CURE Bali Tidak Berusaha Mengesankan—Justru Itu Kelebihannya

Ada restoran yang datang dengan suara bising. Ada juga yang datang dengan niat.

CURE Bali jelas masuk kategori kedua. Berlokasi di dalam Regent Bali Canggu, ia tidak mengejar hiruk-pikuk kafe Canggu atau euforia restoran tepi pantai yang serba “show”. Sebaliknya, ia bermain di level yang lebih sunyi—presisi, kontrol, dan kepercayaan diri yang tidak butuh tepuk tangan.

Ini adalah ekspansi dari CURE milik Andrew Walsh—yang sudah mengantongi bintang Michelin Guide dan masuk radar World’s 50 Best Discovery. Tapi lupakan dulu soal penghargaan. Karena yang terjadi di Bali bukan sekadar ekspor reputasi. Ini soal penerjemahan.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Disiplin Eropa, Insting Asia

Masakan Walsh selalu hidup di antara dua dunia: kontrol dan rasa ingin tahu. Di CURE Bali, tarik-ulur itu terasa lebih tajam.

Fondasinya jelas Eropa—teknik klasik, detail yang hampir obsesif, standar yang tinggi. Tapi jiwanya Asia. Bukan fusion yang berisik, melainkan pendekatan yang lebih halus: rempah yang muncul pelan, asam yang tajam tapi bersih, rasa yang berkembang, bukan langsung meledak.

Ambil contoh giant river prawn. Dipanggang hingga nyaris pahit, lalu “ditarik kembali” oleh tom yum relish yang segar dan tajam. Atau Hokkaido scallop yang tipis dan lembut, berenang dalam reinterpretasi mangut—beraroma asap, santan, tapi tetap ringan. Ini bukan tipe hidangan yang bikin Anda langsung terpukau di suapan pertama. Tapi di suapan ketiga? Anda mulai paham. Dan di situlah kekuatannya.

Dari Redaksi ke Algoritma: Media Kehilangan Kuasa di Era Digital, Bagaimana Merebutnya?

Anti-Scene yang Justru Jadi Scene

Desain ruangnya mengikuti filosofi yang sama. Anda masuk lewat lorong gelap—hampir seperti transisi mental—sebelum terbuka ke pemandangan garis pantai Canggu. Bukan dramatis, tapi disengaja.

Interiornya minimal. Garis bersih, pencahayaan terkontrol, tanpa distraksi visual. Meja jadi pusat, tapi bahkan itu terasa understatement. Tidak ada yang “teriak” minta difoto. Ironisnya, justru itu yang membuatnya menarik.

Di tengah Canggu yang haus perhatian, kesederhanaan terasa seperti perlawanan.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Related Stories

spot_img

Discover

Dapur Masa Depan Ada di Jakarta

Saat Teknologi Bertemu Ambisi Kuliner Indonesia Di kota yang tak pernah benar-benar tidur, dapur kini...

Mengelola Atasan

Bukan Tentang Menyenangkan, Tapi Membuat Mereka Lebih Tajam Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob “People don’t...

Strategi Baru Centara: Mengubah Hotel Jadi “Experience Platform” di...

Industri perhotelan global sedang bergeser. Ketika kamar mewah dan fasilitas premium menjadi standar, diferensiasi...

Kompas yang Tak Pernah Bergerak

Di banyak organisasi, “visi” sering lebih mirip dekorasi daripada navigasi. Ia terpajang rapi di...

POCO X8 Pro Series: Main Cepat, Tampil Tajam

Ada dua tipe orang di dunia smartphone hari ini: mereka yang sekadar pakai, dan...

Akhir Pekan Paling Nikmat di Alila Seminyak

Akhir Pekan Paling Nikmat di Alila Seminyak Kalau ada cara yang lebih baik untuk merayakan...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here