Sunday, November 01, 2015

Wisata Seks



PROSTITUSI menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar di negara yang melegalkannya. Bukan rahasia lagi, di Jerman, misalnya, pemerintah mendapat pemasukan dari para pekerja seks melalui pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai yang dikenakan kepada mereka.

Di kawasan seperti North Rhine-Westphalia, pekerja seks dikenai pajak 25 euro per hari. Sementara itu, di kawasan Baden-Wuerttemberg dan Berlin, para pekerja seks wajib membayar pajak 30 euro per hari. Di kawasan ini, mereka bahkan harus membayar pajak di muka, dan pemilik rumah bordil dibebani sesuai dengan jumlah set per hari yang dicapai. 

Bahkan di Jepang, menurut penelitian yang dilakukan Takashi Kadokura dari Dai-Ichi Life Research Institute, pemasukan dari 12.000 pekerja seksnya mencapai US$ 15 miliar atau sekitar Rp 202,5 triliun per tahun.

Menurut pengamat gaya hidup, yang juga penulis buku Jakarta Undercover, Moammar Emka, hal itu lumrah. "Sekarang malah bisa US$ 24 miliar per tahun. Karena di Jepang legal, tak mengherankan jika industri seksnya besar. Prostitusi tersebar di setiap kota," katanya.

Terkait dengan pemungutan pajak dari pekerja seks, pemerintah Belanda sudah melakukannya sejak 2011. Di Amsterdam, diperkirakan transaksi seks mencapai US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,35 triliun per tahun.

Thailand tidak bisa diragukan, sudah menjadi salah satu destinasi wisata seks internasional, bahkan terjadi sejak masa perang Vietnam. Pada 2003, misalnya, industri ini telah menyumbang kas negara US$ 4,3 miliar (sekitar Rp 58 triliun) per tahun atau 3 persen dari ekonomi Thailand.

Baimana dengan Indonesia? Berdasarkan penelitian yang dilakukan pengamat kehidupan malam dan penulis Jakarta Undercover Moammar Emka, sepanjang tahun 1997, setidaknya penghasilan yang diraup oleh sekitar 200.000 pekerja seks sudah mencapai Rp 14 triliun. "Pada 2015, estimasinya bisa tiga lipat, sekitar Rp 44 triliun," ujarnya.



Ya, bagi negara-negara yang telah melegalkan prostitusi, sex tourism justru menjadi sumber devisa negara yang cukup besar. Berikut catatan di tiga negara:

Brasil
Brasil merupakan negara dengan bisnis prostitusi terbesar dan legal. Anehnya, meski dinyatakan legal, mengoperasikan rumah bordil atau mempekerjakan pekerja seks dengan cara apa pun dianggap ilegal. Hal itu sangat kontradiktif mengingat sebagian besar pekerja seks tak bisa lepas dari jasa muncikari ataupun rumah bordil.

Area destinasi wisata seks yang terdapat di Brasil tersebar luas di beberapa daerah, di antaranya, di bagian timur laut, selatan, dan tenggara. Selain itu, tempat tersebut banyak didapat di daerah wisata utama, seperti Rio de Janeiro dan Fortaleza, Ceara, serta di daerah wisata satwa liar, seperti Pantanal dan Amazon.

Hany saja, Brasil dianggap sebagai negara dengan perdagangan seks terburuk, setelah Thailand. Berdasarkan laporan Protection Project, 250-500 ribu anak-anak hidup sebagai pekerja seks anak.

Jerman
Prostitusi di negara ini dilegalkan sejak 1927. Bukan hanya itu, para pekerja seks di Jerman bak pekerja kantoran. Pasalnya, status mereka bisa sebagai karyawan biasa atau kontrak, meskipun sebagian besar memilih bekerja independen. Mereka juga dikenai pajak, diberi asuransi kesehatan, dan menerima dana pensiun. Diperkirakan jumlah pekerja seks di Jerman mencapai 400.000 orang.

Menilik sejarahnya, prostitusi di Jerman bermula ketika beberapa kota memiliki rumah bordil yang dikenal sebagai Frauenhauser, yang berarti rumah wanita. Ketika Nazi memerintah Jerman, prostitusi dipandang sebagai cara hidup asosial, dan banyak pekerja seks dikirim ke kamp-kamp konsentrasi.

Pada 1967, rumah bordil Eros Center dibuka di Hamburg. Di Eros Center, wanita dapat menyewa satu kamar kecil di apartemen seharga 80-150 euro per hari. Kemudian mereka menjajakan diri dari pintu yang terbuka atau dari balik jendela. Tarif yang diberlakukan 25-50 euro untuk short time. Eros Center ada di hampir semua kota besar di Jerman. Yang terkenal adalah Herbertstrasse, di dekat Reeperbahn di Hamburg.

Pada 1972, kembali dibuka rumah bordil yang lebih besar bernama Pascha, di Cologne. Bangunan 12 lantai itu terdiri atas 126 kamar untuk disewakan dan bar. Pascha merupakan rumah bordil terbesar di Eropa. Pada Maret 2007, Pascha menawarkan diskon setengah harga selama sore hari bagi pelanggan yang berusia di atas 66 tahun.

Bahkan, pada 2004 potongan harga untuk transaksi seks difasilitasi oleh sebuah rumah bordil di Dresden. Mereka memberi diskon 20 persen kepada orang-orang yang menganggur dalam jangka waktu lama.

Operasi apartemen dan rumah bordil sempat ditutup oleh pihak berwenang di Berlin pada 2007. Alasannya, rumah bordil tidak sesuai dengan daerah permukiman, dan dikhawatirkan dapat mengganggu lingkungan sekitar. Namun tindakan itu mendapat protes keras dari organisasi yang menaungi pekerja seks dan pemilik rumah bordil.

Jepang
Industri seks di Jepang diperkirakan berhasil mengisi pundi-pundi US$ 24 miliar atau sekitar Rp 324 triliun per tahun. Dengan pemasukan sebesar itu, bisnis seks di Jepang laris manis dan cukup mengesankan karena mereka menyajikan beragam variasi untuk merealisasi imajinasi.

Di Negeri Sakura ini dapat ditemui rumah bordil beraneka tema. Sejak abad ke-15, para pengunjung yang berasal dari Cina, Korea, dan negara Asia Timur lainnya kerap menyambangi rumah bordil di Jepang. Kemudian berdatangan pula pedagang dari Barat, terutama Eropa, yang dimulai dengan berlabuhnya kapal-kapal Portugis pada abad ke-16.

Kabukicho disebut-sebut sebagai red-light district Tokyo. Di area yang terletak di Distrik Shinjuku, Tokyo, itu terdapat ribuan pusat hiburan dewasa, dari klub, bar, tempat karaoke, soapland, hingga panti pijat.

MALE 158
Sumber: Male Zone by R. Anandita – MALE 158 http://male.detik.com

No comments:

Post a Comment