Organisasi bekerja dengan prinsip serupa. Kompetisi yang terjaga menciptakan fokus, kreativitas, dan inovasi. Tapi jika predatornya kebanyakan, stres berubah patologis. Tim jadi tegang. Produktivitas turun.
Persaingan seharusnya menguji ketahanan dan kepemimpinan, bukan menciptakan trauma kolektif.
Harga Mahal dari Menang Sendiri
Ahli biologi William Muir pernah mencoba menciptakan kawanan ayam paling produktif. Ia memilih ayam-ayam “bintang” untuk satu kelompok, dan ayam dengan kinerja kelompok terbaik untuk kelompok lain.
Website: Bukan Lagi Opsi, Tapi Kebutuhan
Hasilnya brutal. Di kelompok ayam super, hanya tiga yang bertahan hidup. Sisanya saling mencabuti bulu dan mati. Produktivitas pun anjlok. Ini dikenal sebagai super-chicken model: performa individu tinggi karena menghalangi yang lain makan.
Kedengarannya familiar?
Di kantor, kita sering melihat versi manusia dari ayam super ini. Satu orang bersinar, timnya meredup. Sebaliknya, kelompok yang saling membantu—survival of the kindest—justru menang konsisten.
Cuan dari Rumah: 5 Bisnis Digital yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini
Kebaikan di sini bukan basa-basi. Tapi berbagi informasi, berbagi kredit, dan saling memperingatkan risiko. Produktivitas kolektif lahir dari itu.
Ketika Target Menggerogoti Etika
Persaingan juga punya sisi gelap lain: penyimpangan etis. Organisasi yang bermain dengan loss framing—kalah berarti dihukum—mendorong orang mengambil jalan pintas. Manipulasi data. Politik kantor. Sabotase halus.
Sebaliknya, gain framing—menang diberi ruang dan penghargaan—membuka jalur kreativitas. Ini soal excitement vs anxiety. Yang satu melahirkan inovasi. Yang lain melahirkan kecemasan.
Dan jangan lupakan harga sosialnya. Ketika kantor berubah jadi turnamen, kepercayaan jadi barang langka. Informasi ditahan. Kolaborasi ditunda. Semua sibuk menghitung kredit.
Banyak talenta terbaik pergi bukan karena konflik terbuka, tapi karena hilangnya rasa aman untuk bekerja.
Seri Digital: Algoritma Bukan Musuhmu

