrack.

Begitu besar arti musik bagi film. Tentu sulit dibayangkan jika kita harus kembali ke era film bisu dengan semua keterbatasannya. Maka kerja sama antara komposer dan musikus lainnya akan dapat menghasilkan music score yang baik. Masuknya musikus dalam industri film merupakan cara efektif lainnya yang tidak boleh dilupakan.

Musikus dengan karyanya mendapat kesempatan melakukan hal yang sama dan memberi dampak serupa. Sebab, banyak sekali penyanyi dan grup band besar yang berkesempatan menyelipkan karya mereka menjadi bagian dari film dalam beberapa adegan.

Tentunya hal itu akan melahirkan kebanggaan yang istimewa. Bahkan tidak sedikit yang menuai popularitas luas setelah karyanya diperdengarkan melalui film dibanding sebelum menjadi soundtrack film.

Proses pembuatan musik atau lagu yang dilakukan musikus jelas berbeda dengan yang digarap oleh komposer yang memang dipersiapkan untuk film. Tak sedikit lagu yang dibawakan musikus memang berdiri sendiri, tanpa dimaksudkan untuk disesuaikan dengan filmnya. Maka proses seleksi pemilihan lagu dari genre, judul, hingga lirik menjadi alasan mencari musik yang tepat untuk mengiringi film.

Banyak yang bisa dijadikan contoh bagaimana soundtrack membuka pintu bagi musikus mendapat ketenaran. Film Rocky, misalnya, berhasil mempopulerkan band Survivor dengan lagunya, Eye of the Tiger.

Pada 1986, Peter Cetera mendapat kesempatan yang sama saat lagunya menjadi soundtrack Karate Kid II. Dengan tema yang sesuai, sulit memisahkan film tersebut dengan lagu Cetera yang berjudul Glory of Love.

Begitu pula dengan film Saturday Night Fever, yang dirilis pada 1977. Pada era ketika suasana disko masih menggema, lagu Stayin’ Alive, yang dibawakan oleh Bee Gees, menjadi karya yang melekat dengan film yang diperankan oleh aktor besar John Travolta.

Namun ada contoh besar bagaimana musik bisa bergema sama besar dengan filmnya. Hal itu terjadi saat sutradara James Cameron menggarap film tentang kecelakaan kapal yang sangat bersejarah, yakni Titanic.

Kesuksesan yang mendunia diraih Titanic dengan memperoleh banyak penghargaan, tidak terkecuali di bidang musiknya. My Heart Will Go On, yang dinyanyikan oleh Celine Dion, menjadi hit besar sepanjang karier penyanyi bersuara emas asal Kanada itu.

Sumber: MALE Zone by Dedy Sofan, MALE 92 http://male.detik.com