Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob
AI sekarang bukan lagi “teknologi masa depan”. Ia sudah duduk manis di meja kerja kita. Ikut meeting. Bantu bikin outline. Merangkum laporan 60 halaman jadi 6 poin. Bahkan kadang lebih rapi daripada notulen manusia yang hadir sejak awal.
Kerjaan yang dulu makan waktu dua hari, sekarang selesai dua jam. Pertanyaannya sederhana tapi mengganggu: kalau semua bisa dikerjakan AI, kita masih perlu berpikir?
Cuan dari Rumah: 5 Bisnis Digital yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini
Belum lama ini, sebuah perusahaan konsultan global tersandung masalah hukum karena hasil pekerjaannya ternyata diolah AI tanpa proses profesional yang memadai. Bukan soal pakai AI-nya. Tapi soal tanggung jawab berpikir yang ditinggalkan.
Di sinilah garisnya mulai terlihat. AI bisa mengolah data. Tapi ia tidak punya reputasi. AI bisa menyusun argumen. Tapi ia tidak punya integritas. AI bisa menyajikan analisis. Tapi ia tidak hadir saat klien bertanya, “Konteksnya apa?”
Bagi konsultan, akademisi, penulis, analis—mereka yang hidup dari kualitas pikirannya—nilai bukan hanya ada pada output, tapi pada proses mental di belakangnya. Kredibilitas lahir dari kemampuan membaca nuansa, menimbang konteks, dan menyampaikan pemikiran secara utuh. Output tanpa kedalaman itu seperti kopi instan: cepat, wangi, tapi tipis.
Seri Digital: Algoritma Bukan Musuhmu
Kita Terlalu Cepat, Padahal Belum Tentu Tepat
Penulis Amerika, Fran Lebowitz, pernah berkata: sebelum berbicara, seseorang perlu berpikir. Sebelum berpikir, ia perlu membaca. Kalimat sederhana. Tapi di era scrolling tanpa henti, terasa radikal.
Hari ini, opini lebih cepat datang daripada data. Data lebih cepat datang daripada proses belajar. Kita terbiasa bereaksi, bukan merefleksi. Memberi penilaian dalam hitungan detik, seolah-olah itulah berpikir. Padahal sering kali itu cuma refleks.
Rahasia Main Threads: Modal Jempol, Panen Rupiah

