ABOUT ME



25 Years in Journalism


Burhan Abe, lebih dari 25 tahun berkecimpung di bidang tulis menulis, khususnya media. Lulusan Fisipol UGM, jurusan Hubungan International ini mengasah ilmu jurnalistiknya di Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan Yogya (LP3Y) pimpinan Ashadi Siregar, kemudian mendapat beasiswa dari Asia Foundation untuk praktik dan magang di Majalah TEMPO tahun 1990-an.

Sejak saat itu Abe, demikian ia dipanggil, tidak bisa melepaskan diri dari dunia kewartawanan. Ia sempat bekerja di beberapa media, menulis berbagai hal, mulai dari politik, ekonomi, bisnis, hingga gaya hidup, sebutlah majalah berita Editor (yang dibredel pada masa Orde Baru), majalah bisnis SWA, memimpin majalah kuliner Appetite Journey, juga majalah hiburan pria POPULAR

Sempat membangun portal bisnis, Diskon Gokil dan Hari Gini, sambil menjadi kontributor The Jakarta Post, sebelum akhirnya memimpin majalah gaya hidup dan hiburan MALE. Majalah dengan segmen pria ini adalah di bawah grup Trans Corp - detik.com (Trans Media) dan dirancang sebagai majalah digital interaktif, mingguan, untuk tiga platform (iPad, tablet/ponsel berbasis Android, serta dalam format PDF), bahkan awal 2015 hadir di iPhone.



MALE yang published pertama kali 2 November 2012, adalah trendsetter untuk media digital di Indonesia, dengan jumlah download sekitar 350.000 setiap minggunya.

Akhir 2015, MALE berhenti terbit, dan sebagai gantinya, Abe bersama Yogas Design dan Indra de Bono, mendirikan portal gaya hidup dan hiburan untuk pria, MIND - Male Indonesia.

Di bidang digital, Abe mengajar paruh waktu mahasiswa S2 di Universitas Paramadina, untuk mata kuliah New Media & Digital Marketing Communication.

Untuk bidang kuliner, Abe pernah menjadi salah satu juri dalam acara F&B Masters yang diselenggarakan Hilton Worldwide di Bandung, 12 September 2015, untuk tingkat lokal. Untuk tingkat global, Abe juga tercatat sebagai salah satu juri untuk kategori cocktail (2014) dan wine (2015), yang berlangsung di DoubleTree by Hilton Jakarta – Diponegoro. Kompetisi ini memiliki 5 kategori, yakni bar, barista, kuliner, pastry, dan sommelier, dari berbagai negara, sebanyak 36 properti Hilton Worldwide di Asia Tentara, termasuk dan India.

Pengalaman berikutnya adalah menjadi tour leader dalam acara diplomasi kuliner,  ke Madrid, Spanyol, Januari 2016. Acara yang digagas KBRI, Madrid, Spanyol, ini mempunyai misi mempromosikan warisan budaya kuliner Indonesia, dalam hal ini masakan Padang yang diwakili oleh Restoran Marco Padang, ke mancanegara.


**


“Jakarta is a growing metrosexual city”

Burhan Abe helms a new digital interactive magazine, MALE. From the name, people can be assured that the magazine is designed for male readership. “Yes, it’s true, but I know quite number of women who enjoy reading it, as we also design the magazine for partygoers looking to find the city’s happening hangouts,” he says.

The magazine’s sensual appeal has led to mixed reviews from the public, but Abe doesn’t see this as an obstacle. Jakarta has turned into a metrosexual city, and the people are becoming more tolerant and open-minded, says the guy who enjoys chilling out at a coffee shop with his gadgets around. (JetStar, January 2012)

Burhan Abe
Editor-in-Chief MALE Digital Interactive Magazine


**


Ballad of Bad Dad



Burhan Abe, seorang pria berbadan tegap dengan kulit sawo matang ini merupakan contoh orang yang memilih gaya hidup sebagai free father. Abe, pangilan akrabnya, ditemui di sela-sela kesibukannya yang cukup padat di sebuah coffee shop di Senayan City, Jakarta, berbagi bercerita tentang seluk-beluk kehidupan dan pekerjaannya. Waktunya memang tidak menentu dan tidak dapat dipastikan. Lulusan Fisipol, jurusan Hubungan Internasional UGM Yogyakarta ini mengaku bahwa waktunya banyak ia habiskan di lapangan terutama di nightlife.

Waktu bersama keluarga dirasakannya sangat kurang. "Paling hanya Sabtu dan Minggu saja, bahkan kalau tidak Sabtu, ya Minggu,” ujar editor tamu untuk rubrik Marketing Perspective di The Jakarta Post ini. Jika berkumpul dengan keluarga, ia selalu memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin untuk berinteraksi dengan keluarga. Bila tidak ada waktu untuk bertemu, ia pun menyempatkan diri untuk menghubungi keluarga melalui ponselnya.

Ia mengambil jalan hidup seperti ini, karena kehidupan dan pekerjaannya berada dalam lingkaran lifestyle dan entertainment. Ia sangat menikmati pekerjaan seperti ini. "Paling tidak bisa refreshing sambil menghasilkan uang,” tambah konsultan PR, Vox Populi Publicists, yang pernah bekerja dengan Rhenald Kasali itu. Dengan relasi di lingkaran lifestyle, pria yang pernah teribat dalam program reality show “Joe Millionaire” di RCTI ini bisa memperoleh penghasilan, menghidupi keluarga, serta segala keperluannya.

Berhubung pecinta musik jazz dan dangdut ini bekerja di lingkungan seperti itu, setiap bekerjapun ia seperti bujangan, namun ia tetap ingat bahwa di rumah ada yang menanti. Ketika di luar rumah, Abe harus bisa bersosialisasi dengan siapapun, tapi pada saat di rumah, ia berperan sebagai seorang bapak yang patut dicontoh oleh keluarga. “Menikah bukan berarti kehidupan sosial kita hilang,” ujar pengelola majalah gratis untuk kaum lajang Jakarta Single: dan Editor in Chief majalah kuliner dan gaya hidup, Appetite Journey ini.


Banyak keuntungan menjadi free father yang sangat lifestyle. Penggemar salsa ini dapat melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan keinginan, dan dapat mengasah kreativitasnya tanpa beban. Namun di sisi yang lain, menjadi orang seperti itu juga tidak gampang. Selain harus jauh dari keluarga, biaya hidup sehari-hari cukuplah besar. "Kalau kita tidak bisa pandai-pandai mengatur dan memanfaatkan pergaulan, kita tidak akan mendapatkan timbal balik yang setimpal. Malah bisa nihil,” tukas penulis buku “50 Usahawan Tahan Banting” dan biografi pasangan Alex – Martha Tilaar ini.

Diakui olehnya, dukungan keluarga sangat besar dalam mengembangkan kariernya. Tapi juga sebaliknya, hambatan dari keluarga tentu bisa menghalangi kariernya. Maka ayah dua anak ini selalu memberi pengertian pada keluarga tentang pekerjaan yang sedang dilakoni, sehingga keluarga tidak banyak mengeluh terhadap pekerjaannya.

Dalam kehidupan sebagai free father, sangat diperlukannya family quality time, mengingat sempitnya waktu untuk keluarga, setiap ada kesempatan dimanfaatkan untuk komunikasi dengan keluarga. "Walau ada sebagian pria punya banyak waktu senggang tapi jarang digunakan untuk keluarga, sementara yang tidak punya waktu selalu meluangkan waktu untuk keluarga. Jadi yang lebih baik adalah pria yang sempit punya waktu, tapi perhatian pada keluarga," tambah kontributor majalah SWA, Platinum Society, ME, dan Her World ini.

(Majalah ME, 20 Agustus 2007)