My Journey to Feel the Light

Selama tiga tahun terakhir ini yang namanya digital mengubah semua teknis fotografi. Darwis tidak sependapat jika dikatakan bahwa kamera digital tidak memilki nilai seni. Justru fotografer yang baik harus mau belajar dan meng-update ilmu fotografinya.

Bagi Darwis, yang telah banyak memotret model dan selebriti papan atas Indonesia mulai dari Enny Sukamto hingga Kris Dayanti ini, belajar tidak mengenal batas usia, bahkan menjadi kewajiban manusia yang ingin maju dan berkembang. Ia sendiri beberapa kali mengikuti kursus lighting dan teknik kamera di Swiss dan Jerman sejak 1983 itu. Hanya saja, ”belajar fotografi itu tidak harus kepada fotografer. Saya justru belajar dari pelukis, dari dokter, dari siapa saja,” ungkap pemilik Darwis Triadi School of Photography itu.

Perjalanan ke Yogyakarta, 16 – 19 April 2005 tentu tidak sekadar menyambangi Pasar Burung Ngasem, Taman Sari, Ratu Boko, dan Pasar Prambanan. Memotret tiga model tentu bukan sekadar mengadikan wajah multi etnis mereka – Lana (22 tahun) mewakili wajah Indo, Imelda (22 tahun) yang Oriental, serta Puri (30 tahun) yang memancarkan eksotisme Jawa.

My Journey to Feel the Light lebih tepat dianggap sebagai perjalanan kreatif spiritual. Perjalanan seorang fotografer yang memperlihatkan sebuah proses pemotretan objek yang berada di depannya, sampai mencari dan menentukan sendiri latar belakangnya; sehingga terbentuk suatu wawasan bahwa mereka bukanlah sekadar objek, dengan latar belakang situs bersejarah atau lingkungan sosial tertentu yang unik, tapi juga sikap hidup Darwis Triadi sebagai manusia. (Burhan Abe)

Main Photo by Alex Baber on Unsplash

Previous article
Next article

Related Stories

spot_img

Discover

Kemewahan yang Tersisa: Ruang

Ada masa ketika kemewahan diukur dari apa yang bisa dipamerkan: jam tangan Swiss, mobil...

Api, Laut, dan Kaiseki: Maret yang Menggoda di Trisara

Di sepanjang pantai barat laut Phuket yang masih terasa liar dan sunyi, berdiri sebuah...

Memori Perusahaan yang Tak Boleh Hilang

Mengapa organisasi cerdas tidak hanya bekerja—tetapi juga mengingat. Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob Perusahaan besar...

Aman-i-Khás 2026

Maskulinitas yang Tenang di Tepi Belantara Rajasthan Di dunia yang makin berisik, kemewahan sejati justru...

Ketika Redaksi Berhadapan dengan Algoritma

Suatu pagi di ruang redaksi, rapat tak lagi dimulai dengan pertanyaan klasik: “Apa yang...

Bukan Anak IT? Bagus. Justru Itu Keunggulan Anda.

Ada mitos yang terlalu lama kita pelihara: dunia digital adalah wilayah eksklusif para programmer,...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here