Seni Merayakan Masa Lalu Tanpa Terjebak di Dalamnya
Ada dua jenis nostalgia: yang murahan dan yang berkelas. “Vintage Sounds” dari ArtSwara jelas masuk kategori kedua. Selasa malam (17/2/2026) di Ciputra Artpreneur, Jakarta, memori tentang era 80–90an tidak diperlakukan sebagai barang antik yang dipajang di etalase. Ia dipoles, diberi konteks baru, dan dipresentasikan dengan disiplin artistik yang jarang kita lihat dalam konser bertema nostalgia.
Ini bukan pesta karaoke massal. Ini kurasi.
Big Band, Tailoring yang Tepat untuk Lagu-Lagu Lama
Jika musik adalah busana, maka aransemen big band adalah setelan tailored—rapi, presisi, dan membuat yang lama terlihat kembali mahal.
Behind The Stage: Bisnis Gila Dunia Showbiz Musik Indonesia

Di tangan Tohpati dan Tohpati Orchestra, lagu-lagu seperti “Selamat Datang Cinta”, “Asmaraku Asmaramu”, hingga “Cinta dan Damai” terdengar bukan sekadar dihidupkan kembali, tetapi ditafsir ulang dengan kedewasaan musikal.
PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital
Brass section yang tegas. Groove yang matang. Dinamika yang terkontrol. Tidak ada yang berlebihan, dan justru di situlah letak kemewahannya. Karena elegansi selalu tahu kapan harus berhenti.
Duo 90an yang Tidak Kehilangan Timing
Kemunculan Indy Barends dan Indra Bekti sebagai MC adalah keputusan yang cerdas. Bukan sekadar gimmick nostalgia, tetapi elemen dramaturgi.

Humor mereka terasa organik—tidak mencoba menjadi relevan untuk Gen Z, tetapi juga tidak terdengar usang. Mereka seperti pria yang tahu bahwa gaya terbaik adalah menjadi diri sendiri, dengan percaya diri yang tidak berisik. Dan penonton menyambutnya dengan tawa yang tulus.
The Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

