Wednesday, January 18, 2017

Menyusuri Eksotisme Sejarah Jakarta di Kota Tua


TIDAK bisa dimungkiri, Jakarta, atau dahulu dikenal dengan Batavia, sarat akan sejarah. Entah itu kelam, atau justru “berjaya”, sisa-sisa bangunan seakan menjadi “saksi” sekaligus alat pembelajaran bagi mereka yang hidup di masa kini, termasuk dunia gemerlapnya. Adapun dalam proses pembangunannya, Batavia memang didirikan dengan mencontoh konsep bangunan Kota Amsterdam di Belanda. Tidak mengherankan, jika berkunjung ke pusat Kota Batavia--sekarang Kota Tua--Anda akan menjumpai banyak bangunan besar berarsitektur Neo Klasik, Gotik, hingga Barok. Belum lagi, soal kanal-kanal kuno dan jembatan gantung yang mempermanis lanskap...

Kawasan Batavia, atau yang kini populer dengan Kota Tua sendiri menjadi satu kawasan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Entah domestik maupun mancanegara, lokasi ini hampir dipastikan penuh di akhir pekan. Entah ingin sekadar duduk dan menikmati suasana, atau justru belajar sejarah Batavia – berikut adalah beberapa destinasi sejarah yang bisa Anda kunjungi saat berada di Kota Tua.

1. Stasiun Jakarta Kota

wikimedia.org

Pertama kali dibuka pada tahun 1929, tidak heran jika bangunan Stasiun Jakarta Kota--dahulu bernama Stasiun Beos--masih mengadopsi gaya Eropa. Sementara beberapa sumber mengungkap bahwa “Beos” diambil dari (Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sumber lain justru mengklaim “Beos” sebagai singkatan dari Batavia En Omstreken (Batavia dan sekitarnya). Apa pun itu, Stasiun Beos sendiri telah lama menjadi penghubung Batavia dengan daerah-daerah di sekitarnya, seperti halnya Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), hingga Karavam (Karawang).

2. Museum Bank Mandiri


https://cdn.tmpo.co/data/2014/07/30/id_311171/311171_620.jpg
Dahulu, bangunan ini dikenal sebagai kantor Cabang NHM (Nederlansche Handel-Maatschappij) atau Factorij Batavia, sebelum akhirnya mulai difungsikan sebagai museum sejak awal tahun 2004. Adapun bangunan bergaya art-deco klasik hasil rancangan tiga arsitek Belanda (J.J.J de Bruyn, A.P. Smits dan C. van de Linde) ini merupakan salah satu museum perbankan di Indonesia, yang menyimpan berbagai benda-benda perbankan dengan rentang zaman Belanda, kemerdekaan Republik Indonesia, hingga masa kini.

3. Museum Bank Indonesia


wikimedia.org
Dahulu berfungsi sebagai rumah sakit (Binnen Hospital), gedung besar yang terletak di depan Stasiun Jakarta Kota ini mulai dialihfungsikan sebagai bank (De Javasche Bank, 1828), hingga akhirnya diresmikan sebagai Museum Bank Indonesia pada 21 Juli 2009.

4. Museum Sejarah Jakarta


Alih-alih menyandang nama Museum Sejarah Jakarta, gedung yang satu ini justru populer dengan nama Museum Fatahillah. Dahulu, di sanalah pusat pemerintahan VOC dan Hindia Belanda di Batavia--atau bahkan di Indonesia. Adapun selain sebagai Kantor Gubernur Jenderal, gedung yang dibangun dalam rentang tahun 1707-1710 ini juga memiliki ruang pengadilan, berikut penjara bawah tanah.

Lantaran menjadi “pusat” Kota Tua Jakarta, setidaknya ada beragam aktivitas yang bisa Anda lakukan saat berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta. Ini mencakup masuk dan berkeliling museum, atau justru sekadar duduk-duduk, dan bersepeda ontel a la turis. Adapun Museum Fatahillah juga dikelilingi oleh beberapa gedung tua yang kini difungsikan sebagai museum, seperti halnya Museum Seni Rupa (dahulu Kantor Dewan Kehakiman), Museum Wayang (dahulu Gereja Belanda), serta Gedung Kantor Pos, dan Cafe Batavia (dahulu gudang komoditas hasil bumi).

5. Museum Bahari


Tidak seperti namanya, di sanalah dahulu tersimpan beragam hasil bumi terutama rempah-rempah--komoditas utama VOC yang konon sangat laris di pasar Eropa. Adapun dibangun secara bertahap (1652-1771), gedung Museum Bahari terdiri atas dua sisi, yakni sisi barat (Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat) dan sisi timur (Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur).

6. Toko Merah


Dinamakan demikian lantaran warna bangunan yang didominasi warna merah. Sebenarnya, Toko Merah sendiri merupakan bangunan “kembar”, dengan tipikal dua rumah yang tergabung dalam satu atap.

Merupakan bangunan berarsitektur klasik Eropa dan Tiongkok, lokasi Toko Merah sendiri ada dekat dengan pusat pemerintahan, yakni di tepi Kali Besar (de Groote Rivier). Pada pertengahan abad ke-19, gedung ini berfungsi sebagai sebuah toko, dengan nama pemilik Oey Liauw Kong. Seiring berjalannya waktu, Toko Merah pernah difungsikan sbeagai kantor hingga Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang.

7. Jembatan Kota Intan



Jembatan Kota Intan--atau populer dengan Jembatan Jungkit--merupakan sebuah jembatan yang pada dasarnya menghubungkan Kalibesar Timur dan Kalibesar Barat. Adapun nama “Intan” diperoleh dari Bastion Diamant (Intan)--sebuah bastion Kastil Batavia yang terletak tidak jauh dari jembatan tersebut.

Sebelum bernama Jembatan Kota Intan, jembatan yang dibangun pada 1968 ini dikenal sebagai de Hoenderpasar Brug (Jembatan Pasar Ayam). Satu hal yang menarik, yakni jembatan ini pernah dilukis oleh seorang pelukis populer--Vincent van Gogh, dalam kunjungannya ke Batavia. Sayang, kini jembatan tersebut merupakan peninggalan “satu-satunya” yang tersisa dari jembatan sejenis hasil rancangan Belanda di Batavia.

Itulah tujuh destinasi sejarah yang bisa Anda kunjungi saat berada di Kota Tua. Ada pergeseran gaya traveling saat ini, termasuk menemukan hal-hal terhadap peninggalan lama. Adapun jangan lupakan cara baru mengeksplorasi Kota Tua, seperti halnya dengan mencoba paket wisata malam yang kini banyak ditawarkan. Untuk tujuan tersebut, tidak ada salahnya jika memutuskan menginap di hotel terbaik di Jakarta, yang berlokasi di dekat Kota Tua. Nah untuk detail dan pemesanannya, bisa langsung Anda cek di sini.

No comments:

Post a Comment