Spa dan Tradisi Jawa

Siapa bilang perawatan tubuh secara paripurna ala spa hanya ada di alam modern. Sejak abad 17 Keraton Kasultanan Yogyakarta sudah mengenal tradisi perawatan tubuh, yang dilakukan di Tamansari.

Menurut KRT RPA Soerjanto Sastroatmodjo, 50 tahun, pakar budaya dan tradisi Keraton Kasultanan Yogya, kompleks Tamansari yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) I semula dimaksudkan sebagai pusat rekreasi dan tetirah. Kompleks pemandian ini dibangun dan dirancang oleh seorang arsitek bangsa Portugis bernama Marseso. Ketika membangun Tamansari, sang arsitek yang oleh Sultan diberi nama Demang Tegis ini membayangkan istana air yang ada di Lisabon.

Penggarapannya cukup lama, memakan waktu 15 tahun, dimulai dari masa HB I tahun 1787 hingga HB II tahun 1805. Lama, karena lokasi Tamansari di Pabringan jauh dai laut, sehingga harus dibuatkan aliran air terlebih dahulu untuk kolam-kolamnya. Untuk itu air dari sungai Winongo pun dialirkan melalui bawah tanah yang diberi nama Umbul Larangan.

Tamansari merupakan sebuah taman rekresasi keluarga raja, terdiri dari beberapa centrum, mulai dari Gapura Tamansari Pengarantunan (ruang tunggu), Paseban (tempat bertemunya raja dan abdi dalem), Pulau Cemeti, Sumur Gemuling (jalan rahasia dari keraton ke laut selatan), serta Balekambang.

Yang menarik, selain untuk bercengkrama, kompleks Tamansari juga digunakan sebagai tempat perawatan tubuh paripurna yang dikenal sebagai ngadisaliro, ngadirogo dan ngadibusono, bagi putri-putri bupati taklukan Sultan yang akan diperisteri sebagai selir.

Tempat perawatan tubuh itu dikenal sebagai Bangsal Peni dan Bangsal Manuboro yang terletak di sisi timur laut kompleks tersebut. Layaknya spa di zaman sekarang, proses perawatan tubuh bagi putri-putri calon isteri Sultan (selir) itu memakan waktu hingga lima jam. Dimulai dengan kungkum (berendam) dalam bak air dingin yang sudah dicampur dengan asam Jawa dan jeruk nipis. Fungsinya untuk mengilangkan kotoran dan bau badan yang tak sedap. Kemudian luluran, dengan bahan campuran tanah liat dan susu.

Sehabis luluran, tubuh dibersihkan dengan air hangat. Kemudian tubuh dibalur lagi dengan bubuk beras yang dicampur kunyit. Setelah “meresap”, sang putri boleh berendam di air hangat dengan mengusap-usapkan ramuan boreh – terdiri dari beras kencur dan kembang setaman. Ini membuat badan terasa segar dan rileks.

Ada satu proses lagi, yakni pemijatan oleh emban Sinelir, sebelum para selir itu disuruh berenang-renang di kolam yang luas sampai puas. Setelah itu baru acara pencucian rambut dengan londho, alias serbuk dari merang yang sudah dibakar dicampur dengan air hangat. Karena waktu itu tidak hair dryer, maka proses pengeringannya dengan ratus. Rambut diasapi dengan asap ratus yang terdiri dari kemenyan, kayu gaharu dan kapur barus.

Kalau ingin lebih sempurna, rambut dibasuh lagi dengan rendaman air dadap srep dan pandan wangi yang fungsinya sebagai contitioner di zaman sekarang. Selain untuk para selir, perawatan ala keraton ini juga dilakukan oleh para penari Bedoyo atau Srimpi ketika akan tampil pada acara-acara resmi kerajaan. (Burhan Abe)

Related Stories

spot_img

Discover

Eri Maldives Kembali Dibuka: Eco-Chic Tanpa Basa-Basi, Mewah Tanpa...

Barefoot luxury, tapi dengan isi. Bukan sekadar liburan—ini soal cara hidup. Maladewa tak pernah kekurangan...

Hennessy Menyambut Tahun Kuda dengan Koleksi Edisi Terbatas yang...

Ada merek yang merayakan Tahun Baru Imlek sekadar dengan mengganti kemasan. Ada pula yang...

Musim Baru di Amanpulo

Ketika Angin Amihan Kembali, dan Gaya Hidup Bergerak Lebih Tenang Ada tempat yang tak perlu...

Tempat Nongkrong Baru Buat Orang yang Nggak Cuma Mau...

Seminyak itu keras. Panas, cepat, penuh distraksi. Kalau lo ke sini cuma buat tidur...

KLEO Seminyak: Ruang Sosial Baru di Jantung Seminyak

Di Seminyak, hotel tak lagi sekadar tempat singgah. Ia menjadi ruang hidup—tempat ide, tubuh,...

Si Paling Tahu

Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob Di setiap lingkar pertemanan—dan hampir pasti di setiap kantor—selalu...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here