Sunday, May 31, 2015

Meme

Awalnya cuma untuk lucu-lucuan, tapi siapa sangka meme yang tepat sasaran efektif digunakan sebagai kritik sosial, bahkan kampanye lalu lintas.


Yang aktif di media sosial tentu tidak asing dengan meme. Anda tentu masih ingat lini masa di Twitter dengan tagar #savehajilulung yang heboh. Politikus dan pengusaha ini menjadi bahan bulan-bulanan di dunia maya. Saat pemilihan presiden berlangsung pun terjadi perang meme di antara kubu pendukung Jokowi dan Prabowo.

Adapun selebritas yang paling sering dijadikan bahan meme, siapa lagi kalau bukan Syahrini. Maka muncullah meme Syahrini, mulai yang mengenakan mukena yang dimirip-miripkan dengan piramida, kue lupis, bahkan burung merak, hingga yang sedang telentang di atas tumpukan sampah. 

Berkembangnya meme sudah menjadi new media. Sebab, semua orang bisa berpartisipasi, semua orang bisa bikin, dan semua orang bisa tertawa bersama. Yup, diperlukan wawasan luas dan kepekaan sosial yang tinggi untuk menciptakan meme yang lucu.


Meme Comic Indonesia
Di Jakarta, ada komunitas yang menyatukan pencinta, pembuat, dan pengelola meme. Komunitas tersebut bernama Meme Comic Indonesia (MCI), yang disebut-sebut sebagai komunitas meme terbesar di Indonesia.

Pengelolaan komunitas yang berada di bawah payung Pensil Ad—sebuah agensi digital—ini terbilang serius. Bagaimana tidak, selain memiliki kantor dan administrator atau admin full time, MCI punya brand ambassador, yaitu Christian Adi Jaya.

Pria ganteng berbadan tegap yang masih berstatus mahasiswa itu adalah model, penyanyi, sekaligus salah satu admin Facebook Fan Page MCI, yang kini sudah di-like 1,9 juta. Lebih dari itu, MCI sudah menerbitkan buku berjudul If You Know What Happened in MCI: Meme Comic Indonesia, The Biggest Meme Community in Indonesia.

“Awalnya kami iseng-iseng saja karena suka humor dan memang bekerja di media sosial. Tapi lama-lama dalam meme sepertinya ada sesuatu. Kita bisa mengubah mindset orang lewat humor,” jelas Andre Prodjo, founder MCI.

Berkembangnya meme hingga seperti sekarang, dianggap Andre, yang juga menjabat Managing Director Pensil Ad, sebagai suatu new media. Sebab, semua orang bisa berpartisipasi, semua orang bisa bikin, dan semua orang bisa tertawa bersama.


Evolusi Budaya
Fenomena mencuatnya meme—dibaca “mim”—ditanggapi pula oleh sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Y. Wasi Gede Puraka, MSi. Kata meme awalnya digunakan sebagai istilah dalam ilmu evolusi genetika.

Meme adalah penyingkatan atau pemendekan dari mimeme, yang dalam pengertian Yunani kuno, dipahami sebagai “hal ditiru” atau imitated thing. Pemendekan itu meniru teknik yang dilakukan dalam serangkaian struktur gen yang panjang.

Dalam ilmu evolusi genetika, istilah meme digunakan oleh ahli biologi evolusi Inggris, Richard Dawkins, dalam The Selfish Gene. Sementara dalam bidang kebudayaan, meme dipinjam sebagai konsep, gagasan, atau ide untuk menjelaskan penyebaran atau transmisi dan mutasi suatu gejala kebudayaan yang didasarkan pada prinsip evolusi. Francis P. Heylighen, ahli sibernetika Belgia, menyatakan, dalam suatu evolusi budaya, meme adalah pola informasi yang terdapat dalam memori individu, yang kemudian mampu disalin ke memori individu lain. “Sebuah meme berikut informasi memori tertentu bisa disalin sepenuhnya menjadi meme dan informasi lainnya sesuai dengan tujuan atau kepentingan si penyalin,” katanya.

Penggunaan karakter ikonik yang disandingkan dengan kutipan hendak menguatkan pesan informasi yang disampaikan oleh pembuat meme untuk disebarluaskan atau ditransmisikan kepada khalayak. Penyebarluasan atau transmisi itu bisa terjadi sangat cepat dari orang ke orang, antara lain, karena ditunjang oleh teknologi pengolahan informasi.

“Fungsi meme dalam konteks masyarakat perkotaan. Meme menjadi cerminan bagaimana network society berbasis teknologi komunikasi dan informasi virtual terbentuk,” jelas Wasi.


Sumber: MALE Zone – MALE Magazine 136 http://male.detik.com

No comments:

Post a Comment