Monday, February 16, 2015

Hentai vs Adult Animation



INDUSTRI pornografi berkembang pesat karena peminatnya yang tidak kunjung surut. Legalitas oleh beberapa negara yang permisif justru membuatnya semakin besar. Industri pornografi di AS, misalnya, sudah menjadi dunia glamor tersendiri yang bersanding dengan Hollywood.

Hal yang sama terjadi di wilayah timur jauh, Jepang. Maria Ozawa dan Rin Sakuragi adalah dua sosok yang menjadi bukti semakin dikenalnya film dewasa Negeri Sakura. Bahkan mereka sempat menjadi pembicaraan di Tanah Air, karena kehadiran keduanya dalam film Indonesia.

Produk pornografi di Jepang dirilis dalam bentuk film, media cetak, dan online. Negara itu juga mengemas pornografi dalam simbol lain, yang mungkin belum terkalahkan di dunia, yakni anime, yang awalnya selalu dikaitkan dengan hiburan bagi anak-anak. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, segmen penikmatnya diperluas, maka muncullah animasi yang ditujukan untuk penonton dewasa, yang disebut dengan hentai.

Hentai merupakan kata slang bahasa Jepang yang digunakan untuk menghina seseorang yang berkelakuan aneh dan nakal yang menjurus ke arah mesum.  Yang jelas, hentai berkembang sebagai bagian dari industri kreatif Jepang. Tapi tidak semua karya sensual disebut hentai. Juga sebaliknya, banyak judul yang berisi adegan dewasa yang tidak dikategorikan sebagai hentai. Ada perbedaan antara hentai dan adult animation – meski keduanya menghadirkan konten dewasa yang tidak boleh dikonsumsi anak-anak.


Fantasi Liar Tak Berbatas
Dalam Oxford Dictionary Online, kata hentai merupakan subgenre manga ataupun anime, yang mengeksploitasi sensualitas secara berlebihan, baik dari segi gambar maupun plot cerita yang disuguhkan. Hentai juga dikenal sebagai ero anime dan ero manga. Namun, yang harus diperhatikan, anime dan manga dewasa berbeda dengan hentai. Misalnya, ecchi atau fanservice dalam animasi Jepang mengacu pada suguhan beberapa adegan berani.

Bahkan, dalam anime seperti Naruto atau serial populer lainnya, terdapat beberapa adegan dan karakter yang tampil seksi. Namun jelas penampilan tersebut tidak menjadikannya hentai. Maka definisi hentai tidak sepenuhnya mengandalkan seks atau penggambaran yang menimbulkan kesan vulgar. Karya yang termasuk kategori hentai tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi.

Banyak karya besar dalam industri animasi Jepang yang dapat mengalihkan kata hentai. Sebut saja anime dan manga besutan Masamune Shirow, Ghost in the Shell, yang memperlihatkan sensualitas dengan paduan cerita yang kompleks. Ceritanya penuh intrik dan adegan “panas”, tapi tak serta-merta disebut hentai.

Judul lain yang memperlihatkan konten dewasa tanpa harus lekat dengan kategori hentai adalah Ninja Scroll dan Berserk. Keduanya mengandung konten dewasa yang mengarah pada tingkat kekerasan tinggi. Beberapa adegan vulgar yang ada tak membuatnya masuk dalam animasi porno. Contoh mudah untuk membedakan tontonan vulgar adalah film Basic Instinct, yang diperankan oleh Michael Douglas dan Sharon Stone. Meskipun ada beberapa bagian vulgar dalam film tersebut, situs IMDB menggolongkannya dalam genre drama, misteri, dan thriller.


”Sama dengan produksi konten dewasa lainnya, meskipun animasi tetap saja harus didistribusikan secara khusus.”

Menggunakan tokoh fiksi yang tak ada dalam kehidupan nyata, pada awal kehadirannya hentai jelas menemukan keterbatasan pendistribusian dan penyensoran. Setiap dirilis, hentai harus mendapat perlakuan yang sama dengan pornografi pada umumnya.

Negara-negara seperti Inggris, Australia, dan Kanada, seperti dikutip dari BBC.com, menolak kehadiran hentai. Hal ini dilakukan sebagai upaya preventif terhadap pengaruh animasi, manga, dan game yang masih lekat dengan dunia anak-anak.

Dalam wawancara BBC dengan Hide, pengoleksi animasi dan manga, dikatakan animasi atau manga disukai karena memperlihatkan karakter seperti remaja wanita, yang memunculkan Lolita complex. Hide menyadari menyukai anak di bawah umur adalah perilaku yang salah. Namun, menurut dia, hal itu tidak berlaku untuk sisi gelap dunia animasi, manga, dan game. Sebab, apa yang dilakukannya tidak merugikan orang lain dan masih dalam ruang lingkup fantasi semata.


Dan Kanemitsu, pengacara dan penerjemah manga, menegaskan soal ketidaknyamanannya atas beredarnya hentai. Namun ia menghargai dan tidak melarang apa yang diinginkan orang selama tidak mengganggu hak orang lain.

Lain halnya dengan Kazuna Kanajiri, aktivis perlindungan anak di Jepang, yang mengungkapkan, pornografi dalam animasi, manga, dan game sama berbahayanya dengan pornografi di dunia nyata. Jelas hal itu dapat mengganggu perkembangan mental seseorang. Apalagi jika tema ceritanya termasuk kategori terlarang dan perilaku yang menyimpang.

Stigma perilaku seks bebas di Jepang diharapkan dapat berubah, termasuk dalam industri animasi, manga, dan game yang bergeser pada fenomena hentai. Seperti yang diharapkan oleh Kanajiri, hentai bisa hilang dan reputasi industri kreatif dapat diraih kembali. “Manga and anime to be part of what people see as ‘cool Japan’ rather than ‘weird Japan,’” ia menegaskan.

Sumber: MALE Zone, MALE 121 http://male.detik.com

No comments:

Post a Comment