Monday, April 27, 2015

Urban Transportation


Transportasi umum selalu menjadi persoalan di kota-kota besar, apalagi Jakarta yang infrastrukturya belum terbentuk. Untunglah di era digital ini, hambatan tersebut sedikit teratasi. Paling tidak, ada pengusaha transportasi yang memanfaatkan kemacetan kota dengan menawarkan kemudahan pemesanan jasa taksi dan ojek  lewat aplikasi di ponsel.

Setelah Go-Jek dan GrabTaxi, muncul Uber, brand yang sudah ada sejak 2009 di San Francisco. Jika Anda memesan via Uber, yang menjemput bukanlah taksi atau ojek, tapi mobil pribadi sejenis Avanza, Xenia, Innova, bahkan Alphard. Konsumen tentunya makin diuntungkan, mereka saling bersaing dengan menawarkan promo menarik, salah satunya potongan harga. Saking fantastisnya, sampai-sampai ada penumpang yang dikenai tarif nol rupiah alias gratis!

Bukan Perusahaan Transportasi
Pada awalnya awam mengira basis ketiga apps tersebut (Go-Jek, GrabTaxi, dan Uber) adalah perusahaan transportasi, seperti Blue Bird dan Express, yang sebelumnya sudah meluncurkan aplikasi pemesanan taksi sendiri. Sebenarnya yang ditawarkan perusahaan itu bukanlah alat transportasinya.

Nadiem Makarim, founder Go-Jek, menekankan soal kesalahan persepsi tersebut. Dikatakannya, “Kami bukan perusahaan transportasi. Kami perusahaan teknologi yang ingin memudahkan kehidupan orang di perkotaan, dengan menciptakan aplikasi semacam ini.”

Go-Jek, startup lokal yang 100 persen asli produk Indonesia, merupakan layanan yang bergerak di bidang transportasi dan kurir yang berbasis sistem teknologi. Pengguna cukup mengunduh aplikasinya di smartphone, lalu mengikuti petunjuk cara memesan ojek. Layanan ini menggandeng tukang ojek bergabung sebagai mitra bisnisnya.


Begitu pun Uber, sejatinya adalah perusahaan teknologi yang menghubungkan penumpang dengan pengemudi untuk mendapatkan transportasi yang aman dan nyaman. Uber di Jakarta bermitra dengan perusahaan layanan jasa rental mobil.

Di Australia dan Amerika, pengemudi profesional dengan mobil yang berizin komersial dapat mendaftar menjadi sopir Uber tanpa harus bernaung di bawah perusahaan rental. Hingga saat ini, Uber telah tersebar di lebih dari 300 kota di 55 negara di seluruh dunia.

Begitu pula dengan GrabTaxi, yang bermula sebagai MyTeksi di Malaysia pada Juli 2011, dan resmi diluncurkan pada 5 Juni 2012. Anthony Tan dan Hooi Ling Tan, pendiri GrabTaxi, adalah alumnus Harvard Business School yang tergerak menciptakan aplikasi ini setelah mendengar cerita dari teman dan saudara mereka mengenai betapa mengerikannya taksi di Kuala Lumpur. Banyak taksi yang tidak mau menyalakan argometer, ada negosiasi tarif dengan penumpang, dan rute pun diputar-putar.

“Karena itulah mereka membuat aplikasi mengenai transportasi di smartphone yang diikutkan dalam kompetisi di Harvard dan berhasil menjadi juara kedua. Hadiah uang dalam kompetisi itu kemudian dijadikan modal dasar pengembangan aplikasi tersebut,” kata Kiki Rizki, Head of Marketing GrabTaxi, kepada MALE.

Negara-negara di Asia Tenggara menjadi konsentrasi ekspansi GrabTaxi saat ini, dan akhirnya Juni 2014 merambah Indonesia sebagai negara keenam setelah beroperasi di Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, serta Vietnam. Saat ini GrabTaxi sudah ada di 20 kota dan enam negara. Di Indonesia, ada di Jabodetabek, Padang, dan Surabaya.

Secara perlahan, di wilayah urban terjadi pergeseran cara menggunakan moda transportasi umum. Dulu penumpang cukup melambaikan tangan untuk menghentikan taksi atau ojek. Kini gaya hidup serba sentuh membuat segalanya menjadi mudah.


Sumber: MALE 131 http://male.detik.com

No comments:

Post a Comment