Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jako
Di dunia pria modern, ada dua hal yang sering diburu: performa dan posisi. Jabatan naik, bisnis tumbuh, koneksi LinkedIn bertambah ribuan. Tapi ada satu pertanyaan yang lebih sunyi—siapa yang benar-benar akan angkat telepon ketika nama Anda muncul di layar mereka?
Itulah ujian sesungguhnya dari kecerdasan relasi.
PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital
Kita hidup di era di mana networking night lebih ramai daripada makan malam keluarga. Grup WhatsApp bertambah, kalender makin padat, tapi relasi terasa makin tipis. Semua orang terkoneksi, tapi tak semua benar-benar terhubung. Istilah “ordal” jadi candaan sehari-hari, seolah akses adalah segalanya. Padahal, akses tanpa kepercayaan cuma tiket masuk tanpa kursi.
Banyak pria sukses secara intelektual dan emosional, tapi tetap terasa “dingin” di ruang rapat. Pintar? Jelas. Empatik? Mungkin. Tapi aman? Belum tentu.
Di sinilah muncul satu jenis kecerdasan yang jarang dibahas di ruang-ruang strategi: Relational Intelligence atau RQ—kecerdasan relasi.
Bukan Sekadar EQ
Selama ini kita akrab dengan IQ dan EQ. IQ membantu kita berpikir tajam. EQ membantu kita mengenali dan mengelola emosi. Namun RQ bekerja di ruang di antara manusia—di celah percakapan, di jeda sebelum respons, di atmosfer yang tak terlihat tapi terasa.
The Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal
Psikoterapis kenamaan seperti Esther Perel menyebut kecerdasan relasi sebagai kemampuan untuk terhubung, membangun kepercayaan, dan mengelola hubungan interpersonal secara matang. Bukan soal menjadi menyenangkan, melainkan menjadi dapat diandalkan.
Karena faktanya, banyak rapat gagal bukan karena kurang data, tapi karena kurang rasa aman. Banyak konflik berlarut-larut bukan karena beda visi, tapi karena orang merasa tak didengar.
Otak manusia bekerja optimal saat merasa aman. Dalam kondisi aman, kita lebih kreatif, lebih terbuka, lebih rasional. Sebaliknya, ketika relasi terasa mengancam, kita defensif. Cepat bereaksi. Mudah berasumsi. Dan pria defensif jarang jadi pemimpin yang visioner.
Mesin Uang AliExpress: Cara Mencetak Dolar Lewat Dropshipping

