Jurnalisme 2026: Ketika Mesin Tak Percaya, Manusia Tak Sabar

ChatGPT, Gemini, Perplexity—semuanya mengutip, tapi jarang mengantar pembaca pulang ke rumah asal berita. Trafik dari AI ada, tapi skalanya masih seperti uang receh dibanding dominasi Google.

Bagi media, ini bukan sekadar soal SEO mati. Ini soal hilangnya kebiasaan orang untuk datang langsung ke sumber.

Mesin Menulis, Tapi Tak Bertanggung Jawab

Lucunya, media juga ikut memelihara monster yang menakutkan mereka. Hampir semua organisasi berita kini memakai AI. Untuk transkripsi, penyuntingan, pengemasan, analisis data, bahkan membantu peliputan. 97 persen responden menganggap AI penting untuk operasional newsroom.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Masalahnya, dunia luar juga kebanjiran AI—tanpa etika, tanpa redaktur, tanpa rasa malu. Laporan ini menyebut fenomena AI slop: konten massal, dangkal, murah, dan berisik. Situs palsu bermunculan. Video deepfake ikut pemilu. Hoaks tampil dengan wajah realistis.

Ironisnya, ketika publik makin bingung mana yang benar, mereka tidak otomatis kembali percaya pada media. Sebagian malah bertanya ke chatbot lagi. Lingkaran setan yang elegan.

Media Dipaksa Kembali Jadi Manusia

Di tengah semua ini, satu strategi terasa masuk akal: berhenti bersaing dengan mesin di medan yang salah.

Reuters Institute mencatat pergeseran besar strategi redaksi. Media mulai mengurangi: berita umum, konten layanan, artikel evergreen yang mudah diringkas AI.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Sebaliknya, mereka menambah investasi pada: liputan lapangan, investigasi, analisis kontekstual, kisah manusia, opini yang jelas sikapnya. Pesannya sederhana tapi menohok: kalau bisa dirangkum jadi tiga bullet point, itu bukan masa depan jurnalisme.

Jurnalis Diminta Jadi Kreator (Dengan Segala Risikonya)

Ancaman berikutnya datang bukan dari mesin, tapi dari manusia yang lebih luwes bermain algoritma: kreator.

Tujuh dari sepuluh pimpinan media khawatir kreator merebut perhatian audiens. Empat dari sepuluh takut kehilangan jurnalis terbaik mereka—yang memilih independen, lebih bebas, dan sering kali lebih makmur.

Respons media? Adaptasi cepat. 76 persen akan mendorong jurnalisnya bertingkah lebih seperti kreator: tampil, personal, punya suara, punya wajah. Media bermitra dengan kreator, merekrut mereka, bahkan membangun studio kreator sendiri .

Tentu ada risiko. Membesarkan personal brand jurnalis berarti membuka pintu keluar bagi mereka. Tapi tidak melakukan apa-apa jauh lebih berbahaya.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Related Stories

spot_img

Discover

Hiliwatu, Ubud

Tentang Bukit, Batu, dan Keheningan yang Tidak Kosong Ubud tidak pernah benar-benar sunyi. Ia hanya...

Eri Maldives Kembali Dibuka: Eco-Chic Tanpa Basa-Basi, Mewah Tanpa...

Barefoot luxury, tapi dengan isi. Bukan sekadar liburan—ini soal cara hidup. Maladewa tak pernah kekurangan...

Hennessy Menyambut Tahun Kuda dengan Koleksi Edisi Terbatas yang...

Ada merek yang merayakan Tahun Baru Imlek sekadar dengan mengganti kemasan. Ada pula yang...

Musim Baru di Amanpulo

Ketika Angin Amihan Kembali, dan Gaya Hidup Bergerak Lebih Tenang Ada tempat yang tak perlu...

Tempat Nongkrong Baru Buat Orang yang Nggak Cuma Mau...

Seminyak itu keras. Panas, cepat, penuh distraksi. Kalau lo ke sini cuma buat tidur...

KLEO Seminyak: Ruang Sosial Baru di Jantung Seminyak

Di Seminyak, hotel tak lagi sekadar tempat singgah. Ia menjadi ruang hidup—tempat ide, tubuh,...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here