Monday, June 15, 2015

Pergundikan


KOLONIALISME tak hanya menyangkut kekuasaan ekonomi, tapi juga eksploitasi kebutuhan seksual. Begitulah, pada masa kolonialisme, pemerintah Belanda melalui kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mendatangkan banyak pria tanpa pasangan wanitanya ke bumi Nusantara. Lambat-laun pegawai VOC yang hidup tanpa pendamping itu—walaupun di tanah kelahirannya ada yang berstatus menikah, tapi istrinya tak diajak serta—merasa tertekan karena kebutuhan domestiknya terabaikan.

Saat itu terjadi kekurangan perempuan Eropa yang sangat besar di daerah pendudukan. Kebanyakan laki-laki Eropa mengatasi masalah kebutuhan seksual mereka dengan menjadikan wanita Asia gundik. Perempuan yang dijadikan gundik adalah budak yang diambil dari India, Filipina, Sulawesi, dan Bali.

Sejarah mencatat, terjadi ikatan antara pria Eropa dan wanita pribumi Asia akibat kekurangan wanita Eropa. Sayangnya, hubungan tersebut jarang yang berlanjut ke jenjang pernikahan, tapi hanya sebatas pergundikan.

Hanya saja, di mata Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-4, Jan Pieterszoon Coen, pola hidup bersama pria Eropa dengan budak perempuan pribumi mengarah pada berbagai perilaku liar, tidak terkendali, dan membahayakan kepentingan kolonial. Kemudian ia mengeluarkan larangan memelihara gundik di rumah atau tempat lain, yang berlaku pada 11 Desember 1620.

Walau begitu, Coen juga mengerti lelaki di wilayah pendudukannya harus diberi alternatif, selain pergundikan. Kemudian ia menetapkan kriteria calon pengantin perempuan kulit putih haruslah gadis atau perempuan muda yang berkelakuan baik.

Akhirnya, demi memenuhi kebutuhan biologis pegawainya, untuk pertama kali didatangkanlah perempuan Belanda yang disebut compagniesdochters. Namun kenyataannya jumlah pernikahan laki-laki VOC dengan perempuan kulit putih hanya sedikit. Yang lebih banyak justru laki-laki Eropa yang memiliki gundik perempuan Asia.

Nyai Mengurus Tuan
Istilah nyai muncul pada masa kolonial berkaitan dengan sistem pergundikan yang dibuat oleh Belanda. “Konsep tentang nyai muncul pada saat datangnya penjajah Belanda ke Nusantara. Kita tidak pernah mendengar orang Portugis mempunyai nyai,” ujar Ruth Indiah Rahayu, peneliti feminisme dari Institut Kajian Krisis dan Studi Pembangunan Alternatif.

Ruth menambahkan, pergundikan di Nusantara merupakan sistem, yang berarti di dalamnya ada struktur, mekanisme, dan tradisi. Istilah seperti selir, nyai, serta lady escort sebetulnya sama dengan pergundikan dalam bahasa Melayu, tapi memiliki perbedaan waktu dan konteks.

Selir dikenal dalam konteks masa imperium atau kerajaan ketika raja pada masa itu, baik di Nusantara maupun di seluruh dunia, mempunyai perempuan lain di luar istri resminya. Selir biasanya ditempatkan di tempat khusus, sejenis keputren, dan jumlahnya bisa ratusan, bahkan tak terhitung.

Adapun fungsi nyai berbeda dengan selir, walaupun prinsipnya sama. Nyai muncul untuk menjawab kebutuhan pria kolonial, yang lajang ataupun sudah menikah, tapi tidak membawa serta istrinya. Fungsi nyai rupanya tak sebatas urusan domestik, tapi juga meliputi pelayanan seks bagi tuannya.

Selain perempuan Jawa, Reggie Baay dalam bukunya menceritakan, ada yang mempergundik perempuan Tionghoa dan Jepang. Umumnya yang dipilih peranakan Tionghoa yang sudah satu generasi hidup di Hindia Belanda. Goey La Nio, anak pedagang beras Tionghoa, adalah gundik Eduard Kerkhoven, pengusaha perkebunan teh terkenal pada abad ke-19.

Nyai Jepang adalah anak imigran Jepang, yang juga bekerja di bidang perdagangan seperti orang Tionghoa. Ada juga perempuan Jepang yang dibawa pemilik rumah bordil ke Hindia Belanda hingga akhirnya hidup dalam pergundikan.

Pada saat itu nyai Jepang sangat disukai laki-laki Eropa, terutama karena sikap rendah hati dan pengabdiannya. Sifat seperti itu sebetulnya telah dimiliki nyai Jawa dan Tionghoa, tapi menurut lelaki Eropa, nyai dari Negeri Geisha adalah pemenangnya.

Tapi apa pun, posisi nyai sangatlah lemah di bawah kekuasaan si tuan yang begitu besar. “Relasi antara tuan Belanda dan nyai bisa bermacam-macam. Ada yang tuan Belandanya memperlakukan nyai secara manusiawi, tumbuh cinta di antara keduanya, atau sebaliknya, diperlakukan seperti budak. Ada pula yang hanya butuh anak dari nyai. Ketika si tuan Belanda sudah selesai masa tugasnya di Nusantara, lalu kembali ke Belanda, biasanya anak hasil hubungan dengan nyai ditinggal begitu saja atau dibawa ke Belanda. Hampir tidak ada nyai yang dibawa ke Belanda ketika masa tugas tuannya di Nusantara berakhir,” ujar Ruth. (R. Anandita)


Sumber: Features, MALE 138 http://male.detik.com

No comments:

Post a Comment