Tuesday, May 12, 2015

Prostitusi



TERUNGKAPNYA praktek prostitusi kelas atas, yang melibatkan artis, yang juga model panas, pemain sinetron, serta seorang disc jokey, seolah menegaskan bahwa bisnis esek-esek tidak bisa terhapus dari kehidupan manusia (kota). Cuma, kali ini melibatkan kehidupan selebriti, maka gaungnya menjadi luas dan berkepanjangan.

Sebetulnya, transaksi esek-esek di Jakarta, misalnya, sudah ada sejak awal Batavia berdiri. Wilayah Kota Tua dan sekitarnya tak hanya menjadi saksi bisu cikal bakal berkembangnya peradaban masyarakat Ibu Kota, tapi juga telah menjadi saksi penjualan jasa seksual sejak zaman kolonial.

Tak mengherankan bila kawasan Red Light District Jakarta ini hingga kini masih menjadi surga bagi pencari kesenangan. Sebab, sebetulnya akar budaya hedonisme itu sudah menancap sejak berabad lalu. Maka munculnya praktek prostitusi ibarat setua umur manusia di bumi. Karena kebutuhan seks, sama halnya dengan kebutuhan biologis yang lain, seperti makan dan minum, perlu dipenuhi.

“Fakta tertua yang pernah ditemukan di Batavia, yaitu sekitar tahun 1600, Belanda pernah melegalkan pelacuran. Tapi jauh lebih tua dari itu sebetulnya pelacuran diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa,” ujar Asep Kambali, pemerhati sejarah, sekaligus pendiri Komunitas Historia Indonesia.

Dengan kalimat lain, prostitusi yang terjadi di Jakarta saat ini merupakan sisa-sisa dari masa kolonial. Pada 1600-an, orang Belanda memulai perbudakan di Batavia. Dalam prakteknya, mereka sekaligus memperlakukan budak perempuan sebagai pemuas kebutuhan seks

Asep Kambali, sejarawan, sekaligus pendiri Komunitas Historia Indonesia, mengatakan, “Fakta tertua yang pernah ditemukan di Batavia, yaitu sekitar tahun 1600, Belanda pernah melegalkan pelacuran.”

Mengenai pelegalan prostitusi di Batavia, Jakartapedia.net memuat, prostitusi pernah mendapat ruang hidup secara legal dalam masyarakat kolonial. Pada saat Hindia Belanda Timur berada dalam kekuasaan Prancis, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (menjabat pada 1808-1811) mengeluarkan aturan tentang prostitusi.

Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte turut membidani lahirnya aturan itu. Dia melihat daya tempur tentara Prancis mengendur akibat penyakit kelamin. Sumber penyakit kelamin berasal dari perempuan pekerja seks. Maka Napoleon mewajibkan mereka mengikuti pemeriksaan medis secara rutin. “Ini berarti prostitusi dibolehkan,” kata Liesbeth Hesselink dalam “Prostitution: A Necessary Evil”, yang dimuat dalam Indonesian Women in Focus suntingan Elsbeth Locher Scholten dan Anke Borkent-Niehof.

Tidak berlebihan kalau dikatakan, prostitusi yang terjadi di Jakarta saat ini merupakan sisa-sisa dari masa kolonial. Pada 1600-an, orang Belanda memulai perbudakan di Batavia. Dalam prakteknya, mereka sekaligus memperlakukan budak perempuan sebagai pemuas kebutuhan seks. “Pada saat datang ke sini, mereka belum menemukan yang namanya tempat pelacuran. Tempat lokalisasi saat itu belum ada. Mereka hanya membeli budak, yang sekaligus juga melayani urusan seks,” Asep menjelaskan.


Red Light District Batavia
Prostitusi pada masa kolonial memiliki wilayah sendiri. Ada beberapa wilayah pada masa kolonial yang menjadi arena pemuas pria hedonis. Saat ini wilayah itu termasuk kawasan Kota Tua, Jakarta.

Macao Po
Konsentrasi pelacuran pertama di Batavia adalah Macao Po, yang kala itu berdekatan dengan hotel-hotel di depan Stasiun Beos (Jakarta Kota). Lokalisasi ini hanya ditujukan untuk kalangan atas. Sebab, pelacurnya didatangkan dari Makau oleh jaringan germo Portugis dan Cina. Pelanggan di Macao Po adalah para petinggi VOC yang dikenal korup dan orang-orang kaya keturunan Cina.

Gang Mangga
Di wilayah Kota Tua dan sekitarnya disebut-sebut sebagai awal menyebarnya prostitusi di Batavia, di antaranya, Gang Mangga. Dilansir dari Lembagakebudayaanbetawi.com, jika kita berjalan melintasi Jassenbrug—sekarang Jembatan Batu—menuju timur, akan tiba di jalan kampung bernama Gang Mangga. Inilah lokalisasi kelas menengah ke bawah pertama di Batavia.

Sampai abad ke-19, Gang Mangga masih ramai didatangi lelaki pencari kesenangan. Namun di antaranya ada yang terkena penyakit kelamin sifilis. Kala itu pemuda yang terkena sifilis disebut terserang sakit mangga. Karena saat itu belum ada obatnya, sering kali penderita sakit mangga meninggal dan dikubur di sebelah timur Gang Mangga, yang di kemudian hari dikenal dengan Gang Mangga Dua. Pada pertengahan abad ke-19, bekas kompleks pelacuran itu dijadikan permukiman penduduk, dan nama Gang Mangga pun lenyap.

Selain itu, kawasan di Batavia yang sangat terkenal sebagai pusat prostitusi, madat, dan perjudian adalah Jilakeng. Saking terkenalnya, pada 1800 Jilakeng dijuluki Las Vegas Batavia. Lokasinya terletak di belakang Pasar Pagi Asemka.

Dari Cabo hingga Peh Cun
Ada banyak istilah yang digunakan untuk menyebut pekerja seks, yang berbeda-beda dalam setiap era. Dulu dikenal sebutan cabo, peh cun, atau mondjie. Saat ini kita menyebut perempuan penghibur sebagai wanita tuna susila atau pekerja seks.

Asep menyatakan istilah cabo terkenal pada era peralihan komoditas perdagangan pada 1890-1930-an. Dikatakan dalam Jakarta.go.id, orang Betawi menyebut pekerja seks sebagai cabo, yang diadaptasi dari bahasa Cina, caibo, atau kupu-kupu malam.

Para cabo selalu beroperasi di dekat kawasan niaga dan perhotelan. Istilah cabo masih populer pada 1970-1990-an, bukan di Batavia, melainkan di daerah-daerah Jawa Barat. Di Cianjur, misalnya, dikenal istilah cabol, dari kata cabul. Sementara itu, ada pula perempuan panggilan yang disebut mondjie. Perempuan ini tinggal di tangsi atau di sekitar tangsi khusus untuk melayani serdadu Belanda.

Kalau Anda pernah mendengar istilah pecun, kata itu berasal dari bahasa Cina, peh cun, yang makna sesungguhnya bukanlah pekerja seks. Peh cun asal mulanya adalah pesta lempar makanan bacang dalam perayaan 100 hari setelah Imlek.

“Sementara 15 hari setelah Imlek disebut Cap Gomeh, 100 hari setelah Imlek ada Peh Cun. Dalam pesta Peh Cun, para pemuda Tionghoa menyusuri sungai menggunakan sampan, atau perahu naga bagi kalangan berada, lalu mereka melempar bacang. Barang siapa ada perempuan yang menangkap lemparan bacang tersebut, akan menjadi pasangannya. Jadi seperti perayaan mencari jodoh. Namun belakangan pesta itu menjadi ajang mencari pasangan, yang sayangnya, belum tentu dinikahi, bisa saja hanya untuk sesaat. Lalu lama-kelamaan perayaan lempar bacang itu terjadi setiap hari untuk mendapatkan perempuan,” Asep menguraikan.

Pascakemerdekaan
Pascakemerdekaan segalanya berubah, baik politik, ekonomi, maupun pertahanan keamanan, termasuk juga dunia prostitusi. Kompleks pelacuran pascakemerdekaan berada di Gang Hauber, di daerah Petojo, yang oleh Wali Kota Sudiro, pada pertengahan 1950-an diganti menjadi Gang Sadar. Sampai awal 1980-an, tempat itu masih beroperasi.

Lalu di Sawah Besar pun terdapat kompleks pelacuran, yaitu Kaligot. Nama itu diambil dari judul sandiwara Prancis, Aligot, yang pada 1930-an manggung di Batavia.

Selain itu, di daerah Senen terdapat kompleks pelacuran Planet, yang diambil dari peristiwa terjadinya persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam peluncuran Sputnik ke luar angkasa pada 1960-an. Di Planet Senen, pelacuran kelas bawah berlangsung di gerbong-gerbong kereta api antara Stasiun Senen dan Jalan Tanah Nyonya (Gunung Sahari), yang panjangnya beberapa ratus meter.

Praktek prostitusi itu berlangsung di bilik-bilik di rumah kardus, di dekat rel kereta api. Tempat pelacuran yang setiap hari didatangi ribuan orang ini dibersihkan pada masa Gubernur Ali Sadikin (1971) dan pekerja seksnya dipindahkan ke lokalisasi Kramat Tunggak, Jakarta Utara.

Adapun cerita mengenai bongkaran Tanah Abang, lokasinya mirip yang terdapat di Pasar Baru. Tanah Abang berdiri sejak 1735 saat dibangun sebagai pasar kelontong, lalu berubah menjadi pusat tekstil. Di bongkaran, karena ada lahan kosong, ada demand dari masyarakat kelas bawah, seperti buruh pasar, kuli angkut, sama seperti di pelabuhan atau Proyek Senen. Maka terjadilah transaksi seks yang murah meriah. Fenomena ini terjadi pada era 1970-1990an.


Terkait dengan dihilangkannya lokalisasi, saat ini prostitusi justru dapat terjadi di mana pun, termasuk secara online via media sosial. Asep juga sepakat dengan ide adanya lokalisasi pelacuran dan perjudian di Jakarta saat ini, karena keduanya tidak bisa dipisahkan.

Berabad sudah berlalu, terbukti hingga kini prostitusi tak pernah mati. Hanya zaman dan medianya yang menjadikannya tampak berbeda. Padahal semuanya tetap sama, kembali pada kebutuhan biologis manusia: seks.

Sumber: Feature by R. Anandita - MALE 133 http://male.detik.com

No comments:

Post a Comment