Menggarap Potensi Besar di Dunia Maya

Kaskus, yang merupakan singkatan dari Kasak Kusuk, bermula dari sekadar hobi dari komunitas kecil yang kemudian berkembang hingga saat ini. Kaskus dikunjungi sedikitnya oleh 600 ribu orang, dengan jumlah page view melebihi 15 juta setiap harinya. Hingga saat ini Kaskus sudah mempunyai lebih dari 180 juta posting. Menurut Alexa.com, pada bulan April 2010 Kaskus berada di peringkat 313 dunia dan menduduki peringkat 6 situs yang paling banyak dikunjungi di Indonesia.

Andrew tidak setuju kalau Indonesia disebut sebagai negara berkembang. “Indonesia is a progression country,” ujarnya. 

Itu bukan semata-mata ia mengelola situs Kaskus yang menjadi “the 1st loyalists in the world for community”. Tapi faktanya, penduduk Indonesia memang tercatat sebagai salah pengguna Internet terbesar di Indonesia, dengan beberapa parameter: pengguna Facebook-nya nomer ketiga di dunia (berbeda yang diungkap Ono W. Poerbo dengan data beberapa tahun yang lalu), dengan pertumbuhan populasi digitalnya yang mencapai 60%. 

Dengan tingkat pertumbuhan dunia online yang luar biasa itulah cara memandang dunia (bisnis) juga lain, antara dulu dan sekarang. Sarana beriklan, misalnya, era 1980-an masih memakai media cetak, TV/sinema, radio, poster/billboard dll, termasuk direct marketing. Tapi kini sarananya makin bertambah dan beragam – termasuk di dunia maya alias Internet yang jangkauannya tidak terbatas oleh yuridiksi negara. 

Potensi Besar Bisnis Online

Meski penetrasi Internet di Indonesia masih kecil, bisnis online memiliki potensi besar. Hal ini ditunjang pertumbuhan pengguna Internet di tanah air yang dinilai sejumlah kalangan akan berlangsung pesat. Data dari Google Ad Planner, ada 35 juta unique user (bisa lebih dari satu user) Indonesia di Internet. Satu unique user bisa lebih dari satu user. “Artinya, pengguna Internet Indonesia sedikitnya 35 juta,” kata Nukman Luthfie dari Virtual Consulting.

Nukman yang sejak 1999 sudah menjadi pembicara di 200 event itu menambahkan, “Berdasarkan hasil riset terakhir, separuh dari pengguna Internet di Indonesia sudah pernah melakukan transaksi. Sejauh ini, sebagian besar memang baru terbatas pada pembelian e-ticket atau penggunaan jasa e-banking, tapi transaksi jual beli produk juga sudah cukup banyak.” 

Itu sebabnya ia percaya bahwa potensi bisnis di dunia maya sangat menjanjikan. Bisnis online pada garis besarnya terdiri dari dua macam. Yang pertama offline bisnis yang di-online-kan, dalam artian sudah ada produk nyata yang dipasarkan dengan sebuah website. Dan yang kedua, benar-benar bisnis online, yaitu bisnis yang memang 100% dibangun di dunia maya, sebutlah Google, YouTube, Yahoo, Facebook, Twitter, dan masih banyak lagi.

Hal senada juga diyakini oleh Pontus Sonnerstedt, Senior Director Business Development Yahoo South East Asia sekaligus Indonesia Country Lead. “Ada peningkatan dari sisi jumlah pengguna Internet. Hal penting lain adalah seperti juga pasar ponsel, tarif menjadi faktor yang sangat penting bagi pengguna,” kata orang yang bertanggung jawab membesarkan Yahoo di Indonesia, mulai perancangan strategis, penjualan, kemitraan, pemasaran, hinggga pengembangan produknya itu.

Seperti ponsel, dulu masih menjadi barang mahal, tapi sekarang hampir semua orang memakainya. Demikian pula dengan Internet, tidak lama lagi, pasti akan memasyarakat lebih luas lagi. Pontus, yang bekerja untuk Ericsson dan Sony Ericsson Asia Pacific, bahkan yakin bahwa sebagian pengguna internet pun juga mobile. 

Photo by Sincerely Media on Unsplash

Bila dibandingkan dengan pasar lain di Asia Tenggara, demikian Pontus, Indonesia adalah negara yang besar, dan memiliki jumlah pengguna internet yang hampir sama dengan Vietnam atau Filipina. Namun, penetrasi Internet di sini jauh lebih kecil. Padahal Produk Domestik Bruto (GDP) per kapita Indonesia sebenarnya lebih besar daripada Vietnam. Artinya, dengan turunnya tarif berinternet – ditambah jumlah hotspot gratis makin banyak, tentu pasar Indonesia sangat potensial. 

Pontus meyakini, beberapa perusahaan Indonesia adalah pasar terbesar. “Baik itu untuk pasar ponsel, cunsomer good, Indonesia adalah pasar terbesar di wilayah ini,” katanya, seperti dikutip VIVAnews. 

Related Stories

spot_img

Discover

CURE Bali Tidak Berusaha Mengesankan—Justru Itu Kelebihannya

Ada restoran yang datang dengan suara bising. Ada juga yang datang dengan niat. CURE Bali...

Dapur Masa Depan Ada di Jakarta

Saat Teknologi Bertemu Ambisi Kuliner Indonesia Di kota yang tak pernah benar-benar tidur, dapur kini...

Mengelola Atasan

Bukan Tentang Menyenangkan, Tapi Membuat Mereka Lebih Tajam Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob “People don’t...

Strategi Baru Centara: Mengubah Hotel Jadi “Experience Platform” di...

Industri perhotelan global sedang bergeser. Ketika kamar mewah dan fasilitas premium menjadi standar, diferensiasi...

Kompas yang Tak Pernah Bergerak

Di banyak organisasi, “visi” sering lebih mirip dekorasi daripada navigasi. Ia terpajang rapi di...

POCO X8 Pro Series: Main Cepat, Tampil Tajam

Ada dua tipe orang di dunia smartphone hari ini: mereka yang sekadar pakai, dan...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here