Monday, March 09, 2015

Love Doll


Jepang memang juara kalau soal sextainment – istilah yang sering dipakai penulis “Jakarta Undercover” Moammar Emka. Sangat beragam dan unik layanan untuk memuaskan hasrat seksual kaum Adam di sana.

Sebagai negara maju, Jepang mengalami fase jenuh dengan menurunnya minat pasangan menjalani komitmen serius atau melakukan pernikahan. Dilansir dari Japantoday.com, jumlah manula menunjukkan angka yang tinggi. Hasil survei yang dilakukan majalah Joshi Spa! pada 2013 pun menyebut 33 persen lebih wanita Jepang tidak bersedia menikah.

Sisi negatif pernikahan, seperti terkekangnya kebebasan, dan permasalahan finansial menjadi alasan yang dominan. Untuk memenuhi hasrat terhadap lawan jenis, banyak layanan yang tersedia dan alat bantu seks yang menunjang, termasuk love doll, yang dijadikan solusi.

Love doll, atau dikenal pula dengan sex doll, bukanlah hal baru. Seperti dikemukakan oleh Anthony Ferguson dalam buku “The Sex Doll: A History”, alat bantu ini sudah ada sejak abad ke-17, yang banyak digunakan oleh pelaut Prancis dan Spanyol saat melakukan perjalanan jauh, yang ketika itu berupa kumpulan pakaian yang dijahit menyerupai boneka.

Memang ada alat bantu seks lain yang berbentuk bagian tubuh wanita atau pria. Walau memiliki fungsi yang sama, bentuk yang menyerupai manusia dianggap bisa memberi pengalaman berbeda yang tidak didapat dari aksesori lainnya. Layaknya evolusi manusia, love doll berkembang pesat dengan segala kelebihan yang memungkinkannya tidak hanya dijadikan pemuas hasrat seks sesaat, tapi bahkan diabadikan sebagai pengganti pasangan hidup!


Kekasih yang Setia
Penggunaan love doll berkembang sedemikian rupa hingga keluar dari konteks awalnya sebagai media untuk membantu melepas hasrat seksual. Fenomena itu di antaranya diulas dalam artikel di Reuters.com. Angka kelahiran menurun seiring dengan berkurangnya minat menikah sebagian masyarakat Jepang. Love doll pun hadir sebagai alternatif alat untuk membantu menyalurkan kebutuhan biologis orang dewasa di antara berbagai layanan yang ada.

Industri Dutch wives, sebutan lain love doll, di Jepang berkembang sesuai dengan situasi yang terjadi pada individu masyarakatnya. Pihak perusahaan yang menciptakan love doll, Orient Industry Co, mengungkapkan, umumnya pembeli love doll individu yang masih single, dan lebih dari 60 persen berusia di atas 40 tahun. Hideo Tsuchiya, presiden direktur perusahaan itu, mengatakan, dengan semakin banyaknya wanita yang dominan, semakin besar pula kemungkinan tidak memberi perhatian kepada pria. Kondisi itu membuat lelaki menderita, dan perusahaan menciptakan love doll sebagai media untuk membantu serta menemani pria yang mengalami kesepian.
Daya tarik love doll kini juga semakin besar dan tidak sesederhana dulu lagi. Bentuknya jauh lebih baik, bahkan tidak sedikit yang tampil dengan kesempurnaan fisik dan wajah yang cantik sehingga dapat menipu orang pada pandangan pertama karena sangat menyerupai manusia.

Bahan yang digunakan pun berkualitas, dengan model yang inovatif. Dikutip dari Mirror.co.uk, penjualan love doll mengalami peningkatan pesat. Sebab, dalam setiap peluncuran love doll terbarunya, boneka pemuas hasrat seks itu semakin dekat dan mirip dengan wanita sesungguhnya.

Peningkatan kualitas dan tampilan yang lebih baik membuat industri love doll menjadi ladang basah yang menguntungkan. Semakin besar kesempatan memanfaatkan kondisi individu yang kesepian. Hal itu, misalnya, dilakukan perusahaan ternama Orient Industry, yang beberapa waktu lalu menciptakan love doll yang menyerupai penyanyi tersohor Lady Gaga bernama Gaga Doll.


Sumber: MALE Zone, MALE 124 http://male.detik.com

No comments:

Post a Comment