Thursday, July 17, 2014

Sneakerhead


Keberadaan sneaker semakin luas, dan pada saat bersamaan musik hip-hop tengah merintis jalan ke atas. Di Carnegie Mellon University terdapat program kuliah Sneakerology 101. Koleksi sneakerhead tersebut meliputi sneaker eksklusif atau edisi terbatas.



Sneakerhead adalah sebutan bagi penggila sneaker. Mereka mengoleksi dan kaya berkat sepatu bersol karet ini.

Sneaker atau sepatu bersol karet sebenarnya sudah ada sejak dulu, tapi baru mencapai puncak dalam kebudayaan pop pada 1980-an. Sepatu yang dikenal untuk bermain bola basket ini memang mengawali popularitasnya dari cabang olahraga permainan ini.

Adapun Michael Jordan saat itu sangat memukau dengan berbagai aksi mengoper, melempar, dan memasukkan bola. Tentunya popularitasnya dilirik oleh produsen sepatu olahraga internasional asal Amerika Serikat. Kemudian, pada 1985, meluncurlah produk bernama Air Jordan, dengan filsafat tentang kemampuan Jordan “berjalan di udara” ketika akan memasukkan bola.

Keberadaan sneaker semakin luas, dan pada saat bersamaan musik hip-hop tengah merintis jalan ke atas. Salah satu aksesori yang wajib dipakai oleh rapper kala itu adalah sneaker. Gaya bersepatu ini lalu ramai-ramai ditiru oleh anak muda saat itu.

Kemudian terlihat pergerakan dalam masyarakat, khususnya anak-anak muda. Sneaker bukan sekadar sepatu bersol karet yang dipakai untuk berolahraga. Lebih dari itu, sneaker lantas menemukan jalan sebagai simbol status pemakainya. Ada merek dengan model tertentu yang mengisyaratkan kedudukan pemakainya dari kalangan elite.

Namun, bagi para pengoleksi sneaker atau sneakerhead, sepatu bersol karet ini adalah segala-galanya. Mereka tidak memakai sepatu ini, melainkan mengumpulkannya sebagai hobi. Mereka adalah pakar sneaker dan sangat memahami ihwal sepatu ini dengan baik.

Hanya dengan melihat sekilas, sneakerhead sudah tahu sneaker yang ada di depannya asli atau palsu. Bahkan di Carnegie Mellon University terdapat program kuliah Sneakerology 101. Kelas kuliah ini mengajarkan sejarah pengoleksian sneaker.

Sneakerhead tak hanya mengoleksi sneaker untuk cabang olahraga tertentu, tapi melihat kualitas produksi dan nilai yang ada di dalamnya. Koleksi para sneakerhead ini meliputi Air Jordan, Air Force 1, Nike Dunk, Nike Skateboarding, Nike Foamposite, Nike Air Max, dan Nike Air Yeezy.

Koleksi yang beragam itu memang hanya terlihat sebagai sepatu bersol karet. Namun koleksi sneakerhead tersebut meliputi sneaker eksklusif atau edisi terbatas. Ada pula sneaker yang warnanya berbeda dengan yang sejenisnya, yang menjadikannya sneaker langka. Bisa juga sneaker itu dibuat dengan teknik pengecatan manual alias dikerjakan dengan tangan manusia, bukan mesin.

Custom sneaker menempati posisi tersendiri di kalangan sneakerhead. Dengan merancang sendiri dan menentukan warna yang disukai, hasrat penggila sneaker akan terpenuhi. Melihat fenomena ini, produsen sepatu Nike dan Reebok membuka toko custom untuk memenuhi keinginan sneakerhead. Mereka dibebaskan memilih material dan warnanya.

Sneakerhead tak mengenal tingkatan usia atau status sosial. Tak sedikit pesohor Hollywood yang menjadi sneakerhead, seperti Mark Wahlberg. Majalah Forbes pernah mencatat sneakerhead mencakup 5 persen pembeli sneaker yang ada atau senilai US$ 1,1 miliar hanya di Amerika.


Tak mengherankan bila sneakerhead tak sekadar mengoleksi sneaker, tapi melakukan investasi. Di eBay, konon, ada sekitar 11 juta sneaker yang dijual dengan sistem lelang. Sejak Mei 2013 sampai April 2014, pasar ini menyerap penjualan sekitar US$ 309 juta.


Bisnis Sneaker, Bisnis Miliuner
Jangan menganggap sneaker hanya sepatu bersol karet, lebih dari itu bisnisnya menembus angka miliaran rupiah. Situs Campless.com menghitung pasar resale sneaker di eBay mencapai US$ 200 juta. Adapun Jordan Brand, yang menjadi favorit sneakerhead, terjual sekitar US$ 2,5 miliar tahun lalu. Setengah dari penjualan itu merupakan Jordan Retro, yang disusul di bawahnya brand Marquee dengan angka US$ 500 juta.

Bila digabungkan semua angka itu—Jordan, Jordan Retro, dan Marquee—pasar sneaker mencapai US$ 1,75 miliar. Itu pun hanya pasar di Amerika. Konon, secara keseluruhan pasar sneaker mencapai nilai US$ 21 miliar per tahun.

Tak mengherankan bila sneakerhead tak sekadar mengoleksi sneaker, tapi melakukan investasi. Inilah yang kemudian mengubah filosofi memiliki sneaker. Anak-anak sekarang melihat ekor yang mengikuti sneaker. Padahal, dua atau tiga dekade sebelumnya, memiliki sneaker menunjukkan gengsi tersendiri.

Para sneakerhead mengetahui sneaker mana yang memiliki nilai tinggi dan rendah. Tak aneh bila penjualan perdana suatu brand dengan model tertentu dapat memancing sneakerhead bermalam di depan toko. Bahkan, kabarnya, di beberapa kota di Amerika sempat terjadi kerusuhan karena penjualan perdana ini.

Membeli sneaker dari sneakerhead bukan perkara mudah. Kebanyakan sneakerhead adalah remaja yang ternyata sangat pandai melakukan negosiasi. Mereka menjamin keaslian sneaker yang dijual, bahkan sampai detailnya dapat ditunjukkan. Soal harga, jangan ditanya. Karena mereka sangat ahli, harga yang ditawarkan di atas harga pasar.

Perburuan sneaker memang melelahkan, yang dimulai dengan melakukan negosiasi sampai bermalam di depan toko penjual sneaker. Namun teknologi digital membantu sneakerhead melakukan perburuannya.


Beberapa retail online atau situs lelang kerap dipantau oleh sneakerhead demi melengkapi koleksinya. Situs-situs ini memiliki koleksi yang dapat dikatakan langka dan eksklusif. Kebanyakan situs tersebut mendapatkan koleksi mereka dari pemilik langsung dan dijual dengan sistem konsinyasi.

Sementara itu, di eBay, konon, ada sekitar 11 juta sneaker yang dijual dengan sistem lelang. Sneaker yang ada merupakan sepatu bekas, tapi masih terlihat apik. Inilah pasar sesungguhnya para sneakerhead, pasar sepatu bekas. Pasar ini terbentuk dari jumlah produksi yang terbatas pada model tertentu, sedangkan permintaan membeludak.

Namun harga yang ditawarkan lebih miring dibanding harga retail. Harganya bisa murah, karena penjual tidak mendapatkan informasi yang pasti mengenai eksistensi sneaker tersebut. Bisa jadi sneaker yang ditawarkan memang tengah diburu orang.

Hasil riset yang dilakukan oleh Campless menunjukkan adanya kenaikan penjualan di pasar bekas ini. Sejak Mei 2013 sampai April 2014, pasar itu menyerap penjualan sekitar US$ 309 juta. Diperkirakan, pada Mei 2014 sampai April 2015, penjualan akan naik 50 persen lagi. Jika hal itu terjadi, pasar ini menggulung uang sekitar US$ 465 juta. Adapun Campless hanya meriset satu pasar.

Keberadaan sneakerhead sedikit-banyak mengubah cara pandang terhadap pasar oleh produsen sepatu olahraga. Kemajuan teknologi membuat permintaan bergerak dari media sosial yang ada. Bila olahragawan idola memakai model tertentu, muncul dorongan untuk memilikinya.

Jika ada yang disukai, tinggal bergeser ke toko online dan mengeklik tombol Buy Now. Tapi tak mudah mendapatkan sneaker berlabel limited edition. Bisa jadi, hanya menunggu beberapa bulan, sudah ada di lelang eBay.

Sebenarnya yang ada di kepala sneakerhead bukan melulu soal keuntungan. Lebih dari itu, mereka ingin menjadi orang pertama yang memiliki sneaker tersebut.

Sumber: MALE  Zone by Paksi Suryo, MALE Edisi 92 http://male.detik.com