Ada masa ketika liburan mewah hanya berarti satu hal: kamar hotel yang luas, kolam renang infinity yang dramatis, dan cocktail yang datang tepat saat matahari tenggelam. Indah, tentu. Tapi dunia perjalanan kini berubah. Wisatawan modern—terutama mereka yang sudah sering bepergian—tidak lagi sekadar mencari tempat indah untuk berfoto. Mereka ingin merasakan sebuah tempat secara utuh.
Di sinilah program Good Travel dari Marriott International mengambil peran. Inisiatif ini mengajak para tamu untuk tidak sekadar berkunjung, tetapi terhubung dengan budaya lokal, komunitas, dan lingkungan. Di Indonesia sendiri, program ini hadir dengan skala yang cukup impresif: 20 pengalaman berbeda di 15 hotel yang tersebar di tiga destinasi utama.
Konsepnya sederhana, namun kuat: perjalanan yang meninggalkan kesan—bukan hanya bagi tamu, tetapi juga bagi tempat yang mereka kunjungi.
Ketika Perjalanan Memiliki Makna
Bagi industri hospitality global, tren perjalanan bermakna bukan sekadar jargon pemasaran. Ini adalah respons terhadap perubahan cara orang melihat dunia.
Menurut John Toomey, Chief Commercial Officer Asia Pacific (excluding China) di Marriott International, wisatawan masa kini ingin menjelajah lebih dalam dan memahami karakter autentik dari sebuah destinasi. Program Good Travel dirancang untuk menjembatani keinginan itu—menghubungkan para tamu dengan masyarakat lokal sambil memberi dampak positif bagi lingkungan dan komunitas setempat.
Indonesia menjadi salah satu panggung utama dari konsep ini. Negara ini menempati peringkat kedua di kawasan Asia Pasifik dalam jumlah pengalaman Good Travel dan properti yang berpartisipasi, sebuah indikator bahwa permintaan akan perjalanan yang lebih bermakna terus meningkat.
Dari total 20 pengalaman yang ditawarkan, 13 berfokus pada komunitas dan pelestarian budaya, sementara tujuh lainnya berfokus pada inisiatif lingkungan. Kombinasi yang mencerminkan kekayaan Indonesia—baik secara budaya maupun ekologis.
Hidup Sehari sebagai Orang Bali
Salah satu pengalaman paling menarik hadir di Sthala Ubud, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali. Alih-alih sekadar menikmati pemandangan sawah dari balkon hotel, para tamu diajak untuk merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.
Program ini membawa tamu mengunjungi rumah tradisional penduduk setempat, mengenal filosofi keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas yang menjadi inti budaya Bali. Para tamu bahkan dapat belajar membuat sesajen—ritual sederhana yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Hindu Bali.
Pengalaman ini juga berlanjut ke dapur. Para peserta diajak memahami tradisi memasak khas Bali, mulai dari pemilihan bahan lokal hingga teknik memasak yang diwariskan turun-temurun. Tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang praktik kuliner yang berkelanjutan.
Warisan Budaya yang Hidup
Budaya Bali sendiri kaya dengan detail dan simbolisme, sesuatu yang coba diangkat oleh beberapa hotel dalam program ini.
Di Four Points by Sheraton Bali, Kuta, misalnya, para tamu diperkenalkan pada Wayang Ental, bentuk wayang yang unik karena dibuat dari daun palem. Dalam sesi interaktif, para peserta belajar bagaimana bahan sederhana tersebut diolah menjadi boneka tradisional yang sarat makna.
Sementara itu di The Ritz-Carlton, Bali, para tamu dapat mengikuti pengalaman membuat Canang Sari, persembahan harian yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat Bali. Aktivitas yang tampak sederhana ini ternyata menyimpan filosofi mendalam tentang keseimbangan dan harmoni hidup.
Tradisi lain yang tak kalah menarik hadir melalui ritual Boreh di Sheraton Bali Kuta Resort—sebuah praktik perawatan tubuh tradisional berbasis ramuan herbal yang telah digunakan masyarakat Bali selama berabad-abad.
Dari Kompos Hingga Konservasi Laut
Jika budaya menjadi satu sisi dari perjalanan bermakna, lingkungan menjadi sisi lainnya. Di The Westin Resort Nusa Dua, Bali, para tamu dapat berpartisipasi dalam program edukasi yang mengajarkan cara mengubah limbah organik menjadi kompos yang kaya nutrisi. Program ini tidak hanya bertujuan mengurangi limbah, tetapi juga memberdayakan generasi muda di komunitas sekitar melalui edukasi keberlanjutan.
Sementara itu, pengalaman berbeda hadir di pantai Bali melalui Courtyard by Marriott Bali Seminyak Resort. Para tamu diajak terlibat langsung dalam kegiatan pembersihan pantai yang dipandu oleh tim hotel, sekaligus mempelajari dampak serius polusi plastik terhadap ekosistem laut.
Bagi mereka yang ingin melangkah lebih jauh, Renaissance Bali Uluwatu Resort & Spa menawarkan pengalaman menanam karang bersama para ahli konservasi laut. Aktivitas ini memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga terumbu karang sebagai habitat bagi berbagai spesies laut.
Kuliner Tradisional dengan Perspektif Baru
Tak lengkap rasanya membahas perjalanan tanpa membicarakan makanan. Di The Westin Jakarta, para tamu dapat mengikuti sesi eksplorasi jamu, minuman herbal tradisional Indonesia yang telah menjadi bagian dari budaya Nusantara selama ratusan tahun. Melalui sesi pencicipan yang dikurasi, para tamu diajak memahami sejarah dan makna dari minuman tradisional ini.
Sementara itu, pendekatan yang lebih modern hadir di The St. Regis Jakarta melalui pengalaman zero-waste mixology. Dalam sesi ini, para bartender menunjukkan bagaimana bahan-bahan yang biasanya dianggap sisa—seperti buah atau potongan kue—dapat diolah menjadi cocktail yang unik dan berkelas. Konsepnya sederhana: kreativitas dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan.
Dari Pasar Tradisional hingga Gelas Bandrek
Eksplorasi kuliner juga berlanjut di berbagai destinasi lain. Di The Laguna, a Luxury Collection Resort & Spa, Nusa Dua, Bali, tamu dapat mengikuti perjalanan kuliner yang dimulai dari pasar tradisional hingga hidangan yang disiapkan secara khusus oleh chef hotel.
Pengalaman ini memperlihatkan bagaimana bahan musiman dan produk lokal dapat mendukung ekonomi masyarakat sekaligus menciptakan gastronomi yang lebih berkelanjutan.
Sementara itu di Sumatra Utara, JW Marriott Hotel Medan menghadirkan pengalaman yang lebih lokal lagi: eksplorasi sejarah Bandrek, minuman rempah khas daerah tersebut yang dikenal menghangatkan tubuh sekaligus menyimpan cerita panjang tentang tradisi kuliner masyarakat setempat.
Masa Depan Perjalanan
Apa yang ditawarkan program Good Travel sebenarnya mencerminkan perubahan besar dalam dunia perjalanan. Kini, kemewahan tidak lagi hanya diukur dari jumlah thread count pada seprai atau tinggi lantai kamar hotel. Ia juga diukur dari kedalaman pengalaman—dari seberapa banyak kita belajar tentang sebuah tempat, dan seberapa besar kontribusi yang kita tinggalkan.
Melalui 20 pengalaman yang tersebar di berbagai hotel di Indonesia, Marriott Bonvoy mencoba membuktikan satu hal sederhana: perjalanan terbaik bukan hanya tentang melihat dunia. Tetapi juga tentang memahami dan menjaganya.

