Thursday, July 17, 2014

Video Musik



Video musik pernah mencapai jaya-jayanya pada era 1980-an.  Tapi sebetulnya, hingga sekarang, video musik terus berkembang, bahkan mediumnya tidak hanya TV, tapi juga Internet.

Perkembangan video musik umumnya identik dengan perkembangan industri musik itu sendiri. Sebuah negara yang industri musiknya maju, bisa dipastikan video musiknya juga dapat berkembang cepat. Amerika Serikat, misalnya, hampir seluruh dunia menikmati produknya, mulai dari industri musik hingga video musik lewat MTV-nya membuat musik yang berevolusi menjadi video klip musik.

MTV sekarang memang bukan satu-satunya TV yang menayangkan video musik, tapi beberapa stasiun TV yang lain juga sering menyelipkan beberapa video musik.  Bahkan di Indonesia, misalnya, hampir seluruh televisi menayangkan acara video musik sebagai salah satu program andalanya.

Menonton Musik
Video musik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film pendek. Hanya, video musik merupakan perpaduan antara lagu dan gambar. Biasanya video musik berkaitan dengan kepentingan promosi dan penjualan album atau single sang penyanyi atau musisi.

Sebelum MTV tahun 1980-an, video musik sebenarnya sudah ada sejak dekade sebelumnya, hanya penamaannya tidak seragam dan cenderung membiaskan makna sebenarnya. Istilah yang dipakai kala itu seperti song video, song clip, film clip, dan filmed insert.

Dalam perkembangannya, video musik tak hanya menampilkan film bermusik. Lebih dari itu, keberadaannya sejalan dengan kemajuan teknologi atau tren yang tengah digandrungi di dunia perfilman.

Sejak suara memasuki dunia perfilman, banyak film yang berisi musik dan lagu. Adapun video musik baru ada pada 1950-an. Tony Bennet adalah penyanyi pertama yang merekam dan menyiarkannya di AS serta Inggris. Namun yang digarap dengan sungguh-sungguh adalah video musik Jailhouse Rock, yang dibawakan oleh Elvis Presley.

Jika mengacu pada tujuan pembuatannya sebagai promosi dan penjualan album atau single, video musik Dame si do bytu (Let's Get to the Apartment) garapan Ladislav Rychman pada 1958 adalah yang paling tua.

Tak dapat dibantah The Beatles-lah yang menetapkan dasar pembuatan video musik saat ini, dengan filmnya, A Hard Day’s Night (1964), yang disutradarai oleh Richard Lester. Film hitam-putih itu dibuat seperti film dokumenter, yang memasukkan unsur komedi dan dialog yang ditingkahi musik. Bila bagian per bagian film tersebut dipotong, akan menjadi kesatuan yang berdiri sendiri. Walhasil, bagian yang menampilkan adegan bernyanyi seolah menjadi model bagi pembuatan video musik saat ini.

Film kedua The Beatles, Help! (1965), lebih mumpuni lagi. Film berwarna itu menggunakan berbagai teknik pengambilan gambar, yang pada saat itu tidaklah lazim. Misalnya, pengambilan gambar lebih berfokus pada foreground kepala gitar George Harrison ketimbang sosok John Lennon yang berada di belakangnya. Baru pada 1965 itu The Beatles peduli terhadap keberadaan video musik, atau kala itu disebut filmed insert. Maka lahirlah video musik Rain/Paperback Writer, Strawberry Fields Forever, dan Penny Lane.


Internet Merangkul Video
Pada 2005, perkembangan teknologi digital semakin pesat, video musik pun ikut masuk ke Internet. Sebetulnya, sejak 1997, situs iFilm menjadi host bagi video pendek. Lalu pada 1999-2001 Napster membuka layanan sharing video.

Puncaknya, pada 2005 meluncurlah website YouTube, yang membuat terobosan menonton video online menjadi lebih mudah dan cepat. Situs ini melekat di kepala orang, sehingga mencari video, berarti membuka YouTube. Semakin lama musikus yang melihat kesempatan ini semakin menyadari posisi YouTube sebagai jalan untuk lebih meluaskan popularitas videonya.

Salah satu yang mengenyam manisnya keberadaan YouTube adalah Weezer, dengan video musik Pork and Beans pada 2008. Single itu menjadi karya Weezer yang paling sukses akibat efek video musik yang diunggah ke YouTube.

Sayangnya, YouTube harus berhadapan dengan RIAA, yang mempertanyakan hak intelektual atas penayangan berbagai video musik itu. Legalitas kepemilikan video musik tersebut berada di tangan label musik yang merilis karya itu. Setelah merger dengan Google, YouTube mencari cara membayar royalti pemutaran sebuah video musik.

Namun masalahnya tidak sesederhana itu. Tiap label memiliki kebijakan sendiri dalam merilis video musik. Rata-rata label itu merilisnya sebagai bentuk promosi penjualan produknya.

Yang jelas, video musik menciptakan popularitas tersendiri bagi para musikus. Thirty Seconds to Mars, misalnya, pada 2009 mengangkat Kings and Queens ke YouTube, yang langsung dilihat oleh 100 juta penonton. Di MySpace, video musik ini ditonton oleh 40 juta orang. Adapun di iTunes Store, video musik tersebut menjadi Video of the Week dan salah satu video musik yang kerap diunduh. Video itu menghasilkan empat nomine dalam MTV Video Music Awards 2010.

Yup, video musik saat ini tak hanya dapat dinikmati di televisi. Koneksi dan kecepatan Internet yang semakin baik membuat video musik sangat mudah ditonton secara online. Dengan kepemilikan bersama antara Universal Music Group, Sony Music Entertainment, Google, dan Abu Dhabi Media, meluncurlah Vevo pada akhir 2009. Video musik yang ada merupakan milik perusahaan bersama, yang membagi kue iklan dengan Google sebagai pemilik YouTube.

Video musik di jaringan Vevo diambil dari perpustakaan tiga label besar, yakni Universal, Sony Music, dan EMI. Maka Vevo tak pernah kehabisan video musik karya musikus ternama. Konon, Warner Music Group sempat tertarik bergabung, tapi akhirnya memilih MTV Networks.

Sumber: MALE Zone – Paksi Suryo Raharjo, Majalah MALE 91 http://male.detik.com