Saturday, September 13, 2014

Cosplay


Dunia fiksi memiliki konsep unik, indah, dan tentu daya tarik. Penyampaian melalui film, komik, game, dongeng, dan animasi menciptakan ruang bagi penyukanya untuk mewujudkan kecintaan terhadap cerita serta tokoh yang ada.

Sebagian orang mengoleksi berbagai aksesori yang berhubungan dengan film, komik, dongeng, game, atau film animasi favorit. Fenomena yang sedang trendy adalah cosplay. Cosplayer, sebutan bagi pelakunya, menawarkan sisi baru yang berbeda. Tokoh, yang awalnya hanya bisa dilihat melalui layar lebar, TV, dan komik, diwujudkan dalam dunia nyata.

Banyaknya jenis dan genre cosplay menjadi tantangan tersendiri untuk menciptakan karya yang menawan. Di sinilah pentingnya peran costume maker guna menunjukkan kemampuannya. Mereka tak hanya adu kreasi, tapi juga adu imajinasi.

Cosplay bukanlah budaya baru. Negara-negara Barat juga memiliki tradisi unik penggunaan kostum pada pesta dan hari-hari besar mereka. Dalam perayaan Halloween, misalnya, sekelompok orang mengenakan kostum yang identik dengan tokoh horor, tapi tak sedikit yang memakai kostum karakter yang berasal dari film.

Seiring dengan berjalannya waktu, industri manga dan film animasi asal Jepang berkembang pesat 1990-an. Hal itu memberi dampak penting bagi kehadiran cosplay di beberapa negara, yang kian banyak peminatnya. Sebutan cosplay pun dipahami secara lebih luas, tidak hanya milik Jepang, tapi internasional.

Lalu apa yang menjadikan cosplay memiliki kesan berbeda dibanding pesta kostum lainnya? Cosplay, bagi cosplayer, tak sekadar mengenakan kostum atau bertransformasi menjadi idolanya, lebih dari itu, merupakan pendalaman karakter tokoh yang diperankan. “Cosplayer harus mengikuti karakter tokoh yang diperankan,” kata Vian, peserta cosplay, dalam acara Battle of the Toys 2014, yang diselenggarakan pada 6-7 September 2014, di Balai Kartini, Jakarta.




Adu Kreasi, Adu Imajinasi
Membuat kostum cosplay tak sekadar perlu modal, tapi kreativitas. Eksistensi costume maker makin kuat dan menunjukkan tren positif. Mereka tak hanya adu kreasi, tapi juga adu imajinasi. Di Indonesia, pembuat kostum cosplay sudah muncul sejak era 1990-an.

Tak sedikit pembuat kostum cosplay mengawali karier karena tuntutan membuat kostum yang terjangkau kantong. Lambat-laun sponsor melihat potensi komersial cosplay. Inilah yang kemudian menjadi faktor yang mempengaruhi digelarnya berbagai event, yang tentunya merupakan momen yang tepat bagi costume maker merealisasi idenya. Tak sedikit pula yang mengambil keuntungan dari karyanya.

Tidak selalu menciptakan kostum memerlukan banyak uang. Semua dilihat dari jenis kostum, tingkat kesulitan, dan bahan yang digunakan. Inilah yang mendasari cosplayer lebih memilih membuatnya sendiri. Dengan membuat kostum sendiri, ruang kreativitas menjadi lebih fleksibel dan bujet dapat diatur sesuai dengan keinginan.

Memang, kebanyakan cosplayer lebih memilih membeli daripada harus melalui proses pembuatan. Maka terbuka kesempatan bagi costume maker menciptakan karya yang ready to wear. Apalagi saat ini sudah banyak industri pembuatan kostum cosplay yang dapat menghasilkan karya yang sempurna, memuaskan, dan berkualitas sangat baik. Ya, seperti di film itu sendiri, semua pemain mengambil peran masing-masing.

Sumber: MALE Zone by Dedy Sofan - MALE 99 http://male.detik.com

1 comment: