Ketika Warisan Rasa Tak Perlu Berteriak
Ada jenis kemewahan yang tak merasa perlu menjelaskan dirinya sendiri. Di NIHI Sumba, ia bisa hadir dalam bentuk paling sederhana: semangkuk soto yang rasanya tak berubah sejak puluhan tahun lalu.
Lewat Hawker Legends, NIHI Sumba menghadirkan sebuah seri kuliner terkurasi yang mengundang para penjaga street food legendaris Indonesia ke dalam ruang resor. Bukan untuk memoles, apalagi mengangkatnya menjadi “fine dining”, tetapi untuk membiarkan hidangan-hidangan ini berdiri di atas reputasinya sendiri—jujur, konsisten, dan berakar.
The Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal
Hawker Legends bukan perayaan sensasi. Ini adalah soal ketahanan. Tentang resep yang tak tunduk pada zaman, tentang teknik yang diwariskan tanpa banyak catatan, dan tentang rasa yang bertahan karena dipercaya, bukan karena dipasarkan.
Edisi pembuka, yang berlangsung pada 9–11 April, menghadirkan Soto Betawi H. Ma’ruf—nama yang tak membutuhkan pengantar panjang bagi siapa pun yang tumbuh bersama Jakarta. Berdiri sejak 1940, rumah makan ini hidup bukan dari inovasi agresif, melainkan dari disiplin menjaga hal-hal yang sudah benar sejak awal. Kuahnya tetap sama: santan yang kaya, diseimbangkan susu sapi, gurih tanpa pamer.
PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital


Kini diteruskan oleh Mufti Ma’ruf, generasi ketiga keluarga, Soto Betawi H. Ma’ruf dijaga seperti hubungan jangka panjang. Pelanggan datang kembali bukan karena penasaran, melainkan karena yakin. Mereka datang sebelum meninggalkan kota, setelah lama pergi, atau saat ingin mengingat sesuatu yang tak lagi mereka miliki. Di titik itu, soto bukan lagi sekadar makanan. Ia menjadi semacam ritual.
Mesin Uang AliExpress: Cara Mencetak Dolar Lewat Dropshipping

