Tren Iklan Digital

Tren digitalisasi membuat media digital makin hits – kata anak gaul sekarang. Mudahnya pengukuran serta penggunanya yang massif, beriklan di media digital, tentu saja, semakin menarik.  

Memang, berpindahnya iklan-iklan di media tradisional ke media digital memerlukan proses yang panjang. Sepanjang apa? Masing-masing pengamat mempunyai pandangan yang beragam. Di negara-negara maju proses digitalisasi pada umumnya lebih cepat ketimbang di negara-negara berkembang, ini berkaitan dengan tingkat kesadaran serta infrastruktur yang ada.  

Tapi khusus di Indonesia perkembangannya sering tak terduga. Tahun 2012, misalnya, iklan di internet mencapai pertumbuhan nomor dua di dunia, terlepas dari nilainya. Hal ini juga diperkuat dengan hasil survei Nielsen juga mengatakan bahwa 62% orang pengguna internet Indonesia mengklaim bahwa mereka melihat iklan di ranah digital atau ulasan di media sosial sebelum memutuskan membeli. Asal tahu saja, menurut data Weber Shandwick, Indonesia mempunyai sekitar 65 juta pengguna Facebook.  

Fenomena tersebut berdampak pada perkembangan media tradisional – cetak, TV, dan radio – yang mengalami penurunan. Memang, surat kabar dan majalah cetak mempunyai pembaca setia, sedangkan televisi adalah media tradisional yang masih memiliki audiens yang sangat besar, apalagi di Indonesia. Tapi yang tidak boleh dilupakan, semua publisher harus mempunyai persiapan untuk menuju ke era digital, kalau tidak ingin hanya menjadi kenangan kelak.  

Di masa transisi ini, demikian Hando Sinisalu, Pendiri dan Managing Partner Best-Marketing – perusahaan agensi periklanan asal Estonia, seperti dikutip marketing.co.id, perlu adanya integrasi antara media tradisional dan media digital.

Perkembangan yang menarik adalah akses internet melalui mobile semakin membesar, entah itu smartphone atau pun tablet, ketimbang via desktop. Penetrasi internet di Indonesia mencapai 12,5%, dan 22% penggunanya mengakses dari mobile.  

Menurut Hando, 85% pengguna yang mengakses internet dari perangkat mobile lebih menyukai aplikasi daripada mobile browser. Aplikasi memberikan kemudahan, kenyamanan, dan kecepatan lebih daripada mobile browser – seperti yang sudah Anda buktikan dengan MALE yang kalau Anda rajin mengikuti (http://male.detik.com).  

Tahun 2014 adalah tahun keemasan bagi bisnis iklan digital yang memanfaatkan sarana internet. Bahkan menurut Harris Thajeb, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), kenaikan belanja iklan digital yang tertinggi.  

Harris memperkirakan, belanja iklan nasional tahun ini bisa mencapai Rp 144 triliun, atau naik  16 persen ketimbang tahun 2013 yang sebesar Rp 124 triliun. Belanja iklan televisi mengambil porsi terbesar hingga 67 persen, sedang 30 persen iklan untuk media cetak, dan sisanya media lain seperti media digital dan outdoor. “Namun, belakangan kenaikan belanja iklan digital cukup signifikan, selalu di atas 100 persen, sedang iklan televisi hanya 25 persen,” ujarnya. (Burhan Abe)

MALE 77

Previous article
Next article

Related Stories

spot_img

Discover

A New Rhythm of Entertaining at METT Singapore

Di tengah kota yang nyaris tak pernah berhenti seperti Singapore, cara orang berkumpul sedang...

Dari Semarang ke Bangkok

Saat Koktail Indonesia Naik ke Panggung Rooftop Asia Ada momen ketika sebuah kota “berbicara” tanpa...

Aman’s Quiet Arrival in Dubai

Luxury That Whispers, Not Shouts Di tengah kota yang tak pernah benar-benar tidur seperti Dubai,...

When Mexico Meets the Mediterranean

A Six-Course Dialogue Above the Cliffs of Bali Di atas tebing kapur Ungasan yang dramatis,...

Belitung, Reconnected

Pulau Tenang yang Tiba-Tiba Jadi Dekat Lagi Ada destinasi yang terlalu indah untuk ramai. Belitung...

Ketika CV Tak Lagi Sekadar Formalitas

Di Era AI dan Perekrutan Digital, Resume Harus Bisa “Berbicara” Oleh:Eileen Rachman dan Emilia Jakob Ada...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here