Ice Wine, Primadona asal Kanada

Sejarah pembuatan ice wine tergolong panjang. Ada bukti sejarah bahwa anggur beku yang digunakan untuk membuat ice wine sudah ada pada zaman dulu di Roma. Pliny the Elder (tahun 23-79 SM) menulis tentang beberapa varietas anggur yang mereka panen dalam keadaan beku.

Keterangan mengenai anggur dan pembuatan ice wine memang tidak diketahui secara rinci. Tapi yang jelas, istilah anggur beku, anggur kering (kismis), sudah cukup familiar saat itu, dan pembuatan ice wine dalam metode yang paling sederhana juga cukup populer.

Dalam era modern, ice wine paling terkenal adalah merek Inniskillin dari Kanada, dan diberi label ”Eiswein”, termasuk salah satu produk dengan kualitas terbaik. Anggurnya jenis vidal yang tumbuh di negara tersebut. Ketika dipamerkan di festival wine di Jakarta beberapa waktu yang lalu, ice wine ini menjadi salah satu primadona. Wine jenis gold label oak-aged vidal ini rasanya manis seperti madu. Harga per botolnya berkisar antara Rp1,5 juta dan Rp2 juta.

Though Pelee Island Winery and Hildebrand adalah produsen ice wine pertama di Kanada yang berproduksi secara komersial pada tahun 1983. Inniskillin Wines dikenal sebagai ice wine Kanada dengan prestasi internasional, di antaranya memenangkan Grand Prix d’Honneur tahun 1991 pada Vinexpo di Prancis, dengan ice wine Vidalnya, menempatkan Kanada sebagai penghasil ice wine penting di dunia.

Produsen wine Pillitteri Estate Winery tahun the 2000-an muncul sebagai produsen ice wine terbesar di dunia. Pada November 2006 produsen ice wine Kanada yang lain, Royal DeMaria, meluncurkan lima ice wine Chardonnay dengan harga sebotolnya mencapai C$30.000, yang membuat ice wine harganya setara dengan wine-wine premium yang lain.

Ice wine yang paling populer memang berasal dari Kanada. Tapi negara-negara lain juga ikut memproduksinya, sebutlah Australia, Austria, Kroasia, Republik Ceko, Perancis, Hungaria, Israel, Italia, Luksemburg, Selandia Baru, Slowakia, Slovenia, Swedia, dan AS, paling tidak dalam jumlah kecil. Siap mencoba? (Burhan Abe)

Appetite Journey, June 2009

Related Stories

spot_img

Discover

Elegance at Iftar: Ramadan Dining di Burger & Lobster...

Ramadan selalu menghadirkan ritme yang berbeda di kota. Menjelang senja, meja-meja makan kembali menjadi...

Kemewahan yang Tersisa: Ruang

Ada masa ketika kemewahan diukur dari apa yang bisa dipamerkan: jam tangan Swiss, mobil...

Api, Laut, dan Kaiseki: Maret yang Menggoda di Trisara

Di sepanjang pantai barat laut Phuket yang masih terasa liar dan sunyi, berdiri sebuah...

Memori Perusahaan yang Tak Boleh Hilang

Mengapa organisasi cerdas tidak hanya bekerja—tetapi juga mengingat. Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob Perusahaan besar...

Aman-i-Khás 2026

Maskulinitas yang Tenang di Tepi Belantara Rajasthan Di dunia yang makin berisik, kemewahan sejati justru...

Ketika Redaksi Berhadapan dengan Algoritma

Suatu pagi di ruang redaksi, rapat tak lagi dimulai dengan pertanyaan klasik: “Apa yang...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here