Ekonomi Indonesia 2025: Krisis Double Trouble yang Bikin Was-Was

Oleh Burhan Abe

Pertumbuhan ekonomi kita di awal 2025 ini mirip orang sakit yang susah bangun tidur – baru merangkak di angka 4,8-4,9%, terendah sejak pandemi. Padahal biasanya Ramadan dan Lebaran jadi penyelamat, sekarang malah bikin khawatir. Rupanya, kita sedang dihantam badai dari dua arah sekaligus.

Demikian laporan Brief Report, Quarterly Economic Review 2025 “Pukulan Ganda untuk Ekonomi RI”, yang dikeluarkan CORE Indonesia.

Dari luar negeri, Donald Trump kembali jadi Presiden AS dan langsung bikin ulah. Tarif impor seenaknya naik-turun kayak rollercoaster, bikin pasar global gemetar. Ekspor kita ke China – yang biasanya jadi andalan – langsung terjun 3%. Harga batu bara dan nikel ikut-ikutan anjlok, padahal ini sumber devisa penting kita.

Di dalam negeri, ceritanya lebih miris lagi. Mall-mall sepi saat Ramadan, padahal biasanya rame. Toko-toko ritel kelimpungan karena penjualan makanan dan minuman cuma naik 1,3%, jauh dari tahun sebelumnya. Yang lebih ngeri, transaksi kartu debit malah minus! Bahkan tradisi mudik Lebaran pun ikut merosot – jumlah pemudik turun 24%, tanda jelas dompet masyarakat makin tipis.

Pemerintah sendiri sedang sibuk mengencangkan ikat pinggang. Belanja modal dipangkas sampai 96%, bikin proyek infrastruktur terbengkalai. Tapi anehnya, subsidi listrik malah membengkak Rp 2 triliun. Defisit APBN pun melebar ke Rp 104 triliun – angka yang bikin dahi berkerut.

Kalau begini terus, pertumbuhan di bawah 4,6% bukan mimpi lagi. PHK yang sudah mulai terjadi di berbagai sektor bisa makin menjadi-jadi. Bahkan kata “resesi” yang menakutkan itu mulai terdengar bisik-bisiknya.

Tapi bukan berarti kita tak bisa berbuat apa-apa. Pertama, selamatkan daya beli masyarakat dengan bantuan tepat sasaran. Kedua, berikan stimulus untuk industri yang tertekan. Ketiga, alokasikan anggaran dengan lebih cerdas – jangan asal potong, tapi fokus pada yang benar-benar mendorong pertumbuhan.

2025 baru mulai, tapi tantangannya sudah nyata. Pilihannya sekarang: bertindak cepat atau menunggu badai ekonomi yang lebih besar datang menghantam. Kita semua harus waspada dan bersiap!

Sumber data: Analisis CORE Indonesia. Buat yang pengin laporan lengkap, bisa cek di [website resmi CORE]. Atau hubungi +62 811-820-2120.

PS: Ngeri banget kan? Yuk kita pantau terus perkembangan ekonomi biar nggak kecolongan! 

Related Stories

spot_img

Discover

Bekerja dari Bali, Tapi Bukan Liburan Biasa

Ketika villa privat jadi kantor, kolam renang jadi “meeting room”, dan hidup terasa sedikit...

Clifftop Contemplation: Umana Bali Unveils a More Meaningful Island...

Di ujung selatan Bali yang dramatis—di mana tebing kapur jatuh tegak ke Samudra Hindia—Umana...

Whisky, Cerutu, dan Sedikit Dosa Kecil di Tengah Jakarta

Ada dua jenis orang di dunia ini: yang minum untuk lupa, dan yang minum...

A New Chapter at Amangiri

Carved by Light and Silence Di dunia yang semakin bising oleh definisi “luxury”, Amangiri tetap...

When Borneo Calls

Escape Tropis yang Siap Jadi Bucket List Baru Asia Tenggara Kalau selama ini Bali terlalu...

CURE Bali Tidak Berusaha Mengesankan—Justru Itu Kelebihannya

Ada restoran yang datang dengan suara bising. Ada juga yang datang dengan niat. CURE Bali...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here