Pelajaran dari Steve Jobs: Jangan Lawan Banteng
Steve Jobs sering digambarkan sebagai jenius keras kepala. Benar. Tapi Apple justru tumbuh karena orang-orang di sekitarnya tahu satu seni langka: cara mempersuasi orang yang tidak suka dipersuasi.
Jobs bisa memotong ide, menertawakan, bahkan menutup diskusi sepihak. Banyak orang menyerah. Yang bertahan? Mereka tidak melawan. Mereka membaca pola. Tahu kapan diam, kapan bertanya, kapan bertahan.
Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern
Hasilnya legendaris. CEO Corning Glass, Wendell Weeks, tak pernah mendebat Jobs secara frontal. Ia mengajukan pertanyaan sederhana, membiarkan Jobs menyadari sendiri batas pemahamannya. Ending-nya? Pesan dari Jobs yang dibingkai di kantor Weeks: “We couldn’t have done it without you.”
Persuasi tanpa adu otot.
Empat Tipe Sulit Dipersuasi (dan Cara Menghadapinya)
1. Si Paling Tahu
Percaya diri berlebihan, cepat menyimpulkan, hobi memotong. Jangan dikoreksi. Ajak berpikir lewat pertanyaan terbuka: “Bagaimana kalau…?” atau “Apakah mungkin…?” Biarkan ia sampai sendiri pada kesimpulan.
2. Penjaga Konsistensi
Menganggap perubahan sebagai ancaman harga diri. Solusinya: jangan ubah prinsipnya—ubah konteksnya. Tekankan kesinambungan, bukan koreksi.
Website: Bukan Lagi Opsi, Tapi Kebutuhan
3. Si Narsistik
Dominan, visioner, tapi rapuh terhadap kritik. Angkat identitas kuatnya terlebih dulu. Ego yang aman lebih siap belajar.
4. Si Pecinta Debat
Hidup dari gesekan. Hormati dengan data, konsistensi, dan keberanian mengakui kelemahan argumen. Persuasi di sini maraton, bukan sprint.
Persuasi Bukan Trik, Tapi Gaya Hidup
Kesalahan terbesar adalah menganggap persuasi sebagai jurus instan. Faktanya, persuasi dibangun jauh sebelum rapat dimulai. Dari cara mendengar tanpa menyela. Cara menerima kritik tanpa defensif. Cara mengakui keterbatasan tanpa kehilangan wibawa.
Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Jakarta

