Monday, September 08, 2014

Arisan

Acara arisan memang sudah jamak di Indonesia. Tapi yang ini adalah arisan ibu-ibu sosialita yang memperebutkan pria muda. Ini pun ternyata tidak asing di kalangan atas Jakarta, serta kota-kota besar di Indonesia. Fenomena ini sudah banyak ditulis di beberapa media, bahkan ada yang memfilemkannya dengan judul Arisan Brondong. Film ini dirilis pada 18 Februari 2010, disutradarai oleh Helfi Kardit dan dibintangi antara lain oleh Bella Saphira, Heather Storm, dan Randi Fadillah.

Yup, hedonis bukan hanya monopoli pria, tapi sejumlah sosialita ternyata rutin mengadakan pesta dengan ‘hidangan utama’ pria berstamina plus. Kegiatan yang mereka lakukan sejauh ini sangat aman, karena para suami juga sudah saling kenal. Bahkan sampai menginap pun para suami tidak menaruh curiga terhadap kegiatan mereka.

Memang tidak hanya di Jakarta yang cenderung lebih “bebas”, Tribunnews.com pernah menelusuri kegiatan ini di Palembang. Sekelompok wanita usia 40an tahun aktif menggelar arisan berhadiah brondong. Sekali lelang, nilainya bisa mencapai Rp 20 juta. Arisan digelar tertutup di rumah mewah atau di VIP room karaoke. Transaksi ini terorganisasi dengan rapi, terdapat peran makelar yang menyediakan berbagai tipe pria sesuai selera tante-tante girang itu.

Beberapa germo yang berkeliaran di kota metropolis ini berprofesi sebagai sopir taksi dan karyawan swasta. Mereka mengenalkan brondong 'koleksinya' ke pemesan dengan imbalan fee sekitar 20 persen dari nilai transaksi.

Tanpa makelar, tante-tante ini kesulitan mendapatkan brondong sesuai keinginannya. Akses mendapatkan brondong itu memang tidaklah mudah. Butuh relasi sesama penyuka brondong. Karena itulah dibuat sistem arisan brondong agar para tante-tante kesepian ini bisa mendapat kepuasan.

Uang bukan masalah bagi para wanita-wanita sosialita tersebut. Berapa pun yang diminta akan diberikan, asalkan si lelaki mampu memenuhi hasrat mereka yang bergejolak. Untuk menyalurkan keinginan itu, mereka tak mau jalan sendiri-sendiri. Mereka percaya, dengan berkelompok, keamanan jauh lebih terjamin.

Jejaring Sosial
Selain lewat makelar, jejaring sosial kerap dipakai. Berikut penulurusan Majalah MALE. Sebutlah Amanda, sosialita berusia paruh baya, biasanya mencari pria muda alias brondong melalui jaringan Twitter. Di jejaring sosial itu ia memasang foto wanita lain yang lebih muda, cantik, dan seksi. Bukan hanya itu, ia juga kerap memancing dengan kata-kata yang mengundang gairah kelelakian. Kata-kata nakal yang menggoda diyakininya mampu menarik ikan menuju umpan kailnya. Ketika ikan sudah memakan umpan, direct message dikirim untuk menyeret si pria lebih jauh ke dalam pelukannya.

Ketika gayung bersambut, Amanda menyampaikan niat dirinya dan teman-temannya. Ia juga mengakui foto profil yang dipasang untuk menarik pria mendekat kepadanya. Amanda melakukan pendekatan selama dua minggu kepada, sebutlah Jon, sebelum pria tersebut menyatakan setuju bergabung dalam party-nya. Ia berjanji akan membayar jerih payah itu Rp 10 juta, asalkan Jon mau mengimbangi gairah dirinya dan teman-temannya semalam suntuk.

Nah, pada saat ditentukan itulah party bersama brondong terjadi!

Boleh jadi, Amanda dan kawan-kawan ingin mendapat kepuasan seks yang tidak diperoleh dari suami mereka. Tentunya tak bisa disembunyikan suami mereka, yang berusia jauh lebih tua, tak mampu mengimbangi gairah para istri yang masih meletup-letup.

Kegiatan yang mereka lakukan sejauh ini sangat aman, karena para suami juga sudah saling kenal. Yang pasti, tidak jadi masalah kalau para istri berkumpul dan jalan bareng. Bahkan sampai menginap pun para suami tidak menaruh curiga terhadap kegiatan mereka.

Ketika mengawali arisan tersebut, kelompok sosialita ini menikmati hidangan penutup dengan membayar gigolo. Namun lama-kelamaan mereka menjadi bosan dengan perilaku gigolo yang dianggap tidak tulus karena hanya memberi pelayanan profesional.

Di samping itu, mereka takut terkena penyakit kelamin dan penyakit menular lainnya. Maka diputuskan mereka mencari pria dengan persyaratan tertentu. Berburu pria seperti itu memakan waktu lama, tapi hasil akhirnya memuaskan. Bahkan mereka tak hanya memperoleh kepuasan, tapi juga layanan yang tulus tanpa dibuat-buat.

Untuk mengadakan acara penutup arisan itu, mereka biasanya memilih vila atau salah satu apartemen yang dimiliki sebagai tempat. Namun biasanya mereka melakukan pemanasan di tempat karaoke untuk lebih mengenal pria pemuas mereka. Misalnya, Jon, yang sudah langsung dipepet oleh tujuh wanita ini, ketika duduk di kamar private sebuah karaoke di kawasan Senayan. Seolah berlomba, para wanita tersebut berusaha mendekati Jon dan memegangnya layaknya boneka.

Sebelumnya, kepada Amanda, pria itu secara terus terang menyatakan memiliki fantasi menikmati gangbang dengan para wanita. Maka, ketika Amanda menawarkan aktivitas seksual dengan kelompoknya, Jon langsung mengiyakan tanpa berpikir panjang. Bahkan ia tak mempersoalkan jumlah rupiah yang ditawarkan. Yang penting, fantasi yang selama ini bermain di kepalanya dapat terwujud.

Pria yang mengaku pernah mengikuti kejuaraan tarung bebas internasional ini tak menolak ketika tangan-tangan wanita itu dengan gemas mulai menjelajahi tubuhnya. Ia hanya tersenyum ketika seorang teman Amanda bernama Fanny tiba-tiba meloncat dan memeluknya, sedangkan yang lain menertawakan polah itu. “Sudah enggak tahan!” teriak Amanda.

Hanya satu jam mereka saling mengakrabkan diri di tempat karaoke. Kemudian delapan orang ini meninggalkan ruang karaoke menuju vila milik Amanda, yang berada di Cipanas. Hasrat mendapat kepuasan hedonis ternyata tak mengenal usia.

Sofia - Lights On - MALE 98

Sumber: MALE Zone, MALE Edisi 98 http://male.detik.com