Monday, September 28, 2015

Blues


SAMPAI saat ini, blues masih berkesan berat. “Mungkin karena first impression saja. Saat ini saya justru menganggap blues sebagai musik yang paling easy listening dibanding musik pop sekalipun. Dari segi musikalitas, tangga nada dan progresi blues sebenarnya lebih sederhana dibanding genre yang lain,” kata Aryanto Wicaksono, penikmat blues.

Blues sebetulnya adalah nama yang diberikan untuk kedua bentuk musik dan genre musik yang diciptakan terutama dalam Masyarakat Afrika-Amerika di Deep South di Negeri Paman Sam itu pada akhir abad ke-19 dari lagu rohani, lagu kerja, hollers lapangan, teriakan, dan narasi sederhana berirama balada.

Ditilik dari sejarahnya, blues berasal dari kata blue, yang dimaknai sebagai kesedihan akibat tekanan terhadap budak kulit hitam Afrika yang berada di Amerika oleh kaum kulit putih pada masa perbudakan. Musik blues juga bisa dibilang merupakan akar dari berbagai genre musik, seperti jazz dan rock.

Memang, isi lagu blues masa kini tidak lagi berisi tentang kesulitan hidup dan kesedihan para budak. Selain isu lagu yang berubah, yang paling mencolok adalah pada masa awal dulu blues dinyanyikan oleh budak yang tertindas, sedangkan saat ini dinyanyikan atau dimainkan oleh musikus atau penggemarnya.

Selain itu, awalnya blues hanya dinyanyikan, terkadang diiringi sedikit perkusi sederhana dari tepukan tangan, chain gang, atau bunyi-bunyian lain, sedangkan saat ini sebagian besar lagu blues diiringi alat musik, mulai hanya gitar sampai band lengkap.

Musik blues pun terus berkembang, bahkan di setiap daerah Amerika melahirkan warna musik blues yang berbeda, seperti Chicago Blues (Muddy Waters, Koko Taylor), Delta Blues (Robert Lockwood jr), East Cost Blues (John Jackson) dan Texas Blues (Mike Morgan & The Crawl).

Pada awal dekade 60-an musik blues di Amerika turun pamornya, sehingga band-band blues asal Inggris kemudian mengisi kekosongan itu. Sebutlah The Rolling Stones, John Mayal, Eric Clapton, dan Bluesbreaker, yang ikut memberi warna musik blues.

Modern electric blues adalah sub genre blues yang paling populer hingga saat ini. Dari genre tersebut, lahir puluhan tokoh musik blues seperti B.B. King, Buddy Guy, John Lee Hocker, Jhony Winter, Robert Cray, Taj Mahal, Dave Hole, Stevie Ray Vaughan, dan lain-lain. Gitaris Jimi Hendrix juga termasuk tokoh musik blues yang paling banyak banyak berpengaruh, karena teknik permainan gitarnya yang didominasi electric sound sangat impresif.

Keberadaan musik blues di dunia saat ini masih dijaga oleh musikus blues senior yang sangat konsisten, seperti Buddy Guy, Eric Clapton, Robert Cray, dan John Mayall, yang sampai kini masih berkarya.

Di Indonesia, musik blues mulai naik daun dengan kemunculan Gugun “Blues Shelter”. Band beranggotakan Gugun (gitar), Jono (bas), dan Bowie (drum) itu telah merilis tiga album: Get the Bug (2004), Turn It On (2007), dan Gugun Blues Shelter (2010). Namun gaung musik blues Tanah Air tidak semenggelar musik pop.

Menurut Hadi Pramono, penggiat blues, tak ada perbedaan antara musik blues pada 1920 dan 1970-an hingga sekarang. Esensinya tetap sama, yaitu sebagai media untuk menyampaikan pesan atas apa yang kita rasakan, perasaan terdalam.


Komunitas Blues
Dulu komunitas blues dianggap eksklusif, kini sebetulnya semua orang penikmat musik aliran ini bisa bergabung. Adalah Kongko Pambudi, vokalis dan gitaris Electric Cadillac, yang melihat besarnya antusiasme penikmat blues di Jakarta, tapi tidak ada yang mewadahi mereka. Akhirnya, pada 9 Januari 2011, ia berinisiatif membentuk komunitas blues yang diberi nama Break Time.

Di Break Time, selain berkumpul, jamming, dan sharing, kegiatan lain mereka adalah bedah film atau nonton film bareng, entah film musikal entah konser. Komunitas ini juga bersinergi dengan komunitas musik lain, terutama sesama komunitas blues, antara lain, komunitas blues Yogyakarta, Bogor, dan Bandung.

Adi Warsita, pengusaha di bidang pariwisata, termasuk pria mapan yang rajin ikut jamming. “Setiap minggu saya harus main musik supaya skill enggak hilang,” kata Adi, yang belajar bermain saksofon dari Maryono (almarhum), sang maestro.

Sosok Adi bisa dibilang salah satu member “VVIP” mereka. Ketika ia mengadakan perayaan ulang tahun di Eco Bar, datang pula para sahabat untuk menyaksikan kepiawaiannya memainkan blues dengan saksofonnya. Selain di 365 Eco Bar, sejumlah tempat yang sampai saat ini masih sering dijadikan ajang berkumpul penikmat live performance, jam session, antara lain, Warung Apresiasi, Bulungan; Karubaga, Mangga Besar; Maitrin, Jalan Kayu Putih; dan Ruang Putih, Bandung.

Dari Tanah Priangan, yang dikabarkan memiliki massa pencinta blues lebih banyak daripada Jakarta, tersebutlah nama Hadi Pramono, penggiat blues yang pada 1991-2013 memandu siaran blues di radio Mara Bandung (Blues Mara), dan pada 2013 hingga sekarang di Blues Sonora Bandung. Hadi kerap menyelenggarakan event blues sejak 1995 dan aktif menulis ihwal blues di harian Pikiran Rakyat.

Mantan ketua komunitas blues Bandung dan penasihat Bandung Blues Society itu juga berjasa mendirikan Perpustakaan Film Musik Blues Bandung pada pertengahan 2000.


Sumber: MALE Zone, Majalah MALE 152 http://male.detik.com

No comments:

Post a Comment