Monday, December 08, 2014

Instant Messaging


BERKOMUNIKASI kini semakin cepat, mudah, dan murah. Generasi masa kini sulit membayangkan bahwa untuk berkomunikasi jarak jauh dulu harus surat-suratan via jasa kantor pos. Kini, dengan memanfaatkan teknologi mobile, pesan jarak jauh bisa sampai dalam waktu beberapa detik saja.

Pada mulanya adalah komunikasi suara, kemudian teks atau yang dikenal sebagai short message service (SMS) yang lebih populer. Setelah lahir pada Desember 1992, SMS langsung hit dan dipakai sekitar empat miliar orang di seluruh dunia.

Tapi roda dunia terus berputar, seriring dengan perkembangan teknologi informasi, cara berkomunikasi pun berubah lagi. Dengan adanya fasilitas messenger pada smartphone, serta ketersediaan layanan perpesanan dari media sosial, jumlah pengguna SMS pun mulai menurun.

Asal tahu saja, sekitar 12% pendapatan operator telepon seluler di AS saat ini diperoleh dari layanan SMS. Jika pengguna ponsel beralih ke layanan messaging, seperti BlackBerry Messenger, Line, KakaoTalk, WeChat, WhatsApp, iMessenger, maupun media sosial, bisa dipastikan persentase pendapatan tersebut akan jauh mengecil.

Dari sekian banyak aplikasi chatting, WhatsApp merupakan layanan yang memiliki jumlah pengguna terbanyak di dunia. Aplikasi pesan instan ini memiliki 430 juta pengguna aktif pada Januari 2014. Perusahaan yang telah diakuisisi oleh Facebook ini melayani sekitar 28 juta pesan per hari sepanjang tahun lalu.

Penelitian lembaga riset Ovum menemukan bahwa sejumlah kelompok bisnis seluler, termasuk Vodafone Group, America Movil SAB, hingga Verizon Communications, penghasilan dari SMS mereka merugi 32,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 382 triliun) pada 2013.

Di Indonesia pun, sudah dipastikan, model bisnis operator selulernya tidak jauh berbeda dengan di AS. Inovasi adalah kata kunci untuk memasuki pasar digital yang selalu berubah, agar bisa terus survive bahkan berkembang. Harus move on, istilah zaman sekarang.


Revolusi Telekomunikasi
Manusia berkomunikasi dengan berbagai cara. Di zaman bahela, suku Indian menggunakan sinyal asap, yang berkembang sedemikian rupa menjadi berkirim surat. Lalu, teknologi bernama telegram pun ditemukan. Berikutnya Alexander Graham Bell menemukan telepon. Maka bertukar pesan menjadi lebih mudah, dari suara ke telinga melalui jaringan kabel. Setelah itu, Internet hadir dan membuat segalanya menjadi semakin mudah.

Era digital sudah semakin berkuasa, dan pengaruhnya ke semua industri membawa perubahan yang sangat signifikan. Begitu juga dengan industri telekomunikasi. Para operator jasa seluler bergelut dalam perang promosi produk di media. Operator yang satu menawarkan kecepatan Internet, yang lain memasang harga murah hingga kuota Internet yang tak terbatas.

Keberadaan SMS pun yang sempat berjaya, kini terancam oleh teknologi mobile Internet, yang menjanjikan mengirim pesan terasa sangat mudah. Apalagi munculnya banyak aplikasi messenger, berkirim pesan menjadi lebih efisien, dan jauh lebih murah bahkan cenderung gratis.

Tak pelak biaya percakapan antartelepon menjadi mahal. Lantas sesama operator berperang memberi harga termurah untuk fasilitas tersebut. Belum lagi adanya fasilitas messenger, seperti Skype, yang membuat penggunanya tidak hanya bisa menelepon menggunakan kuota data mobile Internet, tapi juga menawarkan fitur video calling, sehingga komunikasi bisa jauh lebih mudah dilakukan.

Internet mengubah segalanya. Meski Indonesia terhitung negara yang tertinggal dalam hal koneksi Internet, sebenarnya pasar yang ada besar. Pada 2013, jumlah pengguna ponsel mencapai 86,09 persen. Adapun jumlah pengakses Internet dari ponsel 68,76 persen. Tentunya angka itu akan terus naik setiap tahun. Menurut informasi dari Kominfo.go.id, pada Mei 2014, Indonesia menempati posisi kedelapan sebagai pengguna Internet, dengan jumlah mencapai 82 juta orang.

Koneksi Cepat
Haryaddin Mahardika, dosen dan Ketua Program Studi Kelas Khusus Internasional Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, mengatakan pada 2014 akan ada peningkatan inovasi dalam industri telekomunikasi. Tren penggunaan data dari peranti bergerak menjadi sumber pendapatan baru yang dilirik oleh industri tersebut. Apalagi dengan adanya pasar yang bergerak menggunakan berbagai fasilitas, seperti mobile payment, mobile e-commerce, dan mobile advertising (“Meramal Nasib 3 Operator Telekomunikasi di Tahun Kuda” dalam Majalah SWA).

Tidak hanya itu, mengingat adanya kebutuhan akan mobile Internet yang cukup besar, selain muncul layanan paket data murah, beberapa di antaranya menawarkan paket yang berkaitan dengan media sosial.

Bila dilihat beberapa tahun belakangan, kegiatan yang berhubungan dengan dunia digital pun semakin akrab dengan penduduk Indonesia. Berbelanja secara online bukan hal yang asing lagi. Begitu juga dengan berbagai transaksi lain, seperti e-banking dan pembayaran rekening listrik.

Faktor kecepatan koneksi memang menjadi layanan yang dicari pengguna mobile Internet. Keberadaan koneksi 4G yang diusung penyedia jasa Internet menjadi jalan memperoleh koneksi tersebut. Sekarang beberapa operator seluler bahkan sudah mulai menggarap ranah itu. Belum lagi tersedianya fasilitas teknologi LTE.

Meskipun masih tertinggal dibanding negara lain, Indonesia perlahan tapi pasti menjadi pasar digital yang mulai dilirik. Di sinilah jelinya pelaku industri. Inovasi menjadi sesuatu yang harus dilakukan jika tidak ingin tertinggal. Jangan lupa, pasar bebas sudah di ada depan mata.

Sumber: MALE Zone by Wit Prasetyo, MALE 111 http://male.detik.com

No comments:

Post a Comment