Saturday, August 08, 2015

Dugem



Kian banyak saja pesta yang digelar kaum urban di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Tidak hanya di klub-klub, tapi juga di area terbuka – yang terkini adalah Dreamfield salah satu festival musik terbesar di Asia, yang digelar di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Bali, 15 Agustus 2015.

Boleh dibilang, pergerakan scene dance music di Indonesia bisa berkembang pesat. Selain Dreamfield, ada juga Djakarta Warehouse Project dan Ultra Music Festival Indonesia.

Keriaan boleh sama, tapi sebetulnya ada semacam pergeseran kultur dalam scene musik dansa tersebut. Dulu orang lebih mengenal keriaan seperti rave party ketimbang festival besar dengan bintang tamu sejumlah DJ tenar internasional. Awalnya rave party merupakan pengembangan dari konsep warehouse, yakni ketika orang jenuh mulai menggunakan gudang-gudang untuk tempat berpesta.

Selanjutnya perkembangan terjadi sedemikian rupa hingga keriaan itu dibawa ke ruang terbuka dengan penyelenggaraan yang lebih besar. Puncaknya, muncullah berbagai festival musik elektronik. Bila dilihat lebih jauh, festival tersebut merupakan gabungan rave party yang dipadatkan dalam satu kesempatan. Tentunya jumlah panggung dan pengisi acaranya lebih berlimpah.

Istilah rave sebetulnya berasal dari genre musik pada 1980-1990-an. Pergerakan generasi rave berawal dari London pada 1950-1960-an. “Dulu lebih tepatnya bermula pada zaman psychedelic. Yang terjadi di London, dipicu oleh The Stone Roses, yang membuat film Spike Island,” ujar Rully Annash dari majalah Juice Indonesia.

Adapun pelaksanaannya di Indonesia merupakan hasil berbagi pengalaman DJ ketika itu, yang sebagian besar memang tumbuh di luar negeri. Dan, hanya kalangan tertentu yang memiliki informasi tentang hal ini. Bisa dibilang keriaan semacam ini dulu diselenggarakan dengan cara bergerilya. Maka tidak mengherankan jika tempat yang dipilih cukup unik, seperti stasiun, terowongan, dan lain-lain.

Di Indonesia rave party mulai bergema pada 2002-2003, kata Alibudi dari The Beat Magazine. Kondisi itu dipicu oleh penyelenggaraan pesta di Suluban, Bali, pada 2001. Konsep tersebut kemudian dibawa ke Jakarta sehingga bermunculan agenda keriaan di luar ruangan. Sepanjang 2002, rave party dengan muatan lokal, dengan DJ Indonesia, yang terhitung masih baru pun menjadi tren.

Maka DJ Anton Wirjono dan Sinto dari Javabass pun membuat Jakarta Cream Festival, yang mulai memilih pengisi acara dari luar negeri. Namun mereka tetap menampilkan muatan lokal dengan membuat acara bertajuk Jakarta Movement.  Acara itu seolah menjadi pemicu bagi penggiat keriaan lain membawa orang berbakat dan brand acara dari luar negeri, seperti Godskitchen dan Gatecrasher.

Pergerakan scene dance music kala itu memang tidak segencar sekarang. Informasinya pun masih dari mulut ke mulut, dan bentuk komunikasi model lama, tidak seperti sekarang di era digital. Juga, ada komunitas yang sifatnya kurang-lebih sama dengan pergerakan kaum hippie. Pada era tersebut, party hanya digelar di klub, itu pun tergolong sulit mengumpulkan massa. Kecenderungan bosan dengan suasana klub membuat pemuja keriaan sangat menunggu-nunggu diadakannya pesta di luar ruangan.


Ada yang hilang, tapi tak surut
Bukanlah sesuatu yang buruk ketika pesta diisi lineup DJ lokal, karena pada masa itu hal tersebut terjadi dalam berbagai keriaan yang digelar. Yang menarik, justru pesta-pesta ini meninggalkan kesan mendalam bagi yang pernah mengalaminya. Tidak mengherankan jika nama seperti Anton, Riri, Romi, Naro, dan Remy Irwan akan selalu mengesankan pemuja keriaan kala itu. Para DJ tersebut agaknya meninggalkan jejak yang signifikan dalam dance scene Indonesia.

Dibanding kondisi sekarang, ketika berbagai festival besar kerap digelar, Rully dan Alibudi dari The Beat Magazine sependapat, pemuja keriaan kurang memahami arti pergelaran yang ada. “Bahkan dilihat dari harga tiket pun berbeda, sekarang bisa mencapai jutaan rupiah, dulu paling Rp 200.000-an,” ucap Rully.

Kultur yang sama juga terjadi pada penonton konser musik. Esensi berpesta atau menonton menjadi berkurang karena penggunaan gadget. “Setiap orang selalu memegang telepon seluler untuk merekam jalannya show. Hal itu sangat berbeda dengan masa rave party, ketika orang lebih memilih dance sebebas-bebasnya,” ujar Ali.

Kategori umur pun kini tidak menjadi batasan, sedangkan pada akhir 1990 hingga awal 2000-an, hanya pemuja keriaan berusia dewasa yang datang ke klub. Bukan cuma itu, tujuan utama pengunjung melihat penampilan DJ dan menikmati pesta diiringi lagu-lagu dari disc jockey. Dulu bukan sembarang orang yang menggagas acara seperti rave dan festival. Biasanya yang menggelar event tersebut orang yang mengerti, memiliki kualitas, dan punya link serta background yang bagus dalam dance music. Salah satunya Rini Noor dengan Nepathya-nya.

Harus diakui ingar-bingar rave party sempat teredam. Bahkan bagi orang awam, kegiatan itu seperti ditelan bumi. Gerakannya yang sempit membuat penyebaran informasi tentang keriaan seperti ini minim. Namun Ali yakin rave party tidak hilang, tapi keberadaannya makin terjaga. “Mungkin setahun cuma ada satu atau dua, tapi kualitas pelaksanaannya terjaga,” katanya.


Tapi bagaimanapun kemajuan scene dance music Indonesia tetap membawa kegembiraan siapa pun yang terlibat di dalamnya. Justru dengan perkembangan yang pesat, hal seperti itu bisa ditemukan kembali. Terbukti beberapa komunitas mulai naik ke permukaan: Trance dengan Indotrance, drum dan bas dengan Javabass, techno dengan Jakarta Techno Militia, house dengan Solid House Community, begitu juga dengan genre yang lain akhirnya keluar sebagai identitas. So, pilihan berpesta menjadi semakin banyak.

Sumber: MALE Zone, MALE 146 http://male.detik.com 

No comments:

Post a Comment