Bos Perempuan, Siapa Takut?

Bos perempuan yang suka personalized semua persoalan, bahkan cenderung mau tahu urusan pribadi, menurut saya ada sisi positifnya. Bahkan untuk kasus-kasus tertentu malah bisa mengencerkan suasana. Masalah pribadi yang kadang-kadang membuat bete, bahkan berpotensi sebagai sumber stres, di tangan bos perempuan seakan-akan ada salurannya. Bos laki-laki cenderung ‘jaim’ (jaga image), dingin, pantang mengobral cerita pribadi, apalagi berkeluh-kesah. Jangankan tentang pribadi saya (kegiatan saya apa, anak saya berapa, apakah susah masuk usia sekolah atau belum, dan seterusnya), bahkan alamat saya saja petinggi saya yang dulu – yang nota bene laki-laki – belum tentu tahu.

Menghadapi bos perempuan, yang penting ternyata, be positive thinking. Punya bos laki-laki atau bos perempuan, mengutip program Keluarga Berencana, ternyata sama saja. Tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Dengan angle yang berbeda hasilnya juga berbeda, bahkan luar biasa.

Punya bos perempuan, kalau tahu cara memperlakukannya ternyata oke-oke saja. Setidaknya begitulah yang saya apelajari dari John Gray, Ph.D melalui bukunya yang terkenal, Mars and Venus in the Workplace. Saya berkepentingan membaca buku tersebut, demi kepentingan praktis saja. Menurutnya ada lima cara yang mudah untuk bisa “menaklukkan” hati bos perempuan; 1) Sapa dengan akrab, 2) Ingat dengan baik nama suami dan anak-anaknya, 3) Puji penampilan, 4) Tawarkan bantuan, dan 5) Proaktif. Mudah, kan?

Mengingat nama suami dan anak-anak bos apa susahnya. Memuji bos ketika mengenakan busana baru, atau belum pernah dikenakan ke kantor dan amat pas dengan penampilannya, juga ketika bos habis memotong atau mengecat rambutnya , tentu bukan persoalan sulit. Asal tulus dan muncul dari dalam hati. Jika bos kerepotan mengirimkan fax, apa salahnya menawarkan bantuan. Juga, ketika kita terlambat datang karena ban mobil kempes, apa salahnya proaktif dengan memberitahu via SMS, misalnya.

Cuma, yang rada berat bagi saya, seperti yang dianjurkan John Gray, adalah menyapa akrab dan menanyakan hal-hal yang lebih bersifat pribadi, “Kemarin jadi pergi ke Bandung? Sama anak-anak?” Bukan apa-apa, saya tidak selalu mempunyai mood yang baik untuk berbasa-basi, sehingga kalau harus melakukannya juga kesannya seperti “cari muka”.

Untuk berbicara khusus yang lebih mendalam bolehlah. Bahkan ketika bos curhat, saya termasuk pendengar yang baik. Tidak hanya urusan kantor, tapi juga keluh-kesahnya tentang banyak hal. Entah urusan klien yang rewel atau anak-anaknya yang suka berulah. Saya berusaha menanggapi dengan bijaksana, tidak menambah-nambahi apalagi mendramatisasi persoalan. Selebihnya adalah persoalan kantor biasa, persoalan manajemen pada umumnya. Be a professional, siapa pun bosnya. Laki-laki atau perempuan sama saja. (Majalah Her World)

Related Stories

spot_img

Discover

Strategi Baru Centara: Mengubah Hotel Jadi “Experience Platform” di...

Industri perhotelan global sedang bergeser. Ketika kamar mewah dan fasilitas premium menjadi standar, diferensiasi...

Kompas yang Tak Pernah Bergerak

Di banyak organisasi, “visi” sering lebih mirip dekorasi daripada navigasi. Ia terpajang rapi di...

POCO X8 Pro Series: Main Cepat, Tampil Tajam

Ada dua tipe orang di dunia smartphone hari ini: mereka yang sekadar pakai, dan...

Akhir Pekan Paling Nikmat di Alila Seminyak

Akhir Pekan Paling Nikmat di Alila Seminyak Kalau ada cara yang lebih baik untuk merayakan...

Clifftop Indulgence: Di Ujung Selatan Bali, Kuliner Naik Kelas...

Kalau Bali punya titik di mana makan bukan sekadar makan—tapi pengalaman penuh drama, pemandangan,...

HOPE Is Not a Vacation. It’s a Strategic Withdrawal.

Ada dua tipe liburan: yang bikin feed Instagram penuh, dan yang benar-benar bikin kepala...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here