ChatGPT, Gemini, Perplexity—semuanya mengutip, tapi jarang mengantar pembaca pulang ke rumah asal berita. Trafik dari AI ada, tapi skalanya masih seperti uang receh dibanding dominasi Google.
Bagi media, ini bukan sekadar soal SEO mati. Ini soal hilangnya kebiasaan orang untuk datang langsung ke sumber.
Mesin Menulis, Tapi Tak Bertanggung Jawab
Lucunya, media juga ikut memelihara monster yang menakutkan mereka. Hampir semua organisasi berita kini memakai AI. Untuk transkripsi, penyuntingan, pengemasan, analisis data, bahkan membantu peliputan. 97 persen responden menganggap AI penting untuk operasional newsroom.
Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi
Masalahnya, dunia luar juga kebanjiran AI—tanpa etika, tanpa redaktur, tanpa rasa malu. Laporan ini menyebut fenomena AI slop: konten massal, dangkal, murah, dan berisik. Situs palsu bermunculan. Video deepfake ikut pemilu. Hoaks tampil dengan wajah realistis.
Ironisnya, ketika publik makin bingung mana yang benar, mereka tidak otomatis kembali percaya pada media. Sebagian malah bertanya ke chatbot lagi. Lingkaran setan yang elegan.
Media Dipaksa Kembali Jadi Manusia
Di tengah semua ini, satu strategi terasa masuk akal: berhenti bersaing dengan mesin di medan yang salah.
Reuters Institute mencatat pergeseran besar strategi redaksi. Media mulai mengurangi: berita umum, konten layanan, artikel evergreen yang mudah diringkas AI.
Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine
Sebaliknya, mereka menambah investasi pada: liputan lapangan, investigasi, analisis kontekstual, kisah manusia, opini yang jelas sikapnya. Pesannya sederhana tapi menohok: kalau bisa dirangkum jadi tiga bullet point, itu bukan masa depan jurnalisme.

Jurnalis Diminta Jadi Kreator (Dengan Segala Risikonya)
Ancaman berikutnya datang bukan dari mesin, tapi dari manusia yang lebih luwes bermain algoritma: kreator.
Tujuh dari sepuluh pimpinan media khawatir kreator merebut perhatian audiens. Empat dari sepuluh takut kehilangan jurnalis terbaik mereka—yang memilih independen, lebih bebas, dan sering kali lebih makmur.
Respons media? Adaptasi cepat. 76 persen akan mendorong jurnalisnya bertingkah lebih seperti kreator: tampil, personal, punya suara, punya wajah. Media bermitra dengan kreator, merekrut mereka, bahkan membangun studio kreator sendiri .
Tentu ada risiko. Membesarkan personal brand jurnalis berarti membuka pintu keluar bagi mereka. Tapi tidak melakukan apa-apa jauh lebih berbahaya.
Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

