Sunday, August 17, 2014

Vaporizer



Teknologi mengubah tradisi. Seorang perokok tembakau, misalnya, boleh jadi punya alternatif baru untuk tetap memenuhi kebutuhannya itu. Saat ini tengah marak kebiasaan baru bernama vaping, dengan memanfaatkan personal vaporizer.

Inilah alternatif baru bagi perokok yang hendak mengganti tembakau tanpa kehilangan kenikmatannya. Vaping generasi pertama bersanding dengan tembakau, dan sama sekali tak menghilangkan eksistensi rokok dalam arti sebenarnya.

Rokok elektrik, atau kerap disebut e-cigarette, memberikan rasa dan sensasi fisik mirip dengan asap tembakau yang dihirup, sementara tidak ada tembakau, asap, atau pembakaran benar-benar terlibat dalam operasi perusahaan. Rokok elektronik biasanya berbentuk tabung beberapa cara memanjang, meskipun banyak yang dirancang untuk menyerupai penampilan luar produk merokok nyata, seperti rokok, cerutu, dan pipa.

Kelebihan rokok elektrik tidak menggau kesehatan, karena tidak mengandung nikotin secara berlebihan, sehingga baik untuk kesehatan Anda. Inilah datar kelebihannya: tidak ada abu, tidak bau, simpel & modern, ramah lingkungan, asap tidak mengganggu orang sekitar, tidak mengandung tembakau yang mengandung lebih dari 3.000 zat beracun, nikotin sangat rendah, tidak mengandung TAR, dapat memilih berbagai macam rasa yang berbeda-beda (kopi, menthol, dan lain-lain), tidak memerlukan pembakaran, dapat digunakan di ruangan ber-AC, tidak membuat gigi menjadi kuning,  batere dapat di isi ulang – tahan 2-3 jam, dapat dipakai selama 1-3 tahun.


Perjuangan Mengangkat Eksistensi
Konon, vaping sudah ada sejak 1963, diperkenalkan oleh Herbert A. Gilbert. Namun nama Hon Lik lebih dikenal sebagai sosok yang berperan mengawali kehadiran vaping hingga kini. Inilah salah satu cara yang digunakan produsen rokok elektrik dalam menyanding tembakau. Tentu jargonnya: meminimalkan risiko yang diyakini disebabkan oleh rokok tembakau.

Tujuannya menjadi wadah pengguna vaping untuk sharing pengalaman, termasuk memberi pencerahan dan mengubah mindset pemakai yang masih baru.

Melihat perkembangan vaping yang semakin pesat dan memiliki banyak peminat, Amms, pengurus komunitas vaping, Jakarta Vaping Colony (JVC), menilai sebagai hal yang positif.

Komunitas JVC, yang memiliki 50 anggota resmi, terdiri atas orang yang sudah berpengalaman dan pengguna baru. Komunitas ini bertujuan menjadi wadah pengguna vaping untuk sharing pengalaman, termasuk memberi pencerahan dan mengubah mindset pemakai yang masih baru.

Dengan makin banyaknya produk vaping di Indonesia, penguasaan product knowledge menjadi keharusan. “Karena, sama seperti perangkat elektronik lainnya, perangkat yang dijual memiliki berbagai macam pilihan dan kualitas. Jangan sampai nantinya, pengetahuan yang minim justru akan merugikan pengguna vaping,” kata Amms.

Ghea, makeup artist, misalnya, merasakan banyaknya perubahan positif. “Kesehatan dan napas saya lebih enak, dan itu terasa banget saat berenang,” tuturnya. Proses Ghea mengganti rokok menjadi vaping terjadi sedikit demi sedikit. Kini ia menggunakan vaping sebagai gaya hidup, dan sangat menikmati rangkaian rasa uniknya yang ditawarkan.

Suck, Collect & Show It
Kini sudah banyak permintaan dari kalangan tertentu akan produk berharga mahal dari brand ternama. Vaping pun kian berkembang hingga menghadirkan model yang lebih beragam dari jenis yang ada.

Adit, pendiri toko online Artomelab, yang menjual berbagai macam perangkat vaping dan aksesorinya, mengemukakan desain atau model vaping semakin banyak. Dengan kata lain, diversifikasi model yang beragam membentuk identitas yang berbeda dengan pengguna vaping lainnya.

Begitu pula dengan harga, pada awalnya Adit memang menjual perangkat vaping yang masih tergolong memiliki harga yang terjangkau. Tapi kini sudah banyak permintaan dari kalangan tertentu akan produk berharga mahal dari brand ternama, dengan bentuk yang unik, teknologi terbaru, dan penggunaan material yang berkelas.

Jenis vaping yang ada saat ini, mechanical dan electrical, memiliki kelebihan yang unik. Yang mechanical memiliki konsep sederhana, mirip senter. Adapun vaping jenis electrical relatif lebih memudahkan penggunanya. “Tinggal plug and play, meski tidak bisa disebut mudah juga. Tapi pengguna vaping electrical biasanya memiliki experience lebih banyak di dunia vaping,” ungkapnya.

Seperti telepon seluler yang bergerak dinamis, teknologi yang disematkan dalam vaping juga mengalami peningkatan yang tergolong cepat. Misalnya, kini hadir cip yang dapat mengatur voltase, watt, dan beberapa fitur lainnya. Hal ini pula yang menjadi pembeda keduanya: jenis mechanical berfokus pada model, sedangkan yang electrical lebih menekankan teknologinya.

Dampak serupa terjadi pada liquid vaping, yang berjasa mengantarkan rasa yang unik bagi pengguna. Keberagaman rasa juga mengalami peningkatan. Dari rasa buah-buahan, berbagai jenis minuman, hingga mother's milk tersedia, mulai harga murah sampai yang tergolong mahal karena kelas premium.

Hal itu jelas berbeda dan menjadi kelebihan vaping dibanding merokok. Rasa yang sudah baku dipersembahkan oleh produsen rokok, sedangkan pengguna vaping diberi keleluasaan memadukan atau mixing berbagai rasa hingga menciptakan signature flavor yang khas.

Maka klaim vaping kini bergeser menjadi gaya hidup merupakan hal yang wajar, dengan keberagaman kelas, yang dilihat dari model, harga, hingga kualitas. Terbentuknya kelas sosial dan komunitas vaping yang beragam menciptakan lingkaran gaya hidup berbagai kalangan untuk menunjukkan eksistensi mereka.

Apalagi tiadanya ancaman dari segi kesehatan menjadi daya tarik vaping yang besar bagi kalangan smoker yang ingin berhenti merokok. Selain itu, ada kalangan non-smoker yang ikut menjadi pengguna vaping karena sensasi dan rasanya yang unik.

Sumber: MALE Zone by Dedy Sofan, MALE 95 http://male.detik.com