Sunday, September 06, 2015

Hitchhiking


“I hitchhiked in total 1.752 vehicles during my journey for 1.980 days. I visited 71 countries and territories, such as USA, Brazil, Australia, China, El Salvador, and other countries,” ujar Jeremy Marie, hitchhiker, yang bertualang keliling dunia.

Perjalanan itu dimulai pada 8 Oktober 2007 dari Caen, Prancis, dan  selama 5 tahun 5 bulan 5 hari, ia bepergian dengan menumpang kendaraan orang lain. Menumpang?

Ya, cara yang unik, yang sebetulnya  sudah banyak dilakukan para traveler dunia. Secara tradisional, mereka biasanya berdiri di tepi jalan sambil mengacungkan ibu jari ke atas. Ada pula yang membentangkan kertas bertulisan “numpang” sambil menunggu kendaraan lewat.

Di Indonesia, bepergian dengan menumpang sebenarnya sudah lama dikenal, apalagi ketika Ludovic Hubler, hitchhiker terkenal di dunia, sempat mampir ke Indonesia pada 2007, dan membagikan pengalamannya di stasiun TV.


“Tujuan hitchhiking pastilah menghemat bujet traveling,” kata Nancy Margaretha, hitchhiker asal Indonesia.

Nancy tidak pernah menghitung berapa kali hitchhiking. “Trip paling lama hitchhike keliling Eropa Barat dan Timur selama tiga bulan penuh, dari Berlin sampai Warsawa, mengelilingi Austria, Hungaria, Bulgaria, dan berputar kembali sampai berakhir di Polandia. Harus terbang ke Jerman karena waktu berlaku visa sudah habis,” katanya.

Namun tak semua perjalanan Nancy terhitung hitchhiking. Ada beberapa bagian perjalanan yang menuntutnya tidak menumpang. Dari Jakarta ke Singapura, misalnya, ia naik pesawat terbang. Di beberapa kota di Cina, ia juga naik bus, karena visa yang mau habis. “Di Rusia, ada teman yang jemput pakai mobil, karena sudah ada badai salju. Walaupun gratis, tidak dihitung hitchhiking,” ia menerangkan.

Apa enaknya menumpang? “I wanted to feel the freedom to go wherever I want, whenever I could. Hitchhike merupakan jalan terbaik bagi saya memahami dunia dari sudut pandang penduduk lokal, karena saya berinteraksi langsung dengan mereka, which is the most accurate of all views,” kata Jeremy Marie, hitchhiker yang dikutip di awal cerita.

Mayoritas kendaraan yang ditumpangi Jeremy adalah mobil dan truk. Sisanya sepeda motor, tuktuk, traktor, kapal layar, feri, kapal kontainer, pesawat terbang, dan keledai. “Anything that moves,” ujar pria asal Prancis ini.

Bahkan ia berhasil menumpang pesawat komersial Air Asia dari Darwin ke Bali. Namun kesempatan itu tidak mudah didapat, karena ia mengirim ratusan e-mail kepada setiap orang di maskapai penerbangan yang berbeda, salah satunya Tony Fernandes, CEO Air Asia. “He just answer very simply and made his staff send me the ticket within a day. Sebenarnya hitchhike pesawat tidak begitu sulit jika itu pesawat pribadi,” ucapnya.

Menurut dia, negara yang paling mudah memberi tumpangan bagi hitchhiker adalah Cile, Selandia Baru, dan Irlandia. Sebab, hampir sebagian masyarakat lokal tahu soal hitchhiking. Yang paling sulit Amerika Serikat karena memang ilegal.

Demikian halnya di Indonesia, tidak begitu mudah menumpang. Bukan karena penduduk lokal tidak mau membantu, tapi konsep hitchhiking memang tidak familiar. Banyak orang tidak mengerti apa yang dilakukan hitchhiker ketika berada di pinggir jalan sambil mengacungkan ibu jarinya.


Sumber: MALE Zone, MALE 150 http://male.detik.com

No comments:

Post a Comment