Dari Energi “Alam Maya” hingga Keheningan untuk Titiek Puspa
Pertunjukan dibuka dengan “Alam Maya” milik The Kids Brother—lagu yang langsung mengubah auditorium menjadi ruang kolektif penuh energi. Ada yang berdiri, ada yang bertepuk tangan, ada yang bernyanyi sambil tersenyum seperti baru menemukan kembali potongan masa mudanya.
Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine



Namun malam itu juga memberi ruang untuk hening. Tribute untuk Titiek Puspa menghadirkan momen reflektif yang jarang ditemukan dalam konser berskala besar. Lagu “Cinta” dibawakan dengan penghayatan yang nyaris intim—mengingatkan kita bahwa di balik glamor industri, selalu ada sosok-sosok yang membangun fondasinya.
Elegansi bukan hanya tentang kemegahan. Ia juga tentang rasa hormat.
Ketika Rap Bertemu Orkestra
Kehadiran Iwa K adalah pengingat bahwa era 90an tidak hanya tentang pop romantik. Rap, energi urban, dan keberanian bereksperimen juga bagian dari arsip budaya kita.
Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto
Kolaborasi lintas genre malam itu terasa seperti percakapan antargenerasi—rap yang berani berdiri sejajar dengan orkestra, bukan sekadar menumpang lewat. Dan itu terasa modern.
Sebuah Pernyataan, Bukan Sekadar Pertunjukan
Di bawah visi Maera sebagai produser eksekutif, “Vintage Sounds” lebih dari sekadar konser tematik. Ia adalah pernyataan bahwa musik Indonesia era 80–90an pantas mendapatkan perlakuan premium. Bahwa kita tidak harus selalu menoleh ke luar negeri untuk menemukan kemegahan produksi.
Industri pertunjukan Indonesia seringkali terjebak antara dua ekstrem: terlalu sederhana atau terlalu berisik. Malam itu, ArtSwara memilih jalan tengah yang presisi—produksi megah, tetapi tetap terkurasi.
Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

