Sunday, August 16, 2015

Merdeka

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. -  Pembukaan UUD 1945.

Photo: dream.co.id
Tahun 2015 Republik Indonesia memasuki usia yang ke 70. Kalau bukan karena perjuangan dan kerja keras para pemimpin nasional serta para pendahulu dan pendiri republik ini, disertai dukungan sepenuh hati dari seluruh rakyat Indonesia, kita tidak bisa menghirup udara kebebasan seperti saat ini.

Proklamasi kemerdekaan 70 tahun yang lalu mempunyai arti yang sangat penting bagi Indonesia. Dengan modal kemerdekaan, bangsa Indonesia memiliki harga diri dan dapat hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Tujuan akhir perjuangan kemerdekaan, demikian Bung Karno, adalah kemakmuran bangsa. Penjajah dilawan karena mereka menyengsarakan bangsa. Sementara itu Bung Hatta menyatakan bahwa tujuan perjuangan kemerdekaan adalah mrmbebaskan rakyat dari segala macam penindasan, baik dari bangsa lain ataupun dari bangsa sendiri.

Meski sudah 70 tahun merdeka, kalau mengacu pada pendapat dwitunggal Soekarno-Hatta di atas, sebetulnya masih banyak PR bangsa Indonesia yang belum terselesaikan hingga detik ini.

Well, orang memang bisa memberi makna kemerdekaan dengan sudut pandang masing-masing. Tetapi yang tidak boleh hilang dalam memaknai kemerdekaan adalah rasa cinta Tanah Air kita sebagai warga negara Indonesia.

Tokoh Nahdlatul Ulama, KH Mustofa Bisri menulis puisi tentang kemerdekaan RI, yang menarik dituliskan di sini.
  
Rasanya

Rasanya...... Baru kemarin Bung Karno dan Bung Hatta atas nama kita menyiarkan dengan seksama Kemerdekaan kita di hadapan dunia.

Rasanya....... Baru kemarin, padahal sudah tujuh puluh tahun lamanya.

Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya sudah banyak yang berkuasa atau berusaha. Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa sudah banyak yang turun tahta.

Rasanya.... Baru kemarin, padahal sudah lebih setengah abad lamanya.

Petinggi-petinggi yang dulu suka korupsi, sudah banyak yang meneriakkan reformasi. Tanpa merasa risi.

Rasanya.... Baru kemarin rakyat yang selama ini terdaulat sudah semakin pintar mendaulat.

Pejabat yang tak kunjung merakyat pun terus dihujat dan dilaknat. Rasanya baru kemarin. Padahal sudah tujuh puluh tahun lamanya. Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh. Padahal pembangunan badan yang kemarin dibangga-banggakan sudah mulai runtuh. Daging yang selama ini terus dimanjakan kini sudah mulai kalap mengerikan. Ruh dan jiwa sudah semakin tak ada harganya. Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan para penguasa berlaku sewenang-wenang kini sudah pandai menirukan.

Rasanya... Baru kemarin. Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.

Pahlawan-pahlawan idola bangsa, seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, dan Sisingamangraja sudah dikalahkan oleh Sinchan, Baja Hitam dan Kura-kura Ninja dan artis idola. Rasanya Baru kemarin. Tokoh-tokoh angkatan empatlima sudah banyak yang koma. Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah banyak yang terbenam. Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya sudah banyak yang tak jelas maunya.

Rasanya... Baru kemarin. Negeri zamrud khatulistiwaku yang manis. Sudah terbakar nyaris habis. Dilalap krisis dan anarkis. Mereka yang kemarin menikmati pembangunan sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban. Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri. Mereka yang kemarin sudah terbiasa mendapat kemudahan banyak yang tak rela sendiri kesulitan. Rasanya baru kemarin. Ternyata sudah tujuh puluh tahun kita Merdeka. Ingin rasanya aku sekali menguak angkasa dengan pekik yang lebih perkasa: Merdeka!!!!!

No comments:

Post a Comment