Di tengah rimbunnya lembah dan aroma tanah basah khas Ubud, ada satu ritual yang selalu berhasil membuat waktu melambat: makan malam yang benar-benar dirancang dengan niat. Di sinilah Mozaic Restaurant Gastronomique memainkan perannya—bukan sekadar restoran, melainkan panggung gastronomi yang selama dua dekade terakhir menjadi salah satu ikon fine dining Indonesia.
Kini, panggung itu membuka tirai baru bernama “Prelude.”
Sebuah pengalaman makan malam empat hidangan yang dirancang sebagai pintu masuk elegan menuju filosofi kuliner Mozaic—tanpa kehilangan sedikit pun presisi yang membuat restoran ini legendaris.
Bali Pocket Guide: Hotels, Culture, Eats and Secret Spots
Di balik dapurnya berdiri Blake Thornley, Head Chef yang kini memimpin evolusi Mozaic. Di tangannya, tradisi gastronomi modern yang memadukan teknik kuliner global dengan kekayaan bahan Indonesia terus berkembang—lebih kontemporer, lebih ekspresif, namun tetap menghormati akar.
“Prelude dibuat untuk tamu yang ingin mengenal Mozaic dalam format yang lebih approachable,” ujar Thornley. “Singkat, tetapi tetap bermakna—sebuah pengantar yang tetap membawa elegansi dan kreativitas yang menjadi identitas dapur kami.”
PR 4.0: Perception Management in Digital Era
Dan seperti namanya, Prelude memang terasa seperti pembukaan sebuah simfoni. Empat hidangan yang disusun dengan cermat menghadirkan presentasi yang halus, lapisan rasa yang kompleks, serta bahan musiman yang dipilih dengan disiplin khas dapur fine dining. Ini bukan sekadar makan malam, tetapi perjalanan singkat yang memberi gambaran bagaimana Mozaic memandang makanan: sebagai bentuk seni yang bisa dinikmati.
Menu ini dirancang oleh Thornley bersama tim kuliner Mozaic sebagai ringkasan dari pendekatan gastronomi mereka—presisi teknik, kreativitas rasa, dan penghormatan pada bahan.

Dengan harga IDR 850.000++ per orang, Prelude menawarkan cara yang relatif lebih santai untuk masuk ke dunia Mozaic—tanpa harus langsung melompat ke tasting menu penuh yang biasanya menjadi ciri khas restoran ini. Dan tentu saja, setting-nya sulit ditandingi.
Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

