Ubud selalu punya cara sendiri untuk merayakan sesuatu—lebih sunyi, lebih dalam, dan seringkali, lebih berkelas. Tahun ini, Paskah tidak hadir dalam bentuk ham panggang atau telur cokelat yang bisa ditebak. Di Mozaic Restaurant Gastronomique, Paskah justru dibongkar, lalu dirakit ulang menjadi pengalaman makan yang jauh lebih personal.
Di balik ide ini ada Blake Thornley, sosok yang belakangan semakin terlihat percaya diri mendorong Mozaic keluar dari zona aman fine dining konvensional. Lewat Easter, Reimagined, ia tidak mencoba “menghormati tradisi” dengan cara yang klise. Ia memilih untuk mempertanyakannya.
PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital
Hasilnya? Sebuah makan malam tujuh hidangan yang tidak bermain di wilayah nostalgia, tapi di wilayah interpretasi.

Dari Redaksi ke Algoritma: Media Kehilangan Kuasa di Era Digital, Bagaimana Merebutnya?
Alih-alih menyajikan menu Paskah klasik, dapur Mozaic menerjemahkan tema besar seperti renewal, musim, dan perayaan ke dalam bahasa yang lebih modern—kadang subtil, kadang mengejutkan. Teknik global tetap jadi tulang punggung, tapi bahan-bahan Indonesia memberi jiwa. Ini bukan fusion yang gimmicky; ini dialog yang matang.
Chef Blake sendiri menyebut Paskah sebagai soal perspektif, bukan sekadar perayaan. Dan itu terasa di setiap lapisan pengalaman. Tidak ada yang terlalu “ramai”, tidak ada yang berusaha terlalu keras untuk mengesankan. Semuanya mengalir, presisi, dan—yang paling penting—punya cerita.
Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

