Saturday, January 10, 2015

Online Game



Teknologi digital yang semakin mumpuni memberi kesenangan tersendiri bagi penggila game. Tak dapat dielakkan, permainan tradisional sedikit demi sedikit terkikis oleh zaman. Meskipun tak dapat disalahkan, game yang hadir melalui perangkat elektronik merebut perhatian publik dan mendapat ruang yang lebih besar saat ini.

Sebetulnya, menurut Andrew Rollings dan Ernest Adams, permainan ini lebih tepat disebut sebagai sebuah teknologi, dibandingkan sebagai sebuah genre permainan; sebuah mekanisme untuk menghubungkan pemain bersama, dibandingkan pola tertentu dalam sebuah permainan.

Tapi apa pun,  kehadiran layanan Internet membuka lembar baru evolusi dunia game lebih luas. Meskipun masih bergantung pada kecepatan koneksi Internet, belakangan mulai terasa lebih kencang. Selain itu, peranti penunjang bukan lagi barang mahal, tapi memiliki daya yang sangat kuat. Produsen atau developer game pun semakin memaksimalkan potensi yang ada, tentunya untuk menghasilkan game yang sempurna.


Online game menginvasi berbagai aspek teknologi yang ada. Serangkaian perangkat elektronik seolah menjadi kebutuhan primer, seperti smartphone dan tablet PC. Peranti tersebut tak pernah meniadakan sisi hiburan, dan game menempati urutan teratas. Apalagi Internet dan game sudah membentuk sinergi yang kian memaku user-nya.

Dalam online game, tidak ada lagi batasan pemain berinteraksi. Dulu dua gamer yang memainkan permainan yang sama harus berada dalam lokasi yang sama dan mengandalkan satu perangkat. Saat ini pemain bisa terpisah oleh jarak ribuan kilometer, dengan perangkat yang berbeda, tapi memainkan satu permainan yang sama.

Di sinilah keunggulan online game: dapat menembus jarak dan menjaring pemain. Karena itu, lahirlah sebutan baru bagi gamer yang bermain dan berinteraksi secara online, yaitu online multiplayer.

Bagai virus yang menyebar cepat membentuk tren baru, online game menjangkau kalangan luas, baik yang dikategorikan sebagai casual gamer maupun hardcore gamer. Yang disebut terakhir menjadikan game sebagai hobi, bahkan profesi.

Benarkah kehadiran online game memperburuk karakter game?

MALE 116
Para orang tua kerap memperingatkan anak-anak agar tak tenggelam dalam game. Ketakutan mereka adalah game akan menyeret anak-anak menjadi pecandu dan melupakan sekolah. Bahkan para pakar kerap menambahkan, gamer cenderung antisosial dan tak produktif.

Pandangan negatif itu memang sudah lama ada, sejak Internet yang memberi pengalaman gaming baru hadir. Keberadaan online game seolah menguatkan kesan buruk yang sudah menempel pada video game selama ini.

Tapi, seperti pisau bermata dua, online game menghadirkan efek buruk pada pemainnya. Gamer yang tenggelam dalam kenikmatan online game memang cenderung dinilai negatif. Tapi, ada pula yang mendapatkan sisi positif dari permainan maya ini.

Paing tidak, menurut para para gamer, baik video game maupun online game dapat melatih sportivitas saat melawan pemain lainnya, melatih kerja sama dalam sebuah tim untuk mencapai target yang ada, serta melatih ketangkasan dan keterampilan sosial.

Sumber: Feature by Dedy Sofan – MALE 116 http://male.detik.com

No comments:

Post a Comment